Kemenkop UKM Usahakan UMKM Untuk Naik Kelas

Pasardana.id - Kementerian Koperasi (Kemkop) dan UKM berkomitmen mendorong usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk naik kelas. Hal itu diperlukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada tren yang positif di tengah tantangan global yang semakin berat.
Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM, Abdul Kadir Damanik mengatakan UMKM selama ini dianggap paling tahan terhadap resistensi ekonomi sehingga keberadaannya perlu untuk terus dikuatkan.
"Itu diperlukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada tren yang positif di tengah tantangan global yang semakin berat," ujarnya dalam diskusi dengan tema “Menjaring Kemitraan, Perkuat UMKM Naik Kelas” di Jakarta, Selasa (26/11/2019).
Data dari Kemenkop dan UKM yang telah diolah menyatakan bahwa kontribusi UMKM dalam struktur PDB cukup signifikan yaitu 60,34 persen.
Sektor ini juga memberikan ruang bagi penyerapan tenaga kerja nasional hingga 97 persen dan 14,17 persen dari total ekspor. Sementara jumlah UMKM sendiri saat ini mencapai 64,2 juta UMKM dengan total investasi mencapai 58,18 persen.
Abdul mengatakan, potensi sektor UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau PDB nasional terus bertumbuh sangat besar. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pertumbuhan ekonomi tersebut bisa melesat sehingga tidak stagnan di sekitar 5% yaitu dengan mendorong UMKM naik kelas.
Menurutnya, apabila ada UMKM yang naik kelas sekitar 2,5% dari jumlah total maka kenaikan PDB berpotensi mencapai tumbuh Rp 486 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 5,88%. Sementara jika ada 10% UMKM yang naik kelas peluang PDB akan tumbuh sebesar Rp 936 triliun atau setara PDB 6,59%.
Lalu, Abdul Kadir Damanik melanjutkan, jika ada UMKM yang tumbuh besar sebesar 10 persen maka potensi pendapatan negara akan tumbuh sekitar Rp1.872 triliun atau setara pertumbuhan PDB sebesar 8 persen.
“UMKM naik kelas itu penting, sebab persentase UMKM yang naik kelas itu akan menentukan, akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Masalahanya, UMKM kita ini masih banyak yang belum percaya diri,” kata Abdul.
Dijelaskannya, beberapa persoalan yang kerap dihadapi oleh UMKM diantaranya adalah SDM dan Manajemen yang terbatas dan kurang memanfaatkan teknologi dalam hal produksi hingga pemasaran.
Inovasi dari rata-rata UMKM selama ini juga masih minim sehingga bisnis UMKM kerap jalan di tempat. Belum lagi persoalan financial atau modal usaha yang kadang menghambat pelaku UMKM untuk meningkatkan produktifitasnya. Persoalan terakhir yaitu keterbatasan akses pemasaran dan juga penyediaan bahan baku.
Untuk mengatasi berbagai persaolan tersebut, Abdul menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan enam strategi jitu. Pertama, Kemenkop dan UKM komitmen untuk memberikan akses pasar yang lebih luas bagi UMKM sektor produksi atau jasa.
Kedua adalah dengan memberikan dukungan pembiayaan ketika UMKM tidak dapat mengakses pembiayaan melalui perbankan. Ketiga, Kemkop dan UKM juga menjamin akan terus memberikan kemudahan serta kesempatan berusaha.
Strategi keempat yaitu meningkatkan daya siang produk UMKM dengan mendorong UMKM memiliki standar kualitas mutu tertentu. Kelima, pengembangan kapasitas manajemen SDM pelaku UMKM dengan terus melakukan pendampingan baik secara online ataupun offline.
Keenam, Kemkop dan UKM akan terus bersinergi dengan Kementerian dan Lembaga terkait dan stakeholder lainnya agar lima strategi tersebut dapat berjalan sesuai harapan.
“Dari itu (strategi) kita harapkan bisa ada perubahan dimana UMKM bisa menjadi bagian dari global value chain. Kemudian juga bisa tetap melahirkan enterpreneur baru. Itu yang akan kita tuju dalam 5 tahun kedepan,” tandas Abdul.