Berlanjutnya Pelemahan Rupiah Jadi Katalis Naiknya Imbal Hasil SUN Diperdagangan Senin Kemarin

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika menjadi mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan hari Senin, 3 September 2018 kemarin.

“Kenaikan imbal hasil yang terjadi berkisar 2 - 27 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 16 bps, dimana kenaikan imbal hasil terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara,” jelas analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra kepada Pasardana.id, di Jakarta, Selasa (04/9/2018).

Lebih rinci diungkapkan, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan hingga sebesar 27 bps yang didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 60 bps.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan hingga sebesar 16 bps yang didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 70 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami kenaikan hingga sebesar 27 bps yang didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 230 bps.

Menurut I Made, kenaikan imbal hasil yang terjadi pada perdagangan di awal pekan kemarin kembali dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika.

Asal tahu saja, nilai tukar rupiah pada perdagangan kamarin ditutup melemah sebesar 105 pts (0,71%) di level 14815,00 per Dollar Amerika. Bergerak pada kisaran 14729,00 hingga 14821,50 per Dollar Amerika, rupiah mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan.

Kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi sebagaimana yang terjadi di tahun 1998 yang ditandai dengan melemahnya mata uang di negara - negara berkembang, telah mendorong investor untuk melakukan penjualan Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin.

Namun demikian, lanjut I Made, koreksi harga yang terjadi pada perdagangan kemarin belum didukung oleh volume perdagangan yang besar, serta cukup lebarnya selisih harga penawaran beli (bid price) dan harga jual (ask price) mengindikasikan bahwa investor masih menahan diri untuk melakukan transaksi dengan masih mencermati arah pergerakan nilai tukar rupiah. Adanya deflasi di bulan Agustus 2018 tidak cukup kuat menahan koreksi harga Surat Utang Negara di pasar sekunder.

Secara keseluruhan, tutur I Made, koreksi harga yang terjadi pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan, sebesar 9 bps untuk tenor 10 tahun di level 8,25% serta kenaikan sebesar 16 bps masing - masing untuk tenor 5 tahun dan 15 tahun di level 8,06% dan 8,43%. Adapun untuk seri acuan dengan tenor 20 tahun mengalami kenaikan sebesar 20 bps di level 8,81%.

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika tidak banyak mengalami perubahan ditengah liburnya pasar keuangan Amerika Serikat.