Jangan Mengajarkan Anak Hanya Menabung!
By Ryan Filbert
@RyanFilbert
Menabung adalah sebuah kegiatan yang sudah akrab ditelinga orang di Indonesia. Mengapa bisa akrab? Karena menabung sudah diperkenalkan semenjak seorang anak masuk sekolah.
Setidaknya terdapat 2 pribahasa yang akrab dengan menabung. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Dan Hemat pangkal kaya.
Dengan menabung secara sedikit demi sedikit maka kita diajarkan untuk bisa kaya akibat menyisihkan sebagian demi sebagian uang kita, dan dengan berhemat lalu menabung maka kita menjadi kaya.
Namun pertanyaan yang paling menarik adalah Apakah menabung benar bisa menjadi kaya?
Bila saat ini kita berencana untuk menikah di 5 tahun mendatang, maka mari kita behitung berapa besar kita harus menabung. Andaikan biaya menikah adalah sebesar Rp 100.000.000, maka membutuhkan dana sebesar Rp 1.666.666 untuk ditabungkan setiap bulan selama 5 tahun. Dengan beberapa catatan penting adalah biaya menikah selama 5 tahun tidak mengalami peningkatan, dan sayangnya hal tersebut tidak mungkin, dengan 100 juta di 5 tahun mendatang maka kita akan mendapatkan nilai yang berbeda dengan saat ini.
Bila rata-rata seseorang menikah di usia 27 tahun, maka berapakah pendapatan seorang fresh graduate (usia 22 tahun) harus di tabungkan? Bila gaji seorang fresh graduate adalah Rp 3.500.000 maka hampir 50% dari gajinya harus ditabungkan.
Mungkin kita juga melupakan bahwa menabung di bank akan berbeda dengan menabung di celengan, di celengan uang kita tidak akan bertambah, dan ketika harga barang-barang selalu mengalami kenaikan akibat inflasi maka menabung di bank kita harapkan menambah jumlah tabungan kita.
Di bank kita akan mendapatkan bunga, dimana bunga bank akan membuat uang tabungan kita bertumbuh, mari kita kembali melakukan ilustrasi, berapakah bunga tabungan kita setiap tahun? Bunga deposito di bank saat artikel ini ditulis adalah sebesar 7.5%. Artinya kita akan mendapatkan Rp 75.000 dari setiap 1 juta rupiah kita tabungkan.
Namun, lagi-lagi kita melupakan bahwa menabung dan mendapatkan bunga, maka kita akan dibebankan sebuah pajak yang dikenal dengan pajak pendapatan bunga yang besarannya adalah 20%, maka uang kita akan dipotong dan kita tidak lagi menerima Rp 75.000 namun Rp 60.000.
Mungkin sampai dibagian ini kita juga akan berpikir Tidak ada masalah, toh masih mendapatkan bunga. Dan sekali lagi kita lupa bahwa terdapat kenaikan harga atas barang yang kita beli, berapakah kenaikan harga alias inflasi secara rata-rata di Indonesia dalam 1 tahun? Menurut Biro Pusat Statistik inflasi di Indonesia masih bisa ditekan dibawah 5%, artinya harga barang setiap tahunnya mengalami kenaikan 5%, atau ketika sebuah barang bernilai Rp 1.000.000 maka tahun depan harga barang tersebut akan naik Rp 50.000.
Apakah benar harga barang-barang setiap tahunnya mengalami kenaikan 5%? Apakah lebih besar? Apakah lebih kecil? Jawabannya sangat menyedihkan bahwa disekitar kita kenaikan harga barang dan ajsa mengalami kenaikan lebih tinggi dari 5%.
Artinya bila kenaikan harga barang dan jasa sekalipun sebesar 5%, maka sisa pendapatan bunga kita setelah dikurangi kenaikan inflasi hanya sebesar Rp 10.000 (Rp 60.000 - Rp 50.000).
Inilah sebuah celaka besar yang sedang diajarkan kepada anak-anak kita bahwa budaya menabung mulai tidak relefan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sama seperti budaya menggunakan kaset video untuk menonton sebuah film, hari ini akibat perkembangan teknologi membuat kaset video berbentuk pita sudah tidak relefan dan digantikan dengan teknologi piringan yang semakin hari semakin canggih dan kecil! Mulai dari CD berubah menjadi DVD, dan kini telah menjelma menjadi Blu-Ray.
Budaya menabung yang diajarkan kepada anak-anak perlu mulai digantikan dengan budaya menabung dan berinvestasi.
Dimana berinvestasi memiliki banyak keuntungan dan kelebihan untuk bisa mulai diperkenalkan kepada anak semenjak dini, setidaknya investasi akan serta merta membangun jiwa kewirausahaan seseorang, selain itu berinvestasi membuat seseorang menjadi jauh lebih aktif bukan menjadi orang yang pasif.
Lalu bagaimana mengajarkan investasi pada anak yang baik? Nantikan pada artikel selanjutnya.
Ryan Filbert merupakan praktisi dan inspirator investasi Indonesia. Ryan memulai petualangan dalam investasi dan keuangan semenjak usia 18 tahun. Aneka instrumen dan produk investasi dijalani dan dipraktikkan, mulai dari deposito, obligasi, reksa dana, saham, options, ETF, CFD, forex, bisnis, hingga properti. Semenjak 2012, Ryan mulai menuliskan perjalanan dan pengetahuan praktisnya. Buku-buku yang telah ditulis antara lain:Investasi Saham ala Swing Trader Dunia, Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana, Negative Investment: Kiat Menghindari Kejahatan dalam Dunia Investasi, dan Hidden Profit from The Stock Market, Bandarmology , dan Rich Investor from Growing Investment.
Di tahun 2015 Ryan Filbert menerbitkan 2 judul buku terbarunya berjudul Passive Income Strategy dan Gold Trading Revolution. Ryan Filbert juga sering memberikan edukasi dan seminar baik secara independen maupun bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

