Tembus Rp22,9 Triliun, Penerimaan Bea Cukai di Januari 7,1 Persen dari Target APBN

Foto : Dok. Dirjen Bea dan Cukai

Pasardana.id – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat penerimaan dari kepabeanan dan cukai hingga 31 Januari 2024 sebesar Rp22,9 triliun, atau sekitar 7,1 persen dari target APBN.

Dengan demikian, terjadi penurunan 5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), tetapi pola realisasi masih sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Dirjen Bea dan Cukai, Encep Dudi Ginanjar, dikutip dari laman resmi Dirjen Bea dan Cukai, Rabu (28/2/2024), penerimaan tersebut terdiri atas penerimaan cukai sebesar Rp17,9 triliun, bea masuk Rp3,9 triliun, dan bea keluar sebesar Rp1,2 triliun.

Penerimaan dari cukai sebesar Rp17,9 triliun (7,3 persen dari target APBN), mengalami penurunan sebesar 5,1 persen (yoy) karena perubahan pola pelunasan cukai hasil tembakau yang jatuh tempo pada awal Januari 2024 dialihkan menjadi Desember 2023.

Sementara itu, bea masuk terkumpul sebesar Rp3,9 triliun (6,7 persen dari target APBN), mengalami penurunan sebesar 5,8 persen (yoy) karena faktor penurunan tarif efektif dari 1,48 persen menjadi 1,38 persen, peningkatan utilisasi free trade agreement (FTA) dari 34,7 persen menjadi 35 persen, dan nilai rata-rata kurs USD sebesar Rp15.526.

Sementara itu, bea keluar terkumpul sebesar Rp1,2 triliun (6,6 persen dari target APBN) yang mengalami pertumbuhan sebesar +0,6 persen (yoy), dipengaruhi oleh relaksasi ekspor komoditas tembaga dan penurunan harga produk sawit.

Selain penerimaan, kinerja fasilitas hingga Januari 2024 menunjukkan beberapa hal yang patut diperhatikan. Insentif kepabeanan mencapai Rp2,97 triliun dengan pertumbuhan yang signifikan sebesar +19,9 persen (yoy), didorong oleh pembebasan bea masuk pasal 25 dan 26 antara lain; skema fasilitas penanaman modal sebesar Rp580 miliar, kebutuhan pertahanan dan keamanan sebesar Rp152 miliar, serta pembebasan KITE sebesar Rp81 miliar.

Nilai ekspor kawasan berikat kemudahan impor tujuan ekspor (KB KITE) mengalami pertumbuhan +0,6 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan nilai impor yang mencapai +5,4 persen (yoy).

Pertumbuhan kinerja ekspor KB KITE didorong oleh sektor industri logam dasar yang mencatat pertumbuhan yang signifikan.

Bea Cukai juga menunjukkan kinerja pengawasan yang efektif dalam melindungi masyarakat dan mendukung ekonomi, dengan pertumbuhan jumlah penindakan yang mencapai 40,6 persen pada Januari 2024.

Pengawasan pada narkotika, psikotropika, dan prekursor (NPP) juga meningkat dengan jumlah penindakan yang signifikan sebesar 94 kasus (tumbuh 95,8 persen).

Ia menambahkan, secara keseluruhan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada Februari 2024 melanjutkan tren positif dibanding tahun sebelumnya dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil.

Hingga akhir 31 Januari 2024, realisasi pendapatan negara mencapai Rp215,5 triliun, atau sekitar 7,7 persen dari target APBN.

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp184,2 triliun, yang setara dengan sekitar 5,5 persen dari target APBN.

Dengan demikian, surplus anggaran mencapai Rp31,3 triliun atau sekitar 0,14 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).