TOP GRC Awards 2026 Dorong GRC Korporasi Beralih dari Compliance ke Penciptaan Nilai
Oleh: Harry

Foto : istimewa
Pasardana.id – TOP GRC Awards 2026 kembali digelar untuk mendorong penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance/GRC) di Indonesia.
Memasuki penyelenggaraan ke-8 sejak 2019, ajang tahun ini mengusung tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC.”
Tema tersebut menekankan bahwa keberlanjutan harus dirancang sejak awal dan terintegrasi ke dalam strategi, tata kelola, pengambilan keputusan, manajemen risiko, kepatuhan, proses bisnis, budaya organisasi, hingga pemanfaatan data dan teknologi.
Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2026 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah TOP Business, M. Lutfi Handayani, mengatakan penghargaan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga sarana pembelajaran dan evaluasi bagi peserta.
“Penghargaan merupakan bentuk apresiasi atas capaian. Namun, proses penilaian dan penjurian harus memberikan nilai tambah berupa insight dan agenda improvement,” ujarnya, seperti dilansir dalam siaran pers, Kamis (10/9).
Sementara itu, Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, Dr. Antonius Alijoyo, menegaskan konsep Intelligent GRC bukan sekadar digitalisasi dokumen atau proses GRC.
Pemanfaatan data, teknologi, analitik, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus mampu meningkatkan kualitas informasi, mempercepat deteksi risiko, memperkuat kontrol, serta mendukung pengambilan keputusan yang cepat, akurat, beretika, dan bertanggung jawab.
Perspektif serupa disampaikan Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), Prof. Dr. Mardiasmo, yang menekankan bahwa penguatan governansi tidak boleh berhenti pada kepatuhan dan kelengkapan struktur.
Governansi harus tercermin dalam perilaku etis, kualitas keputusan, perlindungan pemangku kepentingan, ketahanan, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Menurutnya, pemanfaatan AI juga harus tetap memperkuat akuntabilitas manusia.
KNKG saat ini memutakhirkan Pedoman Umum Governansi Korporat Indonesia (PUG-KI) dengan menitikberatkan empat nilai dasar ETAK, yakni Etika, Transparansi, Akuntabilitas, dan Keberlanjutan.
Pemutakhiran tersebut antara lain mencakup etika pemanfaatan AI, outcome-based governance, pengungkapan isu keberlanjutan, serta integrasi ESG hingga skema remunerasi Direksi dan Komisaris.
Dari Kementerian Keuangan, Dr. Nur Rachmad, Sekretaris Inspektorat Jenderal, menyoroti pentingnya integrasi strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance.
Risk dashboard juga perlu berkembang dari sekadar pelaporan menjadi early warning dan decision intelligence, dengan pemanfaatan AI yang tetap mengedepankan digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas.
Sementara itu, Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara, Effendi Hengki, menyebut GRC kini harus menjadi strategic enabler dan instrumen penciptaan nilai.
GRC yang efektif memungkinkan manajemen mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur, melindungi nilai investasi, menangkap peluang strategis, dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis.
Ia menambahkan, perusahaan perlu beralih dari pola GRC yang bersifat snapshot menuju continuous assurance, dengan pengawasan dan pengujian kontrol secara berkelanjutan melalui data real-time, otomatisasi, dan sistem terintegrasi.
Transformasi tersebut ditopang tiga fondasi, yakni people & culture, process & control, serta technology.
Kriteria Penilaian Makin Berbasis GRC Maturity
TOP GRC Awards 2026 juga menyempurnakan kriteria penilaian.
Fokusnya tidak lagi sekadar melihat keberadaan kebijakan, struktur, sistem, atau dokumen, tetapi bagaimana kapabilitas GRC dijalankan, diintegrasikan, menghasilkan nilai, dan diperbaiki secara berkelanjutan.
Kerangka penilaian tahun ini mencakup empat variabel utama, yakni Value and Business Impact; Governance and Integration; GRC Execution Excellent; serta Continuous Maturity, yang kemudian dijabarkan ke dalam 12 dimensi, termasuk kinerja bisnis, model governansi, integrasi GRC, manajemen risiko, kepatuhan dan integritas, pengendalian internal, sustainability by design, teknologi, kepemimpinan dan budaya, serta continuous improvement.
Dalam pengembangan GRC ke depan, MSI Institute menekankan pentingnya GRC Maturity Index (GRC-MI) untuk membantu organisasi mengukur kematangan kapabilitas GRC secara sistematis.
Assessment tidak hanya menghasilkan skor, tetapi menjadi alat diagnostik untuk mengidentifikasi posisi saat ini, menemukan gap, menentukan prioritas perbaikan, dan menyusun roadmap.
Peserta TOP GRC Awards 2026 juga didorong menyusun materi presentasi yang lebih terstruktur dan evidence-based, dengan menunjukkan implementasi kebijakan, integrasi, hasil dan dampaknya terhadap bisnis, serta proses continuous improvement.
Pada akhirnya, TOP GRC Awards 2026 mendorong perubahan paradigma GRC dari compliance-driven menuju value-driven, dari pelaporan menuju early warning dan decision intelligence, serta dari sistem yang berjalan sendiri-sendiri menuju kapabilitas yang terintegrasi dengan strategi, kinerja, investasi, keberlanjutan, teknologi, dan assurance.
Penghargaan pun tidak diposisikan sebagai titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan kematangan (maturity journey) menuju GRC yang semakin terintegrasi, adaptif, intelligent, dan mampu memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan perusahaan.




