ANALIS MARKET (20/8/2026): Momentum Bullish Masih Terjaga
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Rabu (19/8/26), setelah penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS memberikan ruang bagi pasar saham untuk bangkit kembali dari tekanan sesi-sesi sebelumnya.
Indeks S&P 500 naik 0,21% ke level 7.707,98, Nasdaq Composite menguat 0,16% ke 26.331,09, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,22% ke 53.463,05.
Namun, kenaikan tersebut tetap terbatas karena saham sektor teknologi dan semikonduktor masih berada di bawah tekanan, di mana Indeks Semikonduktor Philadelphia turun lebih dari 2%.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar membaik terutama setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan peningkatan nilai pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi—naik dari US$2 miliar sebelumnya—yang akan dimulai pada 9 September. Kebijakan ini meredakan tekanan di pasar obligasi dan turut menopang pasar saham. Dari sisi korporasi, saham Marvell melonjak hampir 10% setelah memperluas kemitraan dengan Google untuk mengembangkan cip AI khusus, sementara saham Moderna melonjak sekitar 177% setelah hasil uji klinis tahap akhir untuk vaksin melanoma berbasis mRNA (yang dikembangkan bersama Merck) menunjukkan hasil positif.
GEOPOLITIK: Ketegangan antara AS dan Iran terus berlanjut karena kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz. Presiden Donald Trump kembali menyatakan bahwa AS memegang kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut, sementara Iran menuntut diakhirinya permusuhan dan pelepasan aset-aset Iran sebagai syarat pembukaan kembali selat itu. Kebuntuan ini membuat risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global tetap tinggi.
REGULASI & KEBIJAKAN: Risalah rapat Federal Reserve bulan Juli menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat mendukung kebijakan untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat saat itu, namun banyak peserta rapat menilai bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan jika inflasi tidak menurun. Para pejabat juga menilai bahwa prospek inflasi masih sangat tidak pasti, dengan risiko yang cenderung mengarah pada kenaikan (upside risk). Sebelumnya, tiga presiden Federal Reserve wilayah berbeda menyatakan keberatan atas keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun menjadi 4,65% dari 4,75% pada sesi sebelumnya, sementara imbal hasil tenor 30 tahun turun 9,9 basis poin menjadi 5,186% setelah sempat menyentuh level 5,337%, level tertinggi sejak Juni 2007. Imbal hasil Treasury tenor 2 tahun juga sedikit turun ke level 4,17%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat mencapai 2,95%, level tertinggi sejak tahun 1996. Di pasar valuta asing, Indeks Dolar AS turun ke bawah level 99, sementara mata uang Euro menguat ke posisi US$1,167 dan Yen diperdagangkan di kisaran JPY159,5 per Dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,14%, didorong oleh penguatan saham sektor pertambangan dan energi. Indeks DAX Jerman turun tipis 0,14% ke level 26.130, CAC 40 Prancis melemah 0,1% ke 8.502, sementara FTSE MIB Italia turun 0,8% ke 52.618. Indeks STOXX Europe 600 juga turun 0,11% ke level 651,16.
-Pasar Asia sebagian besar melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 3,16% ke 65.326 dan Topix turun 3,09% ke 4.012, sementara Shanghai Composite turun 2,40% ke 3.894,4 dan Shenzhen Component anjlok 5,01% ke 13.890,2. Indeks KOSPI Korea Selatan turun 5,80% ke level 6.471. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong naik tipis sebesar 0,09% ke level 25.495.
KOMODITAS: Harga komoditas cenderung menguat, terutama emas dan minyak. Harga minyak Brent naik 0,51% menjadi US$91,49 per barel, sementara WTI menguat 0,33% menjadi US$84,33 per barel. Harga emas melonjak 4,07% menjadi US$4.511 per ons, mencapai level tertinggi sejak awal Juni. Harga tembaga berada di angka US$6,40 per pon, naik tipis 0,11%, sedangkan harga batu bara termal stabil di kisaran US$129,75 per ton. Di antara komoditas logam lainnya, harga timah turun 1,71% menjadi US$54.819 per ton, sementara harga nikel berada di kisaran US$17.130 per ton.
INDONESIA: Bank Indonesia menilai investasi mulai menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi seiring dengan terealisasinya sejumlah proyek strategis pemerintah. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 mencapai 5,29%, dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87%, didukung oleh investasi bangunan dan non-bangunan. Sejumlah proyek di kawasan industri (KI), kawasan ekonomi khusus (KEK), dan proyek strategis lainnya mulai memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking), sementara belanja pemerintah turut menopang aktivitas ekonomi. BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,9%–5,7%, dengan laju pertumbuhan saat ini mulai bergerak menuju batas tengah hingga batas atas proyeksi tersebut. Stabilitas makroekonomi juga tetap terjaga, tercermin dari cadangan devisa sebesar US$145,3 miliar. Selain itu, pemerintah berencana memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk jenis tertentu pada tahun 2027 menjadi 20,09 juta kiloliter (KL)—turun 58,5% atau sekitar 28,34 juta KL dari angka 48,43 juta KL pada tahun 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian subsidi energi, termasuk untuk Pertalite, dengan asumsi harga ICP tahun 2027 sebesar US$75 per barel. Pemangkasan kuota ini berpotensi membatasi akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi dan mendorong peralihan konsumsi ke BBM nonsubsidi, yang dapat meningkatkan biaya transportasi serta menekan daya beli, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,86% di level 6.394,13 pada perdagangan hari Rabu (19/08/26), setelah bergerak di rentang 6.373,81–6.490,91. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp488,49 miliar di Pasar Reguler, meskipun secara keseluruhan pasar mereka mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp933,53 miliar. Aliran masuk dana asing terbesar tercatat pada saham TINS, DSSA, BBCA, BULL, dan TLKM, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham ASII, ANTM, AADI, BUMI, dan INET. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah relatif stabil di bawah Rp17.850 per Dolar AS setelah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% selama dua bulan berturut-turut, sesuai dengan ekspektasi pasar.
-Secara teknikal, IHSG mengalami koreksi (pullback) setelah sebelumnya menguji area resistansi 6.490–6.500, dan ditutup dengan membentuk pola candle bearish. Namun, IHSG masih bertahan di atas EMA10 (6.355,58), EMA20 (6.294,17), dan EMA50 (6.286,34), sehingga tren jangka pendek tetap relatif positif. Indikator RSI (14) berada di level 57,67—masih di atas level netral 50—yang mengindikasikan bahwa momentum bullish masih terjaga meskipun mulai melemah setelah indeks gagal melanjutkan penguatan. Jika IHSG gagal menembus kembali level 6.490–6.500, koreksi berpotensi berlanjut ke arah 6.377–6.355, dengan level support berikutnya di kisaran 6.294–6.286 (area EMA20 dan EMA50). Selama area tersebut dapat dipertahankan, peluang IHSG untuk kembali menguji resistansi 6.490–6.500 tetap terbuka. Sebaliknya, jika IHSG berhasil menembus level 6.500, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.723.
“Mengingat posisi indeks yang masih berada di atas seluruh EMA utama dan RSI yang berada di wilayah positif, strategi buy on weakness masih dapat dipertimbangkan di kisaran 6.355–6.294, sementara penurunan di bawah level 6.286 akan mengindikasikan peningkatan risiko koreksi lebih lanjut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (20/8).





