See More

20 Juli 2026, 20:19

20 Juli 2026, 20:06

20 Juli 2026, 19:19

20 Juli 2026, 19:09

20 Juli 2026, 19:01

20 Juli 2026, 18:44
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk|bank BTN|BBTN|manajemen risiko
Oleh: Issa

foto: dok. BTN
Pasardana.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (IDX: BBTN) atau BTN menegaskan pengakuan di tingkat regional atas keberhasilan transformasi manajemen risiko.
Ini tertuang dengan meraih dua penghargaan ASEAN Risk Awards 2026, yakni ASEAN Risk Champion Award (Category 2) dan Risk Culture Award.
Penghargaan tersebut menjadi validasi bahwa transformasi manajemen risiko yang dijalankan BTN telah memenuhi praktik terbaik di tingkat ASEAN serta menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
ASEAN Risk Awards merupakan ajang penghargaan tingkat regional yang memberikan apresiasi kepada institusi keuangan di kawasan ASEAN atas keunggulan dalam penerapan manajemen risiko, tata kelola, budaya risiko, inovasi, serta ketahanan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis yang terus berkembang.
Keberhasilan BTN meraih dua penghargaan sekaligus mencerminkan pengakuan internasional atas komitmen Perseroan dalam membangun organisasi yang tangguh dengan manajemen risiko sebagai bagian integral dari strategi bisnis.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan penghargaan tersebut merupakan pengakuan bahwa transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan manajemen risiko yang kuat.
“Penghargaan ini bukan sekadar apresiasi atas fungsi manajemen risiko, tetapi merupakan pengakuan bahwa transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan risk management yang kuat," kata Setiyo, Minggu (19/7/2026).
Bagi BTN, Setiyo bilanh, manajemen risiko bukan hanya berfungsi sebagai pengendali, tetapi menjadi strategic enabler yang memungkinkan Perseroan tumbuh lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan.
Menurut Setiyo, selama beberapa tahun terakhir BTN telah menjalankan transformasi manajemen risiko secara menyeluruh melalui roadmap yang terstruktur dan berbagai inisiatif strategis.
Transformasi tersebut mencakup modernisasi proses bisnis kredit melalui Loan Factory, penguatan enterprise risk management, digitalisasi pemantauan risiko secara end-to-end.
Kmeudian, pemanfaatan data analytics dalam pengambilan keputusan, penguatan pengelolaan risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, teknologi informasi, hingga integrasi aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kerangka manajemen risiko Perseroan.
Di saat yang sama, BTN juga terus memperkuat budaya risiko (risk culture) di seluruh jenjang organisasi melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, penguatan governance, serta internalisasi prinsip kehati-hatian dalam setiap proses bisnis.
Dengan demikian, pengelolaan risiko tidak hanya berada pada level kebijakan, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh insan BTN.
“Risk culture merupakan fondasi penting bagi organisasi yang ingin tumbuh secara berkelanjutan,” tambah Setiyo.
Transformasi tersebut terbukti memberikan dampak nyata terhadap kinerja Perseroan.
Sepanjang Semester I/2026, BTN berhasil membukukan pertumbuhan bisnis yang sehat disertai peningkatan kualitas aset.
Perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau tumbuh 40,8% secara tahunan dibandingkan Rp1,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyaluran kredit dan pembiayaan meningkat 13,2% menjadi Rp418,11 triliun, sementara total aset tumbuh 8,5% menjadi Rp545,16 triliun.
Di sisi kualitas aset, disiplin dalam penerapan manajemen risiko mendorong perbaikan rasio Non-Performing Loan (NPL) menjadi 2,99% dari 3,30% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tetap menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,5% menjadi Rp398,73 triliun, mencerminkan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat terhadap fundamental Perseroan.