harga gas|Blok Masela|kementerian ESDM|bahlil lahadalia

Target Pemerintah Patok Harga Gas Blok Masela, US$ 6–7 per MMBtu

Oleh: Ronal

17 Juli 2026, 08:29
Target Pemerintah Patok Harga Gas Blok Masela, US$ 6–7 per MMBtu

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, target pemerintah terkait harga gas hasil produksi Lapangan Abadi Blok Masela, yang diperuntukan industri pupuk, di kisaran US$6-7 per MMBtu.

Kata Bahlil, target harga yang masih dalam proses negosiasi ini, dinilai masih cukup ideal untuk mendukung daya saing industri pupuk nasional.

“Yang jelas, untuk pupuk itu kemarin kita sudah dapat kurang lebih sekitar US$ 6–7 per MMBtu. Cukup, benar-benar cukup,” ujar Bahlil, saat meninjau langsung site Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7)

Dijelaskan Bahlil, skema harga gas tersebut masih dibahas karena sangat dipengaruhi oleh sistem penyaluran, baik melalui jaringan pipa maupun fasilitas liquefied natural gas (LNG).

Menurut dia, rencana pembangunan pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer menjadi salah satu faktor penentu dalam perhitungan struktur harga.

“Harga gasnya lagi negosiasi, tergantung. Kalau kita pakai pipa, pipanya itu kan 180 kilometer,” kata Bahlil.

Ditambahkan Bahlil, pemerintah juga menyiapkan skema distribusi melalui fasilitas LNG yang akan dipadukan dengan pasokan gas dari pipa guna menjaga efisiensi penyaluran ke industri.

“Dengan LNG nanti, storage-nya ada sebagian yang kita tarik dari laut sehingga bisa kita blending,” ucapnya.

Untuk penjualan LNG, Bahlil menyebut formulasinya akan mengikuti pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP).

Meski begitu, ia menekankan, agar mayoritas bahan baku gas tetap diproses di dalam negeri demi menciptakan nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“LNG memang akan memakai formulasi ICP, tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dilakukan dari sini. Sehingga, multiplier effect dan nilai tambahnya benar-benar terjadi di Indonesia,” tukas Bahlil.

Berita Terkini

See More