S&P Pertahankan Rating RI, Investor Asing Masuk Kembali?
Oleh: Harry

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.
Keputusan tersebut memastikan Indonesia tetap berada pada kategori investment grade, sekaligus menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan nasional di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal beberapa bulan terakhir.
Dalam laporannya, S&P menilai peringkat Indonesia masih ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang relatif prudent, beban utang pemerintah yang rendah dibandingkan negara sekelasnya, serta keyakinan bahwa pemerintah tetap menjadikan batas defisit APBN sebesar 3% terhadap PDB sebagai jangkar kebijakan fiskal.
Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan, keputusan S&P merupakan bentuk kepercayaan komunitas internasional terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.
"Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook Stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Pemerintah. Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5%, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3% PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," ujar Airlangga, seperti dilansir laman resmi Kementerian Ekonomi, Senin (13/7).
Menurut Airlangga, keputusan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik di kawasan Asia, sekaligus menjadi modal penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) juga menyambut positif keputusan tersebut.
Dalam siaran resminya, Senin (13/7), BI menyatakan, afirmasi S&P mencerminkan keyakinan bahwa pelemahan indikator fiskal dan eksternal Indonesia hanya bersifat sementara, sementara koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai tetap solid.
Kepada Reuters, Senior Deputy Governor Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, meningkatnya kepercayaan investor membuka ruang penguatan nilai tukar rupiah.
"Masih terdapat ruang yang cukup besar bagi rupiah untuk menguat seiring membaiknya kepercayaan investor," ujar Destry.
Bagaimana Sikap OJK dan BEI?
Meski hingga saat ini belum menerbitkan pernyataan khusus terkait keputusan S&P pada 13 Juli 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menegaskan bahwa afirmasi rating investment grade menunjukkan ketahanan ekonomi nasional dan sektor jasa keuangan Indonesia.
Sedangkan bagi Bursa Efek Indonesia (BEI), status investment grade yang tetap terjaga menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor institusi global, khususnya dana pensiun, sovereign wealth fund, dan manajer investasi internasional yang menjadikan sovereign rating sebagai salah satu acuan investasi.
Respons Pelaku Pasar
Melihat kondisi market diperdagangan kemarin (13/7), pelaku pasar nampaknya menyambut positif keputusan S&P karena berhasil meredam kekhawatiran yang sempat muncul setelah Moody's dan Fitch lebih dahulu mengubah outlook Indonesia menjadi negatif pada awal tahun 2026 akibat kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan fiskal.
Melansir Reuters, Fund Manager SGMC Capital, Mohit Mirpuri, mengatakan pasar memang patut menyambut baik keputusan tersebut, tetapi belum saatnya berpuas diri.
"While it's not time for complacency, we'll take this as a win, and we continue to expect policy reforms and fiscal discipline to become more evident in the second half of the year, supporting a further recovery in confidence," sebut Mohit.
Artinya, keputusan S&P memang mengurangi tekanan terhadap aset Indonesia, namun investor masih menunggu bukti nyata berupa disiplin fiskal, implementasi reformasi, dan kepastian kebijakan pemerintah.
Akankah IHSG Menguat?
Analis Pasardana.id menilai, secara fundamental, afirmasi rating S&P merupakan katalis positif bagi pasar modal Indonesia.
Beberapa dampak yang berpotensi muncul antara lain: Premi risiko Indonesia tetap terjaga sehingga biaya pendanaan tidak meningkat; Arus dana asing ke pasar obligasi berpotensi kembali meningkat; Rupiah berpeluang menguat apabila capital inflow meningkat; Yield Surat Berharga Negara (SBN) cenderung lebih stabil; dan Saham sektor perbankan, infrastruktur, dan emiten berkapitalisasi besar berpotensi menjadi tujuan utama investor asing.
Namun demikian, penguatan IHSG diperkirakan masih akan dibatasi oleh faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, kondisi geopolitik global, serta musim rilis laporan keuangan emiten semester I-2026. Positif, tetapi Belum Euforia
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, respons pasar diperkirakan positif dengan kecenderungan sideways menguat (sideways to bullish).
Sentimen dari S&P kemungkinan akan meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi tekanan jual, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong reli besar apabila tidak diikuti peningkatan realisasi investasi, konsistensi kebijakan fiskal, serta membaiknya arus dana asing.
Laporan Reuters juga menyebutkan, keputusan S&P juga memiliki makna psikologis yang penting.
Di tengah tekanan yang sempat muncul setelah perubahan outlook oleh Moody's dan Fitch, afirmasi BBB/Stable menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai kuat oleh salah satu lembaga pemeringkat global terbesar.




