See More

29 Mei 2026, 17:04

29 Mei 2026, 16:34

29 Mei 2026, 16:29

29 Mei 2026, 16:04

29 Mei 2026, 15:45

29 Mei 2026, 15:14
BNI Asset Management (BNI AM)|alternatif investasi|Gen Z|strategi investasi|literasi keuangan|Ade Yusriansyah
Oleh: Harry

Foto : istimewa
Pasardana.id - Sejalan dengan masifnya perkembangan teknologi, terutama platform media sosial, dalam 2-3 dekade terakhir, kita menjadi lebih terekspos terhadap berbagai macam informasi, salah satunya informasi mengenai pengelolaan keuangan.
Melalui platform media sosial, seperti Youtube, Instagram, ataupun yang lainnya, kita saat ini lebih mudah menemukan berbagai jenis konten yang kebanyakan bertujuan mendorong penontonnya untuk mencapai titik merdeka secara finansial.
Lantas, bagaimana dengan strategi pengelolaan yang disarankan?
Ada yang menyarankan untuk langsung berinvestasi di instrumen tertentu.
Ada juga yang terlebih dahulu mendorong penguatan atau membangun arus kas sebelum berinvestasi.
Serta ada yang penekanannya pada aspek skala prioritas, di mana melakukan budgeting dengan pola pembagian menggunakan proporsi tertentu seperti 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk investasi/tabungan, dan 20% untuk gaya hidup.
Kalau kita coba memahami lebih dalam, apa pun jenis strategi pengelolaannya, ada satu kesamaannya, yaitu investasi. Apa itu investasi?
Secara sederhana, dapat diartikan sebagai penanaman modal atau uang demi mendapatkan keuntungan di masa depan.
Sementara secara komprehensif, berinvestasi juga harus melibatkan aspek risiko seperti profil risiko, tujuan, serta kemampuan modal.
Pertanyaan berikutnya? Kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?
Para ekonom dan pakar keuangan menekankan bahwa usia muda adalah fase paling strategis untuk membangun fondasi finansial jangka panjang.
Hal ini sejalan dengan contoh yang diberikan oleh Morgan Housel di dalam bukunya “Psychology of Money”, di mana dijelaskan di buku tersebut bahwa salah satu kunci sukses dari seorang “Buffett” bukan hanya terletak pada kehebatannya sebagai seorang, tetapi juga pada “timing”, di mana Buffett sudah menjadi investor yang fenomenal sejak berusia 32 tahun.
Housel berkeyakinan, apabila Buffet memulai pengelolaan keuangannya di usia 30-an-nya dan pensiun di usia 60-an-nya, maka hanya sedikit orang yang akan mengenalnya saat ini.
Di Indonesia, awareness terkait pengelolaan keuangan sudah mulai muncul.
Apabila kita menggunakan kegiatan pasar modal sebagai benchmarking, Data KSEI menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tidak lagi eksklusif; terdapat lompatan masif dari 7 juta investor pada 2021 menjadi 25 juta pada Maret 2026 atau rata-rata 32,5% per tahunnya.
Kalau kita coba lihat lebih dalam, masih menggunakan data KSEI, berdasarkan komposisi jumlah, ternyata pasar digerakkan oleh individu (99,77%) bukan lagi didominasi oleh institusi.
Untuk demografi investor individu itu sendiri, lebih dari 80% diisi oleh individu yang berusia di bawah 40 tahun (gen Z hingga Milenial).
Sehingga apabila ditanyakan terkait awareness generasi muda? Tentu, dari angka tersebut, bisa disimpulkan bahwa sudah ada awareness dari generasi muda Indonesia terkait pengelolaan keuangannya.
Angka ini tentu sangat menggembirakan, akan tetapi bukan tanpa risiko.
Lantas, apa saja yang dapat menjadi risiko bagi seorang investor di usia belia?
• Tingkat literasi: hal ini dapat dikaitkan dengan pemahaman terhadap mekanisme pasar dan profil risiko yang bisa berdampak pada pengambilan keputusan yang bersifat “emosional”. Selain itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan semakin melebarannya gap antara inklusi keuangan dan literasi keuangan menjadi 14,05%, dibandingkan dengan 9,59% pada 2024. Kondisi ini merupakan indikasi semakin banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan, tetapi belum semuanya benar-benar memahami manfaat, risiko, dan strategi perencanaan finansial jangka panjang.
• Pola konsumtif; pengaturan keuangan yang belum bisa membatasi pola konsumtif yang berlebihan, sehingga investasi yang dilakukan tidak dapat mencapai tujuannya. Bahkan lebih jauh, pola hidup yang terlalu konsumtif berpotensi menyebabkan generasi muda di Indonesia rentan terjebak pinjaman online (pinjol).
• Konsentrasi aset investasi yang terlalu tinggi, sebagai contoh, investasi pada kripto, bisa menyebabkan potensi kerugian yang cukup besar pada saat market-nya terkoreksi. Contoh lain, konsentrasi investasi di deposito yang berbunga rendah dibandingkan dengan inflasi dapat berdampak pada terjadinya penurunan daya beli. Bagaimana tips yang baik dalam berinvestasi atau strategi pengelolaan portofolio investasi untuk seorang investor di usia muda?
• Bangun literasi keuangan; secara teori, individu yang mempunyai tingkat literasi yang baik dapat dianggap telah mempunyai pemahaman mengenai manfaat produk dan jasa keuangan, sehingga dapat menunjangnya dalam memilih dan mengelola instrumen investasi untuk mencapai tujuan sejahtera di masa pensiun. Untuk itu, kontinuitas dalam mengembangkan pengetahuan dasar merupakan bagian penting dari konsistensi untuk mencapai tujuan ke depan. Menjadi pelajar sepanjang hidup, serta haus akan informasi dan strategi baru untuk menjaga tingkat literasi, akan membuat langkah yang kita ambil ke depan menjadi lebih terkendali di setiap situasi keuangan. Literasi keuangan merupakan kekuatan, dan bisa membantu kita membuat keputusan keuangan yang lebih bijak dan percaya diri melalui semua tahapan kehidupan.
• Don’t Put All Your Money in One Basket; lakukan diversifikasi portofolio; ini merupakan prinsip dasar. Diversifikasi bukan berarti membagi uang sama rata. Sebagai contoh, di saham, menggunakan saham blue-chip sebagai fondasi utama dengan bobot terbesar, sementara saham bervolatilitas tinggi dibatasi porsinya secara ketat untuk mengontrol risiko. Contoh lainnya: diversifikasi ke jenis aset seperti aset tetap (properti dan emas) dan aset keuangan (pasar uang, pendapatan tetap, dan saham).
• Disiplin yang kuat; tanpa disiplin, anggaran mudah jebol. Mulailah dari hal kecil: catat pengeluaran harian. Selain itu, jangan pernah menunda dalam mengelola keuangan. Semakin cepat, tentunya harapannya hasil akhirnya akan lebih baik dan beban semakin ringan.
"Pengelolaan uang penting dalam mencapai tujuan kita. Awareness mengenai pentingnya hal ini sudah menjadi perhatian lintas generasi, termasuk anak muda, yang tercermin dari tingginya pertumbuhan investor di generasi Z dan milenial. Inklusi sejak muda bukan tanpa risiko, akan tetapi dengan disiplin yang kuat, literasi yang baik, dan diversifikasi portofolio, semua potensi risiko tersebut dapat diminimalkan," terang Ade Yusriansyah, Direktur BNI Asset Management, dalam keterangan tertulis, Kamis (26/5).