ekspor perdana|Pabrik Baterai|baterai listrik

Target Ekspor Jerman, Pabrik Baterai Listrik di Beroperasi Juli 2026 Karawang

Oleh: Ronal

19 Mei 2026, 08:40
Target Ekspor Jerman, Pabrik Baterai Listrik di Beroperasi Juli 2026 Karawang

Foto : istimewa

Pasardana.id – Presiden Prabowo Subianto kemungkinan besar akan meresmikan langsung pabrik baterai listrik atau Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.

Rencananya, pabrik digarap PT Industri Baterai Indonesia (MIND ID), Indonesai Battery Corporation (IBC), dan konsorsium CBL (CATL), ini akan segera beroperasi pada Juli 2026.

Saat ini persiapannya sudah 90 persen.

Insyaallah Juli ini COD (Commercial Operation Date). Kemungkinan akhir bulan,” kata Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif dalam bincang Mind Club di Jakarta, Senin (18/5).

Pabrik baterai listrik ini memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 6,9 gigawatt hour (GWh) pada tahap pertama, yang terdiri dari baterai nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP).

Tahap kedua akan dibangun 8,1 GWh, dimana rencana ekspor dilakukan meski opsional karena harus mencari pembelinya (offtaker). Total investasi proyek ini USD 1,1 miliar.

Kata Aditya, IBC membidik pasar ekspor untuk baterai NMC ke Eropa, terutama Jerman.

Langkah itu dilakukan karena permintaan baterai berbasis nikel dinilai masih lebih banyak berasal dari kawasan tersebut.

“Kalau NMC memang pasarnya lebih banyak di Eropa, jadi kami lihat potensinya ke sana,” katanya.

Meski begitu, porsi produksi NMC di pabrik Karawang hanya sekitar 20 persen dari total kapasitas.

Sementara mayoritas produksi atau sekitar 80 persen akan berupa baterai LFP yang saat ini lebih banyak digunakan industri kendaraan listrik global, terutama produsen asal China.

Menurut Aditya, tren penggunaan LFP meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik dunia yang mencari alternatif selain baterai berbasis nikel.

“Kondisi pasar sekarang memang lebih banyak pakai LFP,” ujarnya.

Ia menegaskan, IBC tetap mempertahankan produksi baterai NMC karena sejalan dengan cita-cita awal hilirisasi nikel Indonesia yang didorong sejak era Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Selain untuk kendaraan listrik, baterai LFP produksi IBC juga akan digunakan untuk battery energy storage system (BESS), termasuk penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).

IBC sendiri telah mengantongi calon pembeli untuk baterai LFP tersebut.

Salah satu pasar ekspor yang disasar ialah Jepang.

Aditya berharap, pemerintah bisa mendukung hilirisasi ini dengan membuka banyak industri yang bisa menyerap produksi baterai listrik buatan Indonesia.

"Harapan IBC, pemerintah bisa create market dan subsidi NMC," tukas dia.

Berita Terkini

See More