Indeks Literasi Fintech Lending Masih 24,9%, JULO Gencarkan Program Edukasi
Oleh: Corri
Foto : istimewa
Pasardana.id - Industri fintech lending terus menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun.
Per Maret 2026, outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) menembus angka Rp101,3 triliun, meningkat 26,25% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, tingkat literasi masyarakat terhadap fintech lending belum tumbuh seiring dengan peningkatan jumlah pengguna.
Karena itu, JULO Teknologi Finansial (JULO) berkomitmen untuk terus meningkatkan program literasi.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi fintech lending berada di angka 24,9%, masih jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional sebesar 66,46% dan sektor perbankan sebesar 65,50%.
Minimnya pemahaman mengenai perbedaan layanan legal dan ilegal, mekanisme pinjaman, hingga regulasi yang berlaku membuat fintech lending kerap dilekatkan dengan stigma negatif.
Padahal, pertumbuhan industri ini menunjukkan perannya dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat underbanked sekaligus mendorong inovasi layanan keuangan melalui digital underwriting dan alternative data-based scoring.
Kondisi tersebut mendorong JULO sebagai fintech karya anak bangsa untuk menghadirkan “Cerita Melesat”, serial yang mengangkat berbagai kisah nyata pengguna dari beragam latar belakang.
Hingga Mei 2026, JULO telah mengangkat lebih dari 100 cerita inspiratif pengguna dari berbagai daerah di Indonesia.
Cerita-cerita tersebut kemudian dirilis di berbagai kanal digital JULO sebagai upaya menghadirkan literasi finansial yang lebih dekat, relevan, dan kontekstual mengenai penggunaan kredit digital dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Mikhal Anindita, Head of Marketing JULO, literasi finansial menjadi aspek penting agar penggunaan kredit digital dapat memberikan dampak maksimal bagi masyarakat.
“Lewat ‘Cerita Melesat’ dan berbagai program literasi lainnya, kami ingin menginspirasi masyarakat luas bagaimana pinjaman daring seperti JULO memiliki peran strategis dalam memperluas akses kredit dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Selain Cerita Melesat, kami juga secara rutin mengadakan Ngobrol Penting (Ngopling), program webinar yang membahas berbagai topik krusial seputar finansial, dari panduan KPR hingga tips finansial untuk UMKM. Kami berharap JULO tidak hanya menjadi platform penyedia fasilitas kredit tetapi juga mendorong nasabah untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik,” ungkapnya, seperti dilansir dalam siaran pers, Senin (25/5).
Salah satu cerita datang dari Shandy N., pengguna JULO yang bekerja sebagai sales di Semarang. Ayah tiga anak ini memanfaatkan layanan kredit digital untuk membantu kebutuhan pendidikan anak sekaligus operasional pekerjaan.
“Saya daftar JULO saat ada kebutuhan mendadak untuk pendidikan anak, sementara saya sedang bekerja di luar kota dan butuh biaya operasional lapangan. Tidak lama menunggu, limit saya disetujui dan kebutuhan bisa terpenuhi. Sekarang cash flow rumah tangga jadi lebih teratur karena saya bisa menyesuaikan pembayaran dengan tanggal gajian dan reimbursement operasional dari kantor,” ujarnya.
Cerita lain datang dari Kiky S., pengguna JULO asal Jambi, yang menggunakan limit kredit digital untuk mendukung langkah awal merantau demi peluang kerja baru.
“Awalnya saya sempat ragu dan tidak mau ambil pinjaman. Tapi setelah mencari tahu lebih jauh, saya jadi paham cara memilih dan mengelola pinjaman dengan benar. Saya pilih JULO karena sudah berizin OJK, bunganya transparan dan termasuk ringan dibandingkan pinjaman lain. Jadi saat ada kesempatan kerja di luar kota, saya menggunakan JULO untuk memenuhi persyaratan kerja seperti membuat SIM dan kebutuhan biaya sebelum menerima gaji pertama,” terangnya.
Sejak hadir pada 2016, JULO telah menyalurkan lebih dari Rp28 triliun dana kepada lebih dari 3,3 juta pengguna di seluruh Indonesia.
JULO menawarkan limit hingga Rp50 juta dan tenor fleksibel serta bunga rendah yang ditentukan berdasarkan ketentuan OJK dan kemampuan bayar pengguna.




