Dua Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Bahlil : Lagi Upaya Diplomasi
Pasardana.id – Pemerintah tengah berupaya mengeluarkan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di wilayah konflik di Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM), Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3) mengatakan, bahwa saat ini pemerintah bersama dengan Pertamina tengah menempuh jalur diplomasi untuk mengeluarkan kapal yang mengangkut minyak mentah (crude) tersebut.
"Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan," ujarnya.
Hanya saja, jika kemungkinan buruk terjadi dimana kedua kapal tidak bisa keluar dari Selat Hormuz, maka perlu dilakukan pembelian minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melewati konflik tersebut.
Hal tersebut, tentu saja untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah wilayah global.
"Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu problem, bukan sesuatu masalah yang sangat penting," ujar Bahlil.
Sebagai infomasi, pemerintah berencana mengalihkan seluruh impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS, sebagai upaya mitigasi atas memanasnya konflik antara Israel, AS, dan Iran di kawasan tersebut.
Bahlil mengatakan, sekitar 25 persen total impor minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah.
Sementara sisanya dipasok dari negara lain, seperti Angola di Afrika, AS, serta Brasil.
"25 persen dari total crude yang kita pesan dari Middle East itu akan dialihkan (ke AS)," kata Bahlil.
Pengalihan impor ini sekaligus menjadi bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS, di mana RI berkomitmen membeli produk energi senilai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 253 triliun.

