ANALIS MARKET (02/3/2026): Antisipasi Peningkatan Volatilitas pada Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah
Pasardana.id – Riset harian fixed income BNI Sekuritas menyebutkan, harga Surat Utang Negara (SUN) ditutup melemah pada sesi perdagangan terakhir di pekan lalu.
Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) naik sebesar 1 bp ke level 5,75%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) naik sebesar 1 bp menjadi 6,40%.
Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) naik sebesar 1 bp ke level 6,43%.
Sedangkan volume transaksi SBN secara outright traded tercatat sebesar Rp27,4 triliun kemarin, tidak banyak berubah dibandingkan dengan volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp28,2 triliun.
FR0100 dan FR0108 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp2,6 triliun dan Rp2,3 triliun.
Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp4,8 triliun.
Investor asing mencatatkan beli neto di pasar saham sebesar Rp5,6 triliun pada periode 23–26 Februari 2026.
Di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), investor asing juga mencatatkan beli neto transaksi sebesar Rp3,6 triliun pada periode yang sama.
Sementara itu, berdasarkan data settlement DJPPR yang tersedia hingga 25 Februari 2026, investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp3,8 triliun di pasar SBN pada periode 23–25 Februari 2026.
Dengan demikian, secara agregat total net flow investor asing pada periode tersebut diperkirakan beli neto sebesar Rp5,4 triliun.
Secara kumulatif sejak awal tahun 2026 hingga 26 Februari 2026 (SBN hingga 25 Februari 2026), investor asing mencatatkan jual neto sekitar Rp8,8 triliun di pasar saham, jual neto sekitar Rp3,3 triliun di pasar SBN, serta beli neto sebesar Rp34,0 triliun di pasar SRBI. (BI, DJPPR, IDX)
Di sisi lain, pada pekan lalu, Bank Indonesia menyelenggarakan dua kali lelang SRBI (25 dan 27 Februari) dengan total nominal awarded Rp18,0 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yang dilakukan melalui satu kali lelang (20 Februari) dengan nominal penyerapan secara agregat Rp15,0 triliun.
Untuk tenor 12 bulan, WAY SRBI tercatat di 5,17% pada lelang 27 Februari, meningkat ±9bp dibandingkan lelang pada 20 Feb 2026.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah sebesar 0,17%, bergerak dari level Rp16.759/US$ di hari Kamis menjadi Rp16.787/US$ di hari Jumat.
Sementara itu, per posisi Jumat (27/2), indikator global menunjukkan pola peningkatan demand terhadap safe haven, tercermin dari penurunan signifikan pada yield US Treasury (UST) dan lonjakan pada Credit Default Swap (CDS) Indonesia.
Yield curve UST 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 6bp dan 5bp dari hari sebelumnya menjadi 3,51% dan 3,97%.
Sementara itu, CDS 5-tahun Indonesia meningkat sebesar 3bp menjadi 84bp.
Secara week-over-week, yield curve UST 10-tahun turun sebesar 11bp, CDS 5-tahun Indonesia meningkat sebesar 3bp, sementara Rupiah menguat 0,6% terhadap US$.
Dengan kondisi di atas, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) masih mencatatkan penurunan mingguan sebesar 3bp menjadi 6,43%.
Tensi geopolitik meningkat seiring Pemerintah US dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Peningkatan tensi tersebut diperkirakan akan menyebabkan sentimen negatif bagi pasar dan semakin meningkatkan demand terhadap safe-haven.
“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi peningkatan volatilitas pada harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. BNI Sekuritas memproyeksikan weekly range untuk yield SUN 10-tahun pada periode 2 – 6 Maret 2026 di kisaran 6,25%-6,51%. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0103, FR0108, FR0098, FR0106,” sebut Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Senin (02/3/2026).

