Zulhas Klaim Banyak Negara Mau Impor Pupuk Urea dari Indonesia
Pasardana.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan, bahwa ada peluang baru dari industri pupuk nasional terhadap situasi konflik global antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Menurut dia, sejumlah negara sedang berlomba-lomba mengimpor pupuk urea dari Indonesia.
Meningkatnya ketegangan geopolitik membuat banyak negara membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah besar untuk menjaga produksi pangan mereka.
Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan mengatakan, kondisi tersebut membuat Indonesia, sebagai salah satu produsen urea terbesar di dunia, memiliki posisi yang cukup strategis.
"Tapi gara-gara perang ini, itu hampir banyak negara itu menginginkan urea. Jadi banyak negara itu kemudian ingin impor urea banyak dari tempat kita," ujar Zulhas di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (12/3).
Ia menambahkan, beberapa negara telah menunjukkan minat untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia, salah satunya Australia.
"Ya ada beberapa negara lah, ada Australia, ada mana, mana gitu banyak lah yang juga minta," imbuh Zulhas.
Bahkan dia bilang, permintaan pupuk urea dari berbagai negara bahkan datang dengan nilai yang sangat tinggi.
"Nah kita diminta untuk ekspor banyak. Urea ke tempat, ke negara, banyak-banyak negara minta. At any cost, at any price dari urea," ucapnya.
Karena itu, dirinya menilai, bahwa kondisi ini menjadi peluang bagi industri pupuk nasional untuk kembali menggeliat, termasuk dengan mengoptimalkan kapasitas produksi yang ada.
Sejumlah pabrik pupuk yang sebelumnya direncanakan akan dihentikan operasinya karena faktor efisiensi bahkan kini kembali dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan pasar global.
"Yang tadinya pabrik kita yang tua yang tadinya istilahnya kita pelan-pelan kita suntik mati kita mau ganti, sementara ini kita bisa produksi lagi," jelasnya.
Menurut Zulhas, tingginya permintaan ini membuat produksi dari pabrik-pabrik lama tetap bisa dimanfaatkan karena harga pasar pupuk dunia saat ini cukup tinggi.
"Karena biaya dan harga berapa pun banyak negara yang meminta," jelasnya.

