Harta Djaya Karya Tbk Umumkan Rencana Pengembangan Usaha Perseroan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Harta Djaya Karya Tbk (Perseroan) (IDX: MEJA) menyampaikan Laporan Informasi atau Fakta Material sehubungan Rencana Pengembangan Usaha Perseroan.

Melansir keterbukaan informasi BEI, Minggu (08/2) disebutkan perkembangan lebih lanjut tentang Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara PT Triple Berkah Bersama (Triple B) selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) MEJA dengan PSP PT Trimata Coal Perkasa (TCP) pada tanggal 22 Desember 2025 mengenai rencana akusisi 45% saham TCP oleh MEJA melalui mekanisme shares swap saham TCP dengan saham MEJA atau cara lain sepanjang tidak menggunakan kas MEJA.

Dijelaskan, pada tanggal 30 Januari 2026, kami telah menerima surat dari TCP yang menginformasikan sebagai berikut:

-TCP telah menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam (MAM) sebagai kontraktor tambang untuk melaksanakan eksploitasi tambang batubara miliki TCP di Kecamatan Tungkal LIR, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan di mana kuasa jual batubara tetap berada di TCP.

-MAM akan melaksanakan eksploitasi batu bara di tahun 2026 dengan target produksi 1.500.000 Ton (satu juta lima ratus) sesuai dengan RKAB TCP tahun 2026 yang telah disetujui Kementerian ESDM.

-TCP juga telah mendapat pembeli siaga batubara yang diproduksi tersebut yaitu Agro Energy Trading Pte. Ltd.

“Sesuai dengan Perjanjian Jual Beli Bersyarat untuk akuisisi 45% saham TCP oleh MEJA tanggal 22 Desember bahwa MEJA akan menjadi PSP di TCP. Pelaksanaan akuisisi saham TCP tersebut akan dilakukan bertahap. Saat ini kami dengan PSP TCP sedang mempersiapkan hal-hal yang diperlukan agar MEJA dapat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk penambahan modal untuk pelaksanaan akuisisi tersebut,” jelas Richie Adrian Hartanto S selaku President Director PT Harta Djaya Karya Tbk.

Selanjutnya disebutkan, tambang batubara TCP merupakan aset batubara skala besar di Sumatera Selatan dengan luasan konsesi ±11.640 ha, seam batubara tebal dan ekonomis karakteristik geologi dan metode open pit menjadikan tambang ini cocok untuk operasi jangka panjang dengan kapasitas produksi tinggi.

Laporan JORC PT Trimata Coal Perkasa menunjukkan estimasi mineable coal resources sekitar ±693,7 juta ton, yang mencerminkan potensi geologi batubara skala besar dan mendukung pengembangan tambang terbuka (open pit) jangka panjang.

Estimasi sumber daya ini disusun oleh konsultan independen Faan Grobelaar & Associates.

“Berdasarkan informasi dari TCP, kami memperkirakan TCP akan memperoleh Laba Sebelum Pajak sebesar USD 7-10 per Ton dari aktivitas penambangan dan penjualan batubara tersebut. Kami memperkirakan enterprise value TCP kurang lebih sebesar Rp2,49 Triliun,” tulis Richie Adrian Hartanto S.