Dari Ambisi ke Implementasi: Survei Deloitte Ungkap Potensi AI yang Belum Tergarap di Dunia Usaha

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Baru-baru ini Deloitte AI Institute merilis laporan State of AI in the Enterprise edisi 2026, yang mengungkap bagaimana organisasi saat ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), serta dampak, perubahan, dan berbagai pertimbangan yang muncul seiring adopsi teknologi tersebut.

Laporan bertajuk The State of AI in the Enterprise: The Untapped Edge ini, disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.000 pemimpin perusahaan di seluruh dunia, mulai dari tingkat Direktur hingga C-level, yang terlibat langsung dalam inisiatif AI di organisasi mereka.

Laporan ini mengulas potensi transformasional AI dan momentum adopsinya, sekaligus menyoroti langkah-langkah krusial yang perlu dipertimbangkan para pemimpin dalam melanjutkan perjalanan AI mereka.

Deloitte menekankan pentingnya arah strategis dan tata kelola yang kuat agar investasi AI dapat menghasilkan nilai bisnis yang berkelanjutan.

“Para pemimpin bisnis di Asia Tenggara memiliki ambisi besar terhadap AI dan sudah mulai merasakan manfaatnya, terutama dalam peningkatan produktivitas. Seiring berlanjutnya investasi AI, perusahaan membutuhkan peta jalan yang jelas untuk mendorong transformasi yang melampaui sekadar optimalisasi bertahap, dengan tata kelola yang kuat dan tertanam di seluruh tingkat organisasi. Nilai penuh dari teknologi ini akan tercapai ketika perusahaan berani membayangkan ulang berbagai kemungkinan untuk menciptakan diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan,” ujar Chris Lewin, AI & Data Capability Leader, Deloitte Asia Pacific, dalam keterangan tertulis, Senin (09/2).

Melangkah dari tahapan pilot ke produksi

Peralihan dari tahap percobaan (pilot stage) ke implementasi penuh merupakan langkah krusial untuk menangkap value dari AI.

Namun, meskipun tingkat eksperimentasi AI terus meningkat, survei Deloitte menemukan bahwa baru 25% responden yang telah mengalihkan 40% atau lebih proyek percontohan AI mereka ke tahap produksi.

Meski demikian, 54% responden memperkirakan akan mencapai tahapan tersebut dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Di sisi lain, organisasi dihadapkan pada prioritas yang saling bersaing: menjaga kelangsungan operasional bisnis inti dengan teknologi saat ini, sembari berinvestasi pada inovasi yang dibutuhkan untuk tetap kompetitif di masa depan.

Dalam konteks ini, mengkomunikasikan strategi yang jelas menjadi kunci untuk mengurangi pilot fatigue dan mendorong penerapan AI melampaui sekadar fase eksperimen.

Lebih dari Sekadar Produktivitas

Dampak nyata AI terhadap bisnis terus meningkat pesat.

Sebanyak 25% pemimpin perusahaan melaporkan bahwa AI telah memberikan efek transformasional bagi organisasi mereka—lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski peningkatan produktivitas dirasakan secara luas, hanya 30% organisasi yang telah mendesain ulang proses-proses kunci mereka dengan menjadikan AI sebagai fondasi utama.

Sementara itu, 37% organisasi mengaku masih menggunakan AI pada tingkat permukaan, dengan sedikit atau bahkan tanpa perubahan pada proses bisnis yang mendasarinya.

Keberhasilan adopsi AI ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menciptakan diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan—yakni dengan memanfaatkan AI untuk membayangkan ulang apa yang mungkin dicapai oleh bisnis, bukan sekadar mengoptimalkan apa yang sudah ada.

Untuk Agentic AI, Tata Kelola dan Pertumbuhan Berjalan Beriringan

Agentic AI diperkirakan akan tumbuh pesat, dengan hampir tiga perempat perusahaan berencana menerapkannya dalam dua tahun ke depan.

Namun, hanya 21% dari perusahaan tersebut yang menyatakan telah memiliki model tata kelola agen AI yang matang.

Perusahaan yang mencatatkan keberhasilan paling signifikan umumnya menerapkan pendekatan yang terukur—memulai dari kasus penggunaan berisiko rendah, membangun kapabilitas tata kelola, serta melakukan skalabilitas secara bertahap dan terencana.

Di era AI, tata kelola tidak lagi sekadar pagar penjaga, melainkan menjadi katalis utama bagi pertumbuhan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

(Agentic AI merujuk pada sistem otonom yang mampu menetapkan tujuan, menyusun rencana, dan mengeksekusi tugas-tugas kompleks yang terdiri dari berbagai tahapan dengan intervensi manusia yang minimal. Berbeda dengan Generative AI tradisional yang umumnya menghasilkan konten berdasarkan perintah (prompt), Agentic AI memanfaatkan kemampuan penalaran, penggunaan alat eksternal, serta memori untuk secara mandiri menjalankan alur kerja guna mencapai tujuan spesifik jangka panjang.)

Physical AI dan isu kedaulatan AI yang semakin menguat

Ketahanan di era AI kini semakin ditentukan oleh kesiapan akan kedaulatan AI (sovereign AI: kemampuan suatu negara untuk mengembangkan dan menggunakan AI dengan sumber daya dan infrastruktur miliknya sendiri), dan organisasi mulai memberi perhatian serius terhadap hal ini.

Saat ini, 77% perusahaan telah mempertimbangkan negara asal dalam pemilihan vendor AI, sementara hampir tiga dari lima perusahaan membangun tumpukan (stack) AI mereka terutama dengan penyedia lokal.

Di sisi lain, physical AI dengan cepat menjadi bagian integral dari operasional di berbagai belahan dunia, dengan sektor manufaktur, logistik, dan pertahanan memimpin adopsi secara global.

Tingkat adopsinya diproyeksikan mencapai 80% dalam dua tahun ke depan, sekaligus menetapkan arah bagi gelombang berikutnya dari otomasi industri.

(Physical AI adalah cabang kecerdasan buatan yang menanamkan model AI ke dalam perangkat keras fisik—seperti robot, kendaraan, atau mesin industri—sehingga memungkinkan sistem tersebut untuk merasakan (perceive), menalar, dan bertindak di dunia nyata secara real time.

Berbeda dengan generative AI yang beroperasi di ranah digital, physical AI mengombinasikan sensor dan kemampuan penalaran kognitif untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan, serta beradaptasi terhadap situasi yang tidak terduga, alih-alih bergantung pada instruksi yang telah diprogram sebelumnya).