IHSG Bergejolak & Trading Halt Beruntun! BNI Sekuritas Ungkap Strategi Bertahan di Tengah Badai Pasar

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Dalam beberapa hari terakhir, pasar modal bergerak fluktuatif, ditandai lonjakan volatilitas IHSG, trading halt beruntun, dan tekanan dari sentimen global.

Hal tersebut dipicu salah satunya karena aliran dana asing dan pergerakan indeks MSCI, yang kemudian membuat banyak investor ritel semakin berhati-hati dan menyesuaikan strategi investasi agar portofolio terkelola dengan baik.

PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) memahami bahwa kekhawatiran di tengah pasar yang bergejolak adalah hal yang wajar.

“Banyak investor bertanya-tanya, ‘Apakah saya berinvestasi di waktu yang tepat?’ atau ‘Perlukah saya menyesuaikan langkah sebelum koreksi berlanjut?’ Pemikiran itu normal dan menunjukkan perhatian tinggi terhadap pengelolaan nilai investasi mereka,” ujar Teddy Wishadi, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, dalam keterangan tertulis, Jumat (06/2).

Meski pasar dapat mengalami koreksi, sejarah menunjukkan bahwa IHSG mampu pulih setelah fase koreksi signifikan.

"Sebagai contoh, pada krisis keuangan 2008, IHSG sempat anjlok 58% dari peak-nya dan kembali naik 77% dalam 6 bulan dan 113% dalam 12 bulan setelah mencapai bottom. Kemudian saat taper tantrum 2013, indeks terkoreksi 24% dari peaknya dan pulih 16% dalam 6 bulan dan 31% dalam 12 bulan setelah mencapai bottom-nya. Lalu saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, IHSG turun 33% dari peaknya, tapi recover 24% dalam 6 bulan dan 59% dalam 12 bulan sejak capai bottom,” jelas Teddy.

Menurut Teddy, pergerakan IHSG merupakan refleksi dari dinamika sentimen pasar yang bersifat jangka pendek.

Volatilitas seperti ini merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar.

Berikut adalah hal yang dapat dilakukan oleh investor saat ini:

1.Sesuaikan Strategi Investasi

Meninjau ulang strategi sesuai profil risiko dan tujuan investasi jangka panjang menjadi langkah penting. Disiplin dalam alokasi dan pemilihan instrumen membantu mengurangi tekanan psikologis saat pasar bergejolak.

2.Beli Saham Blue Chip

Saham-saham dengan kapitalisasi besar dan fundamental kuat terbukti lebih tahan terhadap volatilitas. Pilihan ini dapat membantu investor tetap berada di pasar tanpa mengambil risiko berlebihan.

3.Diversifikasi Instrumen

Selain saham, investor dapat mempertimbangkan instrumen lain untuk menyeimbangkan portofolio:

-Obligasi korporasi dan Surat Berharga Negara (SBN): Memberikan pendapatan tetap dan stabil.

-Reksa dana campuran atau pendapatan tetap: Diversifikasi otomatis antara saham dan obligasi, mengurangi risiko sekaligus tetap berpartisipasi di pasar modal.

-Deposito dan instrumen pasar uang: Likuid dan aman untuk menunggu momentum pasar.

-Emas: Lindung nilai yang relatif stabil saat pasar bergejolak.

4.Hindari Investasi dengan Pinjaman

Investor sebaiknya menghindari penggunaan dana pinjaman atau leverage, terutama saat pasar volatil, karena dapat memperbesar risiko kerugian dan tekanan finansial.

“BNI Sekuritas memahami peningkatan kehati-hatian di tengah volatilitas pasar. Terpenting adalah memahami pilihan instrumen investasi yang tersedia, tetap disiplin, dan menyesuaikan strategi dengan tujuan jangka panjang. Dengan pendekatan ini, investor dapat menyikapi dinamika pasar dengan lebih percaya diri, serta melihat peluang di setiap pergerakannya. Seluruh proses investasi dapat dilakukan dengan aman dan nyaman melalui New BIONS by BNI Sekuritas, yang didukung riset akurat dari tim analis yang andal,” tutup Teddy.