IHSG Masih Dibayangi Volatilitas Tinggi dan Aksi Jual Asing, Ini Bocoran Strategi Mirae Asset Agar Portofolio Anda Tidak Ambyar

foto: dok. Mirae Asset Sekuritas

Pasardana.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat adanya tren penguatan IHSG setelah sempat melemah signifikan menyusul keputusan “interim freezerebalancing oleh MSCI.

Meski demikian, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kepercayaan terhadap transparansi dan kredibilitas pasar saham Indonesia.

Hal tersebut tampak dari masih berlanjutnya aksi jual bersih (net outflow) investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA.

“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar. Kami menilai, sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG masih tinggi dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing,” jelas Rully di sela-sela event Media Day di Jakarta, Jumat (13/2).

Ke depan, lanjutnya, arah pergerakan IHSG berpotensi masih fluktuatif dalam jangka pendek seiring ketidakpastian terkait keputusan akhir MSCI, arah arus modal asing, serta perkembangan sentimen eksternal seperti prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan pergerakan harga komoditas global.

Dari sisi domestik, peluang penguatan masih terbuka jika kebijakan pemerintah dan regulator mampu menegaskan komitmen terhadap peningkatan governance dan likuiditas pasar.

“Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, inflasi rendah, serta potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham berorientasi domestik. Namun demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” lanjut Rully.

Di kesempatan yang sama, Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas, Francisca Gerungan, menekankan bahwa kondisi volatil saat ini justru menjadi pengingat pentingnya strategi diversifikasi yang disiplin.

“Dalam situasi pasar yang bergerak cepat dan cenderung spekulatif, investor sebaiknya tidak terjebak pada euforia jangka pendek. Diversifikasi menjadi strategi yang semakin krusial untuk menjaga stabilitas portofolio,” ujar Francisca.

Ia menjelaskan, bahwa reksa dana dapat menjadi instrumen yang efektif, khususnya bagi investor baru yang belum memiliki kapasitas untuk melakukan seleksi saham secara mendalam.

Saat ini, komposisi investor reksa dana di Mirae Asset Sekuritas masih didominasi oleh nasabah ritel sebesar 99%, dengan pertumbuhan jumlah nasabah ritel mencapai 15% secara tahunan (YoY) per Januari 2026.

“Reksa dana memberikan diversifikasi secara otomatis, baik dari sisi sektor maupun jenis aset, serta dikelola secara konsisten oleh manajer investasi profesional. Di tengah volatilitas seperti saat ini, pendekatan yang terukur dan berbasis profil risiko jauh lebih penting dibandingkan mengejar momentum sesaat,” tegasnya.

Ditambahkan, bahwa untuk pendekatan yang lebih defensif, investor dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap. Sementara itu, untuk menangkap potensi kenaikan pasar saham secara bertahap, reksa dana campuran memberikan keleluasaan bagi manajer investasi dalam menyesuaikan komposisi saham dan obligasi secara dinamis, sejalan dengan perkembangan kondisi pasar.

Menurutnya, diversifikasi bukan bertujuan menghilangkan risiko, melainkan mengelolanya agar tetap sejalan dengan tujuan investasi.

Sebagai ilustrasi, investor dapat mempertimbangkan alokasi yang lebih seimbang, misalnya porsi dominan pada reksa dana dan sebagian kecil pada saham langsung, sesuai dengan profil risiko masing-masing.

“Pasar yang fluktuatif bukan alasan untuk keluar sepenuhnya, tetapi menjadi momen untuk menyusun portofolio yang lebih seimbang dan rasional. Investor perlu fokus pada konsistensi dan disiplin, bukan hanya pada pergerakan harian,” tutupnya.