Menteri Kelautan dan Perikanan|Sakti Wahyu Trenggono|Rumput Laut|pangan biru

Menteri KP Sebut Rumput Laut Jadi Bagian Penting Solusi Pangan

Oleh: Ronal

07 Oktober 2026, 00:55
Menteri KP Sebut Rumput Laut Jadi Bagian Penting Solusi Pangan

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono dalam National Seaweed Forum 2026 yang digelar di Jakarta, pada Selasa, (6/10) mengemukakan bahwa kebutuhan pangan di dunia yang terus meningkat sementara lahan yang tersedia semakin terbatas.

Dari data yang berhasil dirangkum, populasi dunia diproyeksikan meningkat dari 8,23 miliar jiwa pada 2025 menjadi 9,66 miliar jiwa pada 2050.

Hal tersebut tentu saja meningkatkan kebutuhan pangan global 50-60 persen dan permintaan protein daging serta ikan hingga 67 persen, termasuk kebutuhan ikan sebesar 179 juta ton atau naik 66 persen.

Sementara itu, populasi Indonesia sendiri diperkirakan meningkat dari 285,7 juta jiwa pada 2025 menjadi 320,7 juta jiwa pada 2050, sehingga kebutuhan protein mencapai 7,62 juta ton per tahun atau setara 35 juta ton ikan segar.

Sistem pangan berbasis darat juga disebut semakin terbatas sering laju konversi sawah lebih dari 100 ribu hektare (ha) per tahun yang diproyeksikan menyisakan hanya 5,1 juta ha lahan sawah pada 2045.

Akan hal ini, Menteri Trenggono menyebut bahwa rumput laut menjadi bagian penting solusi pangan yang dapat dibudidaya tanpa menambah tekanan pada lahan darat.

“Blue food (pangan biru) menjadi bagian penting solusi pangan, termasuk rumput laut yang dapat dibudidaya dan tanpa menambah tekanan pada lahan darat,” ujarnya, sebagaimana dikutip Antara.

Menteri Trenggono menganggap rumput laut bisa menjadi alternatif atau solusi pemenuhan kebutuhan pangan.

Tercatat, produksi rumput laut pada 2025 mencapai 11,6 juta ton, naik 18,27 persen dengan rata-rata produksi periode 2020-2025 sekitar 9,86 juta ton per tahun.

Hal ini dianggap sebagai kekuatan yang seharusnya menjadi fondasi kuat untuk peningkatan produktivitas rumput laut bernilai tambah tinggi.

Melihat dari sisi perdagangan ekspor rumput laut Indonesia pada 2025 mencapai 242 ribu ton dengan nilai 315 juta dolar AS, dengan China menjadi salah satu pasar utama yang hampir 70 persen didominasi oleh rumput laut kering, sehingga peluang hilirisasi masih sangat besar.

“Rumput laut menyumbang sekitar 42 persen dari total produksi perikanan, melibatkan lebih dari 200 ribu pembudidaya dan menunjang kehidupan lebih dari 1 juta penduduk Indonesia. Selain bernilai ekonomi, manfaat lingkungan melalui penyerapan karbon dan nutrien, serta perbaikan kualitas perairan,” terangnya.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 1.006 spesies rumput laut, tetapi baru enam spesies yang telah dibudidayakan oleh masyarakat.

Produksi komersial didominasi kappaphycus alvarezii dan kappaphycus striatus (rumput laut merah penghasil keraginan) sekitar 62,58 persen, eucheuma denticulatum (spesies alga merah) 20,78 persen, dan gracilaria (spesies alga merah penghasil agar-agar) 16,62 persen.

Di pasar global, produksi terbesar berasal dari jenis saccharina (alga cokelat) yang tumbuh di perairan dingin atau subtropis sekitar 10 juta ton, disusul kappa eucheuma (rumput laut merah) 9,2 juta ton, dan gracilaria 3,5 juta ton.

Indonesia sendiri dinyatakan menempati posisi strategis sebagai produksi rumput laut terbesar kedua di dunia, sekaligus produksi dan ekspor utama eucheuma dan gracilaria.

Menteri Trenggono mengatakan, kekuatan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan hilirisasi, menimbang sebagian besar rumput laut Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan baku, rumput laut kering.

Dalam hal ini, hanya sebagian yang telah diolah menjadi produk turunan primer seperti karagenan, agar, dan alginat, sementara pengembangan menuju produk turunan sekunder dan bernilai tambah tinggi bidang formasi, kosmetik, dan formulasi industri belum dilakukan.

Ia pun menyebut tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan rumput laut mencakup kualitas budidaya dan bibit, persoalan harga dan pasar, lalu logistik dan pembiayaan, serta tata kelola dan lingkungan.

Dampaknya adalah mutu dan produksi belum konsisten, harga belum mencerminkan kualitas, serta pendapatan pembudidaya dan pasokan industri belum stabil.

“Ini yang saya kira akan menjadi tugas Kementerian Kelautan Perikanan untuk diperbaiki,” kata Menteri Trenggono.

Mengacu masalah-masalah tersebut, pihaknya telah menyiapkan lima pilar rencana aksi terintegrasi terkait pengembangan rumput laut yang akan ditangani dari hulu hingga hilir.

Mulai dari peningkatan kualitas produksi, kemudian pengembangan industri, nilai tambah, akses pasar dan ekspor rumput laut; pengembangan data, inovasi, intermediasi, teknologi, kolaborasi, dan jejaring; peningkatan dukungan pembiayaan dan investasi, serta penguatan ekosistem dan tata kelola rumput laut (regulasi dan kelembagaan).

“Aras transformasi harus bergeser dari mengejar volume menuju produktivitas, nilai tambah, dan daya saing. Dengan demikian, potensi pasar rumput laut benar-benar dapat diterjemahkan menjadi industri yang kuat dan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir,” pungkas Menteri Trenggono.

Berita Terkini

See More