MSCI Mengulik Free Float Saham RI, Investor Asing Siap Cabut? BEI dan Analis Buka Suara

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pasar modal Indonesia kembali berada di bawah sorotan global.

Kali ini, perhatian tertuju pada langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tengah mengkaji ulang aspek free float saham-saham Indonesia yang masuk dalam MSCI Global Standard Indexes.

Isu ini langsung menyita perhatian pelaku pasar, lantaran berpotensi memengaruhi bobot saham Indonesia di indeks global dan arah aliran dana investor asing.

Kekhawatiran pun mencuat: apakah pengetatan perhitungan free float akan memicu capital outflow dari pasar modal Indonesia?

Free Float Jadi Kunci dalam Indeks Global

Dalam metodologi MSCI, free float didefinisikan sebagai porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik, tidak termasuk saham yang dikuasai pemegang saham pengendali, pemerintah, atau pihak strategis lainnya.

Besaran free float sangat krusial karena menjadi dasar penentuan bobot suatu saham dalam indeks global yang menjadi acuan berbagai produk investasi pasif, seperti ETF dan reksa dana indeks.

Sejumlah saham unggulan di Indonesia selama ini dikenal memiliki struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, dengan porsi pemegang saham mayoritas yang besar.

Kondisi tersebut membuat likuiditas efektif di pasar menjadi lebih terbatas dibandingkan angka kapitalisasi pasar yang terlihat di permukaan.

Ketika MSCI mulai menaruh perhatian lebih dalam terhadap transparansi dan akurasi data kepemilikan saham, pelaku pasar menilai ada potensi penyesuaian free float yang bisa berdampak langsung pada bobot saham Indonesia di indeks global.

Kekhawatiran Investor: Outflow Mengintai?

Analis pasar modal dari internal Pasardana.id menilai, jika MSCI menerapkan metodologi free float yang lebih ketat dan granular (lebih rinci), sejumlah saham Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot, bahkan tidak menutup kemungkinan dikeluarkan dari indeks tertentu.

“Dampak terbesarnya ada pada dana pasif yang mengikuti indeks MSCI secara ketat. Jika bobot turun, maka akan ada penyesuaian portofolio yang berpotensi memicu aksi jual,” ujar analis dari Pasardana.id.

Meski demikian, ia menilai potensi arus keluar dana asing tidak serta-merta bersifat permanen.

“Investor aktif (active funds) masih akan mempertimbangkan fundamental ekonomi Indonesia, kinerja emiten, serta prospek jangka panjang pasar domestik,” ujarnya.

Respons Pasar dan Reaksi Analis

Sejak MSCI membuka konsultasi tentang penggunaan data tambahan, termasuk laporan bulanan komposisi kepemilikan dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pelaku pasar menunjukkan kekhawatiran.

Banyak saham unggulan diprediksi mungkin memiliki free float lebih rendah jika dihitung dengan metodologi yang lebih ketat, sehingga berpotensi mengubah bobotnya dalam indeks global.

Akibatnya, indeks utama IHSG mencatat penurunan pada beberapa sesi perdagangan ketika kekhawatiran ini meningkat, karena investor menimbang kemungkinan terjadinya penyesuaian bobot serta potensi aksi jual oleh investor asing yang mengikuti indeks global.

Sebelumnya, analis pasar modal di sekuritas seperti Phintraco Sekuritas dan BRI Danareksa pernah menyebutkan, bahwa perubahan free float yang lebih ketat bisa mempengaruhi bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI, sehingga memicu risiko kapital keluar (outflow) terutama dari dana passive yang berinvestasi berdasarkan indeks.

BEI Angkat Bicara: Transparansi Jadi Fokus

Menanggapi isu ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara aktif berdiskusi dengan pihak MSCI untuk menjelaskan karakteristik pasar modal Indonesia.

BEI menekankan bahwa definisi free float yang digunakan di Indonesia berbeda dengan beberapa bursa luar negeri—di mana saham dengan kepemilikan di bawah 5% tidak selalu dihitung sebagai free float, sedangkan di pasar lain angka ambang yang digunakan bisa berbeda.

Belum lama ini, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa pertemuan dengan pimpinan MSCI berlangsung konstruktif dan BEI berupaya menyediakan data yang dibutuhkan untuk meningkatkan transparansi serta memperjelas metodologi perhitungan.

BEI juga menekankan agar metode yang digunakan MSCI berlaku secara adil dan seragam terhadap seluruh pasar termasuk Indonesia.

Sementara itu, peran KSEI dalam menyediakan data komposisi kepemilikan menjadi bagian dari diskusi teknis—namun kewenangan akhir dalam perhitungan free float tetap berada di BEI selaku operator bursa.

Pandangan Analis: Tekanan Jangka Pendek, Manfaat Jangka Panjang

Di sisi lain, analis pasar melihat isu free float ini sebagai tantangan sekaligus peluang.

Dalam jangka pendek, sentimen pasar bisa tertekan akibat ketidakpastian dan spekulasi penyesuaian indeks.

Namun dalam jangka panjang, dorongan menuju transparansi dinilai dapat memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

“Jika struktur kepemilikan semakin jelas dan data semakin transparan, justru ini bisa meningkatkan kepercayaan investor institusional jangka panjang,” kata analis lainnya.

Selain itu, isu ini juga mendorong emiten untuk mempertimbangkan peningkatan free float melalui aksi korporasi, seperti pelepasan saham pengendali secara bertahap atau secondary offering, guna menjaga daya tarik saham di mata investor global.

Dampak ke IHSG dan Sentimen Pasar

Kekhawatiran atas peninjauan free float MSCI sempat mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang menjadi lebih volatil seiring pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru.

Meski demikian, fundamental pasar modal Indonesia dinilai masih relatif solid, ditopang oleh pertumbuhan investor ritel, likuiditas yang membaik, serta kinerja ekonomi domestik.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati secara saksama setiap sinyal dari MSCI, termasuk hasil konsultasi dan potensi perubahan metodologi yang akan diterapkan pada periode peninjauan indeks berikutnya.

Lebih lanjut, penulis menilai, isu pengulikan free float saham Indonesia oleh MSCI menjadi pengingat bahwa transparansi dan struktur kepemilikan saham kini menjadi faktor krusial dalam peta persaingan pasar modal global.

Meski risiko jangka pendek berupa volatilitas dan potensi outflow tidak bisa diabaikan, langkah ini juga membuka jalan bagi reformasi dan penguatan pasar modal nasional.

Bagi investor, kunci menghadapi dinamika ini adalah tetap cermat, memahami risiko, dan tidak semata-mata terpaku pada sentimen jangka pendek—sebab di balik gejolak, peluang jangka panjang tetap terbuka.

Penulis: Harry Tanoso, Editor in Chief Pasardana.id - Artikel merupakan pandangan pribadi