Dirut PLN Akui Pemulihan Jaringan Listrik di Sumatra Hadapi Tantangan Terberat
Pasardana.id - Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengakui, tantangan dalam pemulihkan jaringan listrik di wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) sangat berat.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, pada Rabu (21/1), ia bercerita, kalau perjuangan petugas PLN memulihkan jaringan listrik, termasuk tower transmisi utama sangatlah kewalahan.
Darmawan mengatakan, kondisi bencana Sumatera kali ini berbeda jauh dengan tsunami Aceh pada 2004.
Kala itu, PLN bisa mengatasi masalah kelistrikan dengan cepat.
Sedangkan saat ini, tantangannya lebih berat dan luas.
Di awal laporannya, ia sempat menayangkan video upaya para petugas PLN memulihkan jaringan kelistrikan di wilayah bencana.
"Kami ada di lapangan berminggu-minggu dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan dan Tuhan Yang Maha Kuasa dan alam," ucapnya.
Dalam catatannya, ada 24 tower rusak, 19 tower roboh, 66 tower transmisi terdampak, dan 47 tower mengalami deformasi.
Khusus di Aceh, PLN menghadapi kerusakan transmisi dalam skala yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Gangguan terjadi di jalur transmisi Bireun-Arun-Peusangan yang menghubungkan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun dengan Bireun, Takengon, dan Banda Aceh.
Selain itu, jalur Langsa-Pangkalan Brandan yang menghubungkan sistem Aceh dengan interkoneksi Sumatera juga terdampak.
Darmawan juga mengatakan, tantangan untuk memperbaikinya sangat berat.
Sebab, di awal-awal masa bencana, akses jalan terputus.
"Saat awal, kami terkendala akses jalan yang masih terisolir. Kami mendirikan tiang listrik bukan dalam kondisi ideal. Ada tiang listrik yang sudah kami dirikan, roboh. Kami dirikan lagi, roboh, kami dirikan kembali," cerita Darmawan.
Ia juga mengakui, pihaknya tak bisa melakukan perbaikan sendirian.
Petugas PLN banyak dibantu aparat TNI, Polri, hingga masyarakat.
"Tim kami memberikan yang terbaik, di luar batas kemampuan kemanusiaan. Kami mengakui, ini momentum perubahan besar bagaimana kami menyikapi keandalan sistem kelistrikan," sambung dia.
Untuk saat ini, jelas Darmawan, jaringan listrik hampir pulih 100 persen.
Secara rinci, di Sumatera Utara, dari 6.223 desa terdampak, 99,97 persen telah kembali menyala.
Masih tersisa dua desa di Tapanuli Utara yang masih padam akibat banjir susulan.
Di Sumatera Barat, seluruh desa terdampak yang berjumlah 1.265 telah pulih sejak 23 Desember 2025.
Sementara untuk Aceh, dari sekitar 6.500 desa, masih terdapat 60 desa atau kurang dari 1 persen belum kembali menikmati aliran listrik.
Desa-desa tersebut tersebar di sejumlah kabupaten: Aceh Barat (1 desa), Aceh Tamiang (6 desa), Aceh Timur (3 desa), Aceh Utara (1 desa), Bireun (1 desa), Bener Meriah (12 desa), Gayo Lues (7 desa), serta Aceh Tengah (29 desa).
Ia pun menyambut baik bantuan 1.000 genset dari Kementerian ESDM.
Dirinya juga mengambil pelajaran melakukan evaluasi besar-besaran.
Kata dia, perlu perencanaan matang dalam menangani daerah bencana.
Lebih lanjut Darmawan mengaku, kriteria keamanan infrastruktur yang selama ini ternyata sudah tidak relevan lagi dengan kondisi perubahan iklim saat ini.
Contohnya, gardu induk yang selama 80 tahun sejarah PLN tak pernah tersentuh banjir, justru terendam dan tertimbun lumpur, serta ribuan tiang listrik yang ambruk secara bersamaan.
Menurut dia, PLN harus punya planning of contingency atau rencana alternatif jika bencana terjadi.
PLN kini men-tracking potensi siklon dan bencana lain yang mungkin bisa mengganggu jaringan listrik.
"Misalnya arahnya menuju Jawa Barat, seluruh sistem kami siapkan. Tower emergency kami siapkan. Apabila ada 15 tower yang roboh, kami sudah siap helikopter yang jika perlu kami akan kerahkan secara cepat," ujar Darmawan.
Untuk itu, ia meminta setiap General Manager (GM) PLN di seluruh Indonesia untuk tetap bersiap.
Utamanya dalam mengantisipasi bencana yang perlu penanganan cepat.
Dia menegaskan, kekuatan alam hanya bisa disikapi dengan perencanaan yang jauh lebih matang.
"Jika ada episentrum bencana baru, semua siap di-deploy hitungan jam, baik orangnya maupun peralatannya. Ini adalah wake-up call bagi kami," tegasnya.
Untuk pelayanan kepada korban bencana, PLN menggratiskan biaya token listrik 600 penghuni hunian sementara (huntara) yang dibangun Danantara selama 6 bulan.
Juga menggratiskan pemasangan instalasi listrik, paket pemasangan baru (multiguna), penerangan jalan umum (PJU), serta fasilitas umum di kawasan hunian Danantara.

