ANALIS MARKET (01/3/2024) : Dibayangi Aksi Profit Taking, IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, diperdagangan kemarin (29/2), NASDAQ memimpin penguatan bursa saham AS untuk kesekian kalinya, bahkan ditutup pada titik rekor tertinggi sejak 2021, didukung rally terkait perusahaan terkait AI, berbekal laporan Inflasi AS yang in-line dengan ekspektasi serta komentar dari beberapa pejabat Federal Reserve mendukung harapan pemotongan suku bunga mampu terwujud di musim panas tahun ini.

Baik NASDAQ dan S&P500 membukukan performa bulanan terbaik mereka sejak November, di mana SP&P500 menguat 5.17%, NASDAQ melonjak 6.12%, dan DJIA naik 2.22%; merupakan kenaikan di bulan keempat berturut-turut.

Russel 2000 Small Cap index pun turut terapresiasi 5.45% untuk bulan Februari.

DATA EKONOMI: PCE price index dirilis sesuai perkiraan, di mana menguat 0.3% mom serta 2.4% yoy untuk bulan Januari, merupakan kenaikan tahunan terendah sejak Feb 2021 menyusul pertambahan 2.6% di bulan Desember, sehingga meredakan kekuatiran para investor bahwa tingkat Inflasi yang susah turun akan membuat The Fed pertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama. Ditambah lagi, laporan mingguan Initial Jobless Claims mendata naiknya 13 ribu klaim pengangguran pada pekan yang berakhir 17 Feb (total actual : 215 ribu) , di atas prediksi para ekonom bertambah 8 ribu (forecast: 210 ribu). Malam ini gelombang indikator ekonomi masih akan berlanjut dengan laporan penting : Manufacturing PMI (Feb) dari S&P500 serta ISM, Construction Spending (Jan), serta pandangan-pandangan penting dari University of Michigan terkait ekspektasi Inflasi & konsumen mengenai iklim usaha 6 bulan ke depan.

MARKET SENTIMENT LAINNYA: Menyikapi semua data tersebut, yield US Treasury sontak melemah terbatas namun masih ditopang oleh data pendapatan pribadi (Personal Income) yang mencakup gaji, pendapatan dari property, plus keuntungan lain-lain, meningkat 1% di bulan Januari dan oleh karenanya akan menjaga daya belanja konsumen / masyarakat tetap solid. Dua pejabat The Fed pun dikutip satu suara bahwa mereka cukup optimis pemotongan suku bunga dapat terealisasi tahun ini, walau tak menyebutkan waktu yang spesifik sekitar bulan-bulan di musim panas. Seperti diketahui, para pelaku pasar telah memperhitungkan peluang terbesar pivot terwujud adalah di bulan Juni , seperti dilansir dari CME FedWatch Tool. Di tempat lain, Dewan Perwakilan Rakyat AS membuat kemajuan dalam usaha mereka menghindarkan shutdown pemerintahan Presiden Joe Biden, dengan mendukung permohonan untuk memperpanjang pembiayaan pemerintah selama 1 minggu , supaya diluluskan oleh dewan pimpinan tertinggi.

MARKET ASIA: Jepang laporkan BoJ Core CPI yang stabil di level 2.6% yoy di bulan Februari, lebih tinggi dari ekspektasi 2.3%, namun didukung oleh Construction Orders yang menguat drastis ke tingkat 9.1% di bulan Jan, dibanding 0.4% pada bulan sebelumnya ; merupakan angka pertumbuhan ekonomi yang disikapi positif oleh pasar, karena mengimbangi data perkiraan awal Industrial Production yang terdepresiasi berat minus 7.5% di bulan Januari, ketimbang 1.4% pada bulan sebelumnya. Pagi ini (01/3), Jepang telah umumkan Unemployment Rate (Jan) yang masih tak berubah di level 2.4%. Lebih lanjut hari ini, dinantikan data au Jibun Bank Japan Manufacturing PMI (Feb) yang diharapkan akan semakin bergerak naik menuju arah batas ekspansif. Sementara itu, negara tetangga Negeri Ginseng , Korea Selatan publikasikan angka surplus Trade Balance jauh di atas perkiraan, terbantu oleh angka Impor yang semakin anjlok , persentase penurunannya lebih besar daripada pertumbuhan Ekspor. Yang lebih menjadi highlight hari ini dari benua Asia adalah pengumuman Chinese Composite PMI (Feb) yang mana sepertinya China masih harus lebih menggantungkan harapan pada sektor Jasa untuk menjaga PMI tetap berada di atas level 50.

MARKET EROPA: Benua Eropa tak mau kalah dengan menggelar sejumlah indikator ekonomi sejak kemarin, terutama banyak datang dari Jerman: Retail Sales (Jan) masih terkontraksi walau laju penurunannya sudah mulai tertahan, namun tak demikian dengan Tingkat Pengangguran mereka yang terpaksa bertumbuh 0.1% menjadi 5.9% di bulan Feb. Sejumlah indikator Inflasi Jerman memperkirakan posisi CPI bulan Februari akan relatif lebih lunak dari bulan sebelumnya, dengan demikian menelurkan perkiraan awal German CPI (Feb) berada di level 2.5% yoy, jelas melandai dari bulan sebelumnya di 2.9%. Lebih lanjut lagi hari ini masih akan ada sederet indikator ekonomi yang menjadi makanan para investor, seperti Manufacturing PMI (Feb) bagi Jerman dan Eurozone serta Inggris, sementara Eurozone akan merilis perkiraan awal Inflasi (Feb) di mana pertumbuhan tahunan diperkirakan terkendali pada level 2.5% yoy, dibanding 2.8% pada bulan Jan. Sore hari ini akan ditunggu pula angka Unemployment Rate Eurozone yang sepertinya masih akan berkisar sekitar 6.4% di bulan Januari.

KOMODITAS: Harga MINYAK ditutup melemah tipis pada hari terakhir bulan Februari, tapi mencatatkan keuntungan 2 bulan berturut-turut, didukung oleh supply yang lebih ketat serta harapan terwujudnya pemotongan suku bunga AS di musim panas berhubung data Inflasi menunjukkan trend turun. Futures US WTI turun 0.4% ke harga USD 78.26 / barrel, sementara kontrak Brent drop 0.3% ke harga USD 81.88 / barrel. Ekspektasi pun datang dari OPEC+ yang akan perpanjang pemangkasan produksi mereka di kuartal kedua, di tengah harapan khalayak ramai untuk pertahankan pembatasan produksi ini bahkan sampai akhir tahun 2024. OPEC+ dijadwalkan mengadakan rapat awal bulan Maret ini untuk memutuskan hal tersebut, setelah di bulan November memutuskan untuk mengadakan pemotongan produksi sukarela sebesar 2.2 juta barrel / hari di kuartal 1 / 2024. Harapan atas pembatasan produksi minyak ini bertepatan dengan angka output AS yang tengah berada di titik rekor mereka, sekitar 13.315 juta barrel / day seperti terdata di bulan December, seperti dikutip dari data Energy Information Administration (EIA). Di sisi lain, kekuatiran lesunya permintaan global terutama dari China masih akan membuat demand dari negara pengimpor minyak nomer satu dunia ini masih stagnan. Sementara itu, konflik berkepanjangan di Timur Tengah masih belum menunjukkan tanda2 usai, di mana baik Israel maupun Hamas tampaknya tidak mendukung prospek gencatan senjata atas perang mereka di wilayah Gaza.

INDONESIA: tentunya perhatian para pelaku pasar hari ini akan terpusat pada angka Inflasi (Feb) yang diramal bakal relatif flat pada 2.6% yoy, dari 2.57% di bulan Jan. Inflasi Inti pun diperkirakan tak akan banyak berubah dari 1.68% di bulan Jan, menjadi 1.71% untuk bulan Feb. Posisi penutupan IHSG kemarin agak terjaga di sekitar MA10 setelah pada perdagangan intraday sempat melemah kembali ke sekitar 7290.

Menyikapi kondisi diatas, analis NH Korindo Sekuritas mengasumsikan uptrend jangka menengah ini masih intact secara IHSG masih bergerak di atas level support dari pattern PARALLEL CHANNEL yang terbentuk sejak bottom November lalu.

Masih terbuka kemungkinan IHSG mampu lanjutkan penguatan di penghujung pekan ini menuju TARGET 7380-7400 titik all-time-high, namun sebaiknya para investor / trader membatasi positioning mendekati area resistance yang rawan profit-taking.

“Harga saat ini berkonsolidasi di kisaran antara 7250-7270 dan 7360-7406. Indeks berpotensi bergerak menuju resistensi setelah pemantulan sebelumnya dari support,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Jumat (01/3).