Bisnis Retail Pasca Pandemi Harus Adaptif dan Transformatif

foto : istimewa

Pasardana.id - Perpanjangan pembatasan sosial oleh pemerintah menjadi tantangan tersendiri bagi para pegiat retail Indonesia.

Berbagai kebijakan pemerintah untuk memberantas COVID-19 tak sejalan dengan visi pengusaha yang kian getir untuk mempertahankan penjualan.

Menjawab tantangan tersebut, Marketeers menyelenggarakan Marketeers Goes to Mall Episode 4, Meet The Tenants: Navigating Retail Business Beyond Pandemic.

Diadakan secara virtual melalui zoom dan kanal Youtube Marketeers, webinar tersebut dihadiri lebih dari 100 peserta di seluruh Indonesia.

Webinar yang diadakan secara virtual tersebut menghadirkan Hermawan Kartajaya, Founder dan Executive Chairman MarkPlus, Inc., Lina Paulina, VP Kanmo Retail Group, dan Patricia Husada, General Manager Martha Tilaar Shop Indonesia.

Founder dan Executive Chairman MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya mengungkapkan bahwa dirinya tidak
percaya mall akan hilang dan semuanya pindah ke online.

"Adaptif dan transformatif, adaptif itu biasa, tapi sekarang harus ada tujuannya. Kalau anda tidak punya tujuan 2030 nanti mau jadi tenant yang seperti apa, anda akan habis," ungkap Hermawan, seperti dilansir dari siaran pers, Kamis (19/8).

Hermawan menambahkan, dirinya tidak percaya mall akan hilang dan semuanya pindah ke online. Menurutnya, teknologi ini bergantung lebih ke sosial daripada individual.

"Offline gak bisa hilang. Justru sekarang online berusaha ke humanity juga. Sudah dari 6 tahun yang lalu saya bilang kecenderungannya sekarang digital transformation semua, padahal sekarang yang dibutuhkan juga human transformation. Butuh pelatihan kembali untuk orang-orang yang jaga di shop," ungkap Hermawan.

VP Kanmo Retail Group, Lina Paulina, menegaskan pentingnya menerapkan strategi OMNI untuk menjangkau konsumen di masa krisis.

During this pandemic retail dampaknya yang paling terasa, titik poin kita ditutup untuk support government, tapi untungnya OMNI channel bukan sesuatu yang baru untuk kita. Saat pandemi kita sudah have a good start dengan OMNI. Ada di marketplace, website, sudah ready untuk menghadapi pandemi. Sebelum pandemi kami juga launch salah satu lokal brand yang kita lihat potensialnya, kita going ke middle class market, trennya peaking up, dan orang juga sudah mulai looking up ke local brand," ungkap Lina.

Sejalan dengan pernyataan Lina, GM Martha Tilaar Shop Indonesia, Patricia Husada mengungkapkan, pihaknya melakukan berbagai inovasi semasa pandemi secara OMNI.

“Sejak 2020 Januari, Martha Tilaar Shop objektif besarnya ada 2, kita menjawab peraturan pemerintah dimana manufacture tidak bisa menjual ke konsumen. Menjadi profit center, kita men-develop lebih besar lagi bisnisnya. Saat ini kami punya Sariayu official store di marketplace, untuk di mall kita masih pakai nama Martha Tilaar Shop. Kita ada di beberapa mall saat ini, tapi dengan pandemi yang mengejutkan ini membuat kita harus merubah sedikit formasi," bebernya.

Pelaku usaha retail juga dinilai harus mampu dengan dinamis mengembangkan customer relationship dan customer confidence agar dalam jangka panjang memungkinkan mereka untuk mengembangkan penawaran produk yang tepat.

“Sales bisnis berkurang terdampak pandemi, akhirnya kita bikin apa yang kita bilang Sales by WA, artinya tim kita yang ada di store melakukan penjualan by WA. Pada saat itu masih di handphone masing-masing dengan database yang kita punya, saat itu membantu menambahkan omset. Sementara itu kita membangun bisnis onlinenya, tumbuh lumayan lah, hampir 300-400% ada dengan bisnis online," tambah Patricia.

Menutup diskusi, Patricia mengungkapkan bahwa terdapat perubahan consumer behaviour pasca pandemi.

“Dengan pandemi perubahan perilaku konsumen itu luar biasa. Mereka ga akan lama-lama juga datang di mall. Semakin kesini memang harus lebih kreatif lagi, tapi objektifnya adalah bagaimana mempertahankan omset tapi dengan menekan biaya agar cashflow bisa jalan," tutup Patricia.