Wapres Jusuf Kalla Nilai Kemajuan Industri 4.0 Harus Dibarengi Dengan Peningkatan SDM

foto : istimewa

Pasardana.id - Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) mengatakan kemajuan industri 4.0 tidak cukup dengan pendanaan infrastruktur saja. Menurutnya, kemajuan industri 4.0 juga harus beriringan dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Orang yang menguasai teknologi pasti memiliki pendidikan yang lebih tinggi. Itulah mengapa pemerintah juga melakukan peningkatan SDM," ujar Wapres, Kamis (11/7/2019).

Menurut JK, sudah saatnya pendidikan vokasi dan pendidikan teknologi menjawab tantangan kemajuan industri yang tengah berlangsung itu.

"Karena itu pendirian politeknik contohnya atau SMK yang bermutu, merupakan bagian menyesuaikan diri dengan program tersebut," imbuh JK.

Dirinya juga menyetujui jika pendidikan mutlak diperbaiki untuk menjalankan kemajuan teknologi, namun menurut JK, industri juga seharusnya melangkah untuk merangkul dunia pendidikan.

"Yang mengetahui SDM itu industri sendiri karena itu industri yang harus bekerja sama dengan pendidikan untuk memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri," ujar JK 
Wapres mengatakan masalah pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

"Pemerintah harus mendorong pendidikan untuk mengarah ke sana (revolusi industri 4.0). Itu tugas pemerintah dan tugas kita semua," jawab dia.

Sebab, menurut JK, negara tidak mungkin memaksa industri untuk bergerak sendiri. Namun ia menilai industri sebagai mitra dalam pembangunan SDM di Indonesia mencontoh dari apa yang dilakukan Eropa dan Asia.

"Pendidikan ini ada dua macam arahnya, pendidikan yang liberal atau skill, liberal yang umum dilakukan di Amerika Serikat (AS), kalau skill dulu ada namanya link and match di Eropa dan Asia dengan mengutamakan skill," ujar dia.

Wapres mengatakan pendidikan liberal atau pendidikan yang memberi kebebasan pada masyarakat dan industri untuk menentukan sendiri langkahnya membuat AS berhenti berinovasi.

"Di Asia dan Eropa ada sistem pendidikan link and match, yang lebih banyak kepada skill. Karena itu juga lebih banyak yang memakai teknologi mereka dan mereka bisa mengembangkan teknologi itu," tandas JK.