Incar Pendapatan Rp6,03 Triliun, FAST Siapkan Belanja Modal Rp280 Miliar

foto : istimewa

Pasardana.id - PT Fast Food Indonesia (FAST) pada tahun 2018 membidik pendapatan sebesar Rp6,03 triliun. Untuk mendukung target itu, perseroan merencanakan menambah 35 gerai baru dan 20 KFC box, sehingga total restoran milik Antoni Salim itu mencapai 670 gerai.

Head Advisor FAST, Shivashish Pandey menyatakan, pihaknya telah menganggarkan belanja modal tahun 2018 sebesar Rp280 miliar yang dananya berasal dari kas internal. Belanja modal itu diperuntukan bagi pembukaan gerai baru dan perbaikan gerai lama.

"Untuk pembukaan gerai baru butuh dana Rp4,5 miliar hingga Rp9 miliar, sedangkan untuk pembukaan setiap KPC Box butuh Rp1,5 miliar," jelas Pandey di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan FAST, Justinus D Juwono yakin, sepanjang tahun ini perseroan mampu membukukan pendapatan Rp 5,48 triliun atau 9,84% dari periode sama 2016 di kisaran Rp 4,99 triliun. Dan, hingga September tahun ini pendapatan telah tercatat sebesar Rp 3,89 triliun.

Ia menjelaskan, beberapa faktor yang menopang pencapaian itu. Antara lain; karena harga rata-rata lebih rendah dari tahun lalu. Kondisi itu didukung pengadaan lebih banyak. Kemudian meningkatkan efisiensi ayam restoran KFC dengan mengurangi sisa ayam.

"Tentunya, kami juga melakukan inovasi dalam menyediakan menu-menu favorit konsumen dengan harga terjangkau," tuturnya.

Lebih lanjut Juwono menambahkan, FAST melakukan penetrasi pasar ke daerah-daerah pinggiran. Menurutnya, perluasan jaringan restoran penting di tengah persaingan ketat.

"Menyulap perwajahan dan tampilan KFC dengan semangat zaman now tengah digalakkan. Itu dengan harapan konsumen kalangan milenial lebih betah berlama-lama," kata Juwono.

Meski demikian, terdapat faktor negatif yang menghadang. Misalnya, kenaikan upah minimum nasional menggerus hasil operasional, efeknya perusahaan tidak agresif menerima karyawan baru. Selanjutnya, adanya faktor kenaikan bahan baku material handling dan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Selain itu, pertumbuhan kuliner-kuliner lokal menambah ketat persaingan," ucapnya.