MARKET REVIEW, Senin (05/12/2016)
Pasardana.id - Dalam paparan risetnya yang diterima Pasardana.id, di Jakarta, Senin (05/12/2016), Research & Analyst PT Corfina Capital, Putu Wahyu Suryawan menyoroti beberapa faktor yang diperkirakan bakal mempengaruhi pola perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia pada hari ini, Senin (05/12/2016).
Beberapa faktor yang dimaksud, terangkum dalam market review berikut ini:
Wall Street Review
Bursa Wall Street pada perdagangan akhir pekan lalu, ditutup bervariasi, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.11% pada level 19,170.42, S&P 500 tercatat menguat +0.04% pada level 2,191.95 dan Nasdaq tercatat mengalami penguatan +0.09% pada level 5,255.65. EIDO mengalami penguatan sebesar +2.14% pada level 23.90.
Pergerakan Bursa Wall Street yang cenderung stagnan terjadi setelah data tenaga kerja Amerika Serikat tercatat positif dan mengindikasikan semakin kuat probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada tanggal 14 - 15 Desember 2016.
Unemployment Rate pada bulan November tercatat mengalami perbaikan pada level 4.6%, dibandingkan bulan Oktober yang tercatat pada level 4.9% dan Non Farm Payrolls pada bulan November tercatat mengalami peningkatan menjadi 178.000, lebih tinggi dari bulan Oktober yang tercatat sebesar 142.000.
Adapun Dollar Spot Index menurut data Bloomberg mengalami pelemahan sebesar -0.27% pada level 100.770.
Komoditas
Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi setelah menguat signifikan pasca kesepakatan pengurangan output produksi oleh OPEC, minyak WTI tercatat melemah sebesar -0.77% pada level 51.28 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -0.94% pada level 53.95 USD/barel.
Harga Emas mengalami penguatan +0.26% pada level 1,180.49, harga batu bara untuk kontrak bulan Januari 2017 tercatat melemah tipis sebesar -0.12% pada level 82.20 USD/metric tonnes.
Untuk harga CPO berdasarkan MPOC tercatat mengalami pelemahan sebesar -0.10% pada level 3,076 RM/metric tonnes. Harga tembaga mengalami pelemahan tipis sebesar -0.10% pada level 262.25 USD/lb.
Pada pertemuan di Wina, OPEC sepakat untuk memangkas output produksi minyak sebesar 1.2 juta barel per hari untuk menstabilkan harga minyak mentah dunia. Sementara itu, Indonesia memutuskan keluar dari OPEC karena tidak sanggup memenuhi kesepakatan tersebut, mengingat Indonesia merupakan negara pengimpor minyak mentah, sehingga apabila output produksi Indonesia dikurangi, maka impor minyak akan kembali tinggi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Eropa Update
Dari Eropa, Hasil Referendum Italia menolak diadakannya reformasi konstitusi oleh Perdana Menteri Matteo Renzi, dan dengan adanya hasil tersebut Matteo Renzi menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya saat ini.
Sebanyak 42% - 46% pemilih ingin diadakan reformasi dan sebanyak 54% - 58% menyatakan untuk tidak dilakukan reformasi, data tersebut berdasarkan RAI.
Hal tersebut menyebabkan EURO mengalami pelemahan sebesar -0.8% pada level $1.0582 dan pasar Asia kembali bergejolak Karena keputusan tersebut, dimana Indeks Jepang melemah -0.6%, Australia S&P/ASX 200 Index turun -0.7% dan Indeks Kospi melemah -0.4%.
Indonesia Market
Pada perdagangan akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup mengalami penguatan +47.201 poin atau +0.91% pada level 5,245.956.
Penguatan terjadi setelah aksi damai 212 berlangsung aman dan tentram karena kontribusi dari berbagai pihak yang bertanggung jawab mengamankan dan melancarkan aksi tersebut.
Hal ini mendapat respon positif dari investor yang memandang walaupun perbedaan politik cukup signifikan di Indonesia, tetapi demokrasi Indonesia terbilang sudah cukup dewasa.
Tetapi investor asing masih melakukan net sell sebesar 275.98 Milyar Karena antisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertengahan Desember ini.
Sedangkan untuk Obligasi Pemerintah tercatat mengalami penguatan sebesar +0.1478% pada level 111.4626 dengan Effective Yield saat ini sebesar 8.0456%.
Pada hari ini, IHSG diperkirakan akan terpengaruh oleh hasil referendum Italia yang menolak reformasi konstitusi dari Perdana Menteri Matteo Renzi, walaupun secara perdagangan, porsi ekspor Indonesia ke Italia tidak terlalu signifikan, namun dampak yang terjadi lebih kepada pasar finansial.
Pada bulan ini, setelah kondisi politik dalam negeri berlangsung aman, investor akan kembali tertuju pada The Fed yang memiliki probabilitas cukup besar untuk kembali menaikkan suku bunga acuan, mengingat data tenaga kerja Amerika Serikat mencatatkan perbaikan yang cukup signifikan.
Walaupun demikian, di akhir tahun ini merupakan momentum yang cukup bagus untuk mengakumulasi Instrument Obligasi dan Saham, mengingat adanya siklus Window Dressing dan January Effect.
Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia saat ini masih lebih baik dibandingkan tahun 2015 lalu, ditengah ketidakpastian global yang terjadi saat ini, sehingga Indonesia masih layak menjadi destinasi Investasi para Investor, tentu dengan memperhatikan risiko yang terjadi.
Buy On Weakness pada instrument Obligasi, Saham dan Reksa Dana di Indonesia sangat layak dilakukan untuk meminimalisir resiko yang ada.
Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan akan mengalami konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada range harga 5,210 - 5,290.
Â

