Pungutan Penerbitan Obligasi Ramah Lingkungan Akan Dipotong

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera memberlakukan rancangan peraturan tentang penerbitan dan persyaratan obligasi berwawasan hijau atau obligasi ramah lingkungan dalam waktu dekat ini. Salah satu daya tarik yang ditawarkan regulator pasar modal itu adalah potongan pungutan penerbitan efek tersebut.

Deputi Direktur Pengaturan Pasar Modal 2 OJK, Ri Agus Nugroho menyatakan, rancangan POJK tentang penerbitan dan persyaratan obligasi ramah lingkungan telah dalam finalisasi dan menunggu pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM.

"Jadi setelah RPOJK-nya terbit, perusahaan yang ingin menerbitkan green bond (obligasi ramah lingkungan) bisa segera melakukan pendaftaran pernyataan," kata Agus di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Ia menambahkan, untuk mendorong perusahaan menerbitkan obligasi ramah lingkungan, regulator pasar modal itu akan memberi insentif dalam bentuk potongan pungutan penerbitan efek bersifat utang.

"Sementara ini hanya dalam bentuk potongan pungutan, tapi besarannya akan diatur dalam aturan turunan POJK tersebut," kata dia.

Untuk diketahui, dalam PP No. 11 tahun 2014 tentang pungutan OJK disebutkan bahwa besaran pungutan penerbitan efek bersifat utang sebesar 0,05% dari nilai penerbitan obligasi dan paling besar Rp750 miliar.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia, Hamdi Hassyarbaini mengatakan, penerbitan POJK tersebut selaras dengan permintaan investor terkait dengan panduan berinvetasi pada efek-efek yang ramah lingkungan.

"Waktu kami ke Luxemburg, Fund Manager-nya menyarankan perusahaan penerbit efek di Indonesia juga mengacu pada kaidah-kaidah Sustainable Development Goals," kata dia.

"Apalagi permintaan penerbitan efek ramah lingkungan tergolong besar," sambungnya.

Lebih lanjut, Hamdi mengambarkan, total nilai penerbitan efek ramah lingkungan secara global pada tahun 2016 mencapai USD81 miliar dan tahun 2017 ditargetkan sebesar USD150 miliar.

"Jadi memang permintaannya sangat besar, apalagi investor global tidak hanya melihat keuntungan jangka pendek tapi juga jangka panjang," tutup dia.