Imbal Hasil SUN Berdenominasi Dollar AS Bervariasi

foto : istimewa

Pasardana.id ââÅ¡¬“ Analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra dalam riset hariannya yang diterima Pasardana.id, Senin (22/8/2016), mengungkapkan bahwa pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi dollar Amerika, tingkat imbal hasilnya pada perdagangan di akhir pekan kemarin, Jumat (19/8/2016), bergerak bervariasi dengan tingkat perubahan yang relatif terbatas.

Imbal hasil dari INDO-20, INDO-26 dan INDO-46 masing - masing mengalami penurunan imbal hasil yang kurang dari 1 bps dengan tingkat imbal hasilnya yang sebesar 2,12%; 3,14% dan 4,24%.

Adapun seri INDO-17, INDO-18, dan INDO-19 merupakan beberapa seri yang mengalami kenaikan imbal hasil pada perdagangan di akhir pekan.

Adapun volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp5,96 triliun dari 32 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dimana untuk seri acuan volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,77 triliun.

Surat Perbendaharaan Negara seri SPN03160908 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp963,16 miliar dari 7 kali transaksi di harga rata - rata 99,76%. Adapun Obligasi Negara seri FR0072 menjadi Surat Utang Negara yang paling aktif diperdagangkan, sebanyak 57 kali transaksi dengan volume perdagangan senilai Rp239,36 miliar.

ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Sementara itu, Sukuk Negara Ritel seri SR006 menjadi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp201,72 miliar dari 6 kali transaksi,ââÅ¡¬ jelas I Made.

Adapun dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp745 miliar dari 33 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan II Waskita Karya Tahap I Tahun 2016 (WSKT02CN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp214 miliar dari 6 kali transaksi. Obligasi dengan peringkat "idA-" dan akan jatuh tempo pada 10 Juni 2019 tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 100,15% dengan tingkat imbal hasil sebesar 9,18%.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup dengan mengalami pelemahan sebesar 43,00 pts (0,33%) pada level 13163,00 per dollar Amerika. Bergerak pada kisaran 13110,00 hingga 13194,00 per dollar Amerika, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terlihat mengalami pelemahan sejak awal sesi perdagangan.

Sebagian besar mata uang regional terlihat mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika dengan pelemahan terbesar didapati pada Won Korea Selatan (KRW), dan diikuti oleh Dollar Taiwan (TWD) dan Dollar Singapura (SGD).

Mata uang regional mengalami koreksi di akhir pekan di tengah spekulasi kapan Bank Sentral Amerika akan kembali menaikkan suku bunga acuan.