Sebaiknya Investor Permudah Investment Proses

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Belakangan ini, pelemahan rupiah mewarnai gejolak pasar modal tanah air (Bursa Efek Indonesia). Indeks harga saham gabungan (IHSG) pun sempat melemah ke level 5700-an. Bahkan, dana asing juga sempat hengkang dari pasar modal. 

Menanggapi hal ini, pengamat pasar modal, Ernawan Salimsyah, yang juga adalah Director Indo Premier Investment Management menyebut ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan tersebut diatas.

“Ada dua faktor yang menyebabkan apa yang kita lihat di market hari-hari belakangan ini. Faktor eksternal yang mungkin di luar dari kontrol kita dan faktor internal,” ujar Ernawan dalam sesi wawancara disebuah media bisnis, baru-baru ini.

Untuk faktor eksternal, jelas Ernawan, selain kontroversi pernyataan-pernyataan dari Presiden AS, Donald Trump, juga soal trade war dengan China.

“Lalu yang 2-3 bulan terakhir ini ada Turki, karena tarif dan masalah politik. Karena kan Erdogan itu, orang yang extrovert juga, bicaranya sama seperti Trump. Akibatnya, menimbulkan spekulasi banyak orang dengan kejadian selanjutnya. Tapi kenyataannya, di Turki itu secara fundamental inflasinya tinggi. Itu yang orang katakan bisa menular ke tempat lain. Dan, yang terakhir adalah Argentina. Jadi yang eksternal itu akan terus berlanjut,” tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan, faktor eksternal ini memang di luar kontrol. Meski demikian, diakuinya, hal tersebut (krisis – Red) kecil kemungkinannya berimbas ke Indonesia.

“Jadi saya garis bawahi, kalau sifatnya eksternal, kecil kemungkinannya berimbas ke Indonesia. Sebaiknya investor mengambil peluang itu untuk beli. Kecuali kejadiannya seperti 2008, misalnya. Pada tahun 2008 itu kan, 2/3 ekonomi dunia collapse karena subprime mortgage. Ya waktu itu, market kita turun dalam, tapi sebenarnya ekonomi kita masih tumbuh 4% di 2008. Seharusnya kita lebih hati-hati karena marketnya terkoreksi cukup dalam. Kenyataannya, dengan krisis sebesar itu pun, 1 tahun kemudian marketnya rebound, naik 90% - 100%. Jadi, loss yang 6 bulan lalu kejadian, tiba-tiba hilang bahkan naik lebih tinggi lagi. Unfortunately, kalau saya perhatikan di 2008 investor lokal panik dan ikut keluar, pas lagi race to the bottom itu. Nah, kemudian pas naik lagi ke atas, mereka juga terlambat masuk. Foreign dulu yang masuk, pas sudah mahal investor lokal baru beli,” terang Ernawan.

Mengenai rupiah, lanjut dia, penyebabnya karena menguatnya mata uang dolar karena capital flight to quality dari negara-negara yang bermasalah yang tadi disebut diatas.

“Dolar menguat hampir terhadap semua mata uang, termasuk Indonesia. Nah, harus diingat, dibanding 2012, maupun 2018, apalagi 1998, saat ini kondisi makro ekonomi Indonesia jauh lebih kuat,” jelasnya.

Ernawan merinci, di 2012, cadangan devisa Indonesia masih sedikit, belum mendekati 100 miliar. Tapi sekarang (2018), cadangan devisa Indonesia sudah 118 miliar.

Tahun 2012, ekonomi Indonesia juga belum investment grade seluruhnya, sekarang 3 lembaga rating, 2 investment grade, 1 sudah notch di atas investment grade.

Untuk inflasi, pada 2012 inflasi kita relatively lebih tinggi. Jadi dengan kondisi seperti ini, kondisi ekonomi kita saat ini lebih solid dibanding dengan 2012, 2008, apalagi 1998.

“Saya mau kasih gambaran ekstrem, kalau orang khawatir dengan 1998. Pada tahun 1998 itu, dolar dari Rp 3.000, bergerak ke 18 ribu. Kira-kira 600% depresiasinya. Sekarang kita dari Rp 13 ribu ke Rp 14 ribu. Jadi kalau mau dipetakan, yang satu itu soaring up, yang sekarang itu sebenarnya landai. Tapi orang bilangnya gini, wah sudah 15 ribu nih, nanti seperti dulu lagi nih. Bahkan, kalau ada orang yang bilang sebetulnya ke 18 ribu pun gak apa-apa, karena base-nya memang high, dari 13 ribu ke 18 ribu. Walau pun secara angka sudah new record, tapi secara persentase ini yang penting harus kita lihat. Persentase-nya sebetulnya masih flat, masih landai dibanding 1998. Jadi daya beli masyarakat juga tidak terpuruk dan inflasi rendah, masih 3,22%,” terang Ernawan. 

Pelemahan Rupiah dan Kinerja Emiten

Lebih lanjut Ernawan menilai, sedikit banyak, pelemahan rupiah berdampak terhadap kinerja emiten. Dijelaskan, memang ada perusahaan yang punya eksposure utang atau raw material dalam US dolar, mereka akan menderita dengan pelemahan rupiah.

Tapi, ada juga perusahaan yang sifatnya eksportir. Itu mereka akan diuntungkan, atau ada juga perusahaan modal rupiah, cost of fund rupiah revenue juga rupiah, itu akan gak ada masalah. 

“Sedikit mau address masalah kenapa kita selalu terjadi pelemahan rupiah. Bukan salah Presiden sekarang, juga bukan salah Presiden yang dulu juga. Kalau kita lihat, semuanya suka disalahin ke pemerintah, tapi sebenarnya, struktur ekonomi kita yang membuat kita secara natural, mata uang kita akan melemah terhadap US dolar. Karena inflasi kita secara natural selalu lebih tinggi dari inflasi di US. Itu dari hitungan dengan interest parity dan purchasing power parity. Kalau kita hitung mata uang dua negara dibandingkan dengan bunga dan inflasi di dua negara tersebut, kita akan temukan yang inflasi-nya lebih tinggi, ya mata uangnya akan melemah dari yang inflasi lebih rendah. Nah, itu secara natural berlaku seperti itu,” jelas Ernawan. 

Jadi, lanjutnya, kalau kita mau mata uang kita menguat terhadap US dolar misalnya, kembali lagi ke Rp3.000 per US Dolar, kalau kita mau era-nya seperti itu lagi, dari sekarang yang harus kita lakukan adalah upaya supaya bisa mendatangkan devisa dolar. Caranya dengan ekspor dan manufaktur. 

“Kalau kita sekarang ini kan konfigurasi ekonominya 50% konsumsi domestik. Selain itu banyak barangnya dari imported goods. Diolah sedikit di sini untuk menjadi barang jadi. Tapi komponen luarnya masih tinggi, entah industri farmasi, bahkan staple food. Yang paling sederhana, tahu-tempe, kedelainya masih impor. Jadi, saat ini kita masih seperti itu, manufaktur kita orientasi-nya masih impor. Seharusnya kan kita bisa memproduksi barang sendiri, dikonsumsi oleh masyarakat kita sisanya kita ekspor. Nah, kalau itu yang terjadi, inflasi kita bisa bersaing dengan US bahkan mungkin lebih rendah karena infrastruktur juga dibangunkan oleh pemerintah. Lambat laun, rupiah kita akan menguat terhadap US dolar,” tutur Ernawan. 

“Tapi menurut saya, dalam kondisi sekarang yang mana pemerintah berusaha meningkatkan manufaktur dan mengubah pola konsumsi masyarakat ini, jangan terlalu import oriented seperti yang terjadi sekarang. Saya pikir, ke depannya akan baik. Tapi yang terpenting sekarang stabil saja lah dulu, sebelum kita menguat. Tapi jangan harapkan menguat drastis, karena menguat drastis pun buruk. Tiba-tiba jadi 5.000 per US dolar misalnya. Perusahaan kita kan ada yang dollar earning juga, nanti separuh dari mereka akan bermasalah juga. Yang terbaik adalah stabil dan menguat bertahap,” jelasnya.

Sikap Investor

Lebih lanjut Ernawan menyampaikan, karena faktor eksternal itu di luar kontrol siapa pun, isu apa saja bisa muncul.

“Mungkin isu berikutnya, Afrika Selatan atau Brasil mungkin. Ini akan terus mengguncangkan pasar, tapi kita harus lihat internally isu kita cuma satu, inflasi kita yang lebih tinggi dari US dolar. Itu kalau kita bisa atasi dengan infrastruktur yang dibangun, kita lebih menggunakan produksi dalam negeri, impor kita menurun, isu itu bisa di address,” ungkap Ernawan. 

Adapun secara fundamental ekonomi, saat ini kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari 2012, 2008, apalagi 1998.

Lantas, apa yang bisa dilakukan investor?

Menurut Ernawan, sebaiknya investor memudahkan investment proses-nya.

“Dia (investor - Red) percaya gak, dalam 10 tahun ke depan; Pertama, Indonesia nggak bubar, yang kedua, akan tumbuh paling tidak 5%, yang ketiga, inflasi akan lebih rendah, suku bunga akan stabil. Rupiah juga bukan jadi 35 ribu, 45 ribu gitu ya per satu dolarnya. Kalau percaya seperti itu, ya sudah, setiap ada pelemahan atau dia bisa membeli setiap bulan gradually buy dengan dolar cost averaging berapa dia mau investasi, beli saja tiap bulan,” jelas Ernawan. 

Ditambahkan, hari-hari di mana terjadi koreksi, dalam mindset investor itu seperti midnight sale di mal-mal.

“Kan mal penuh tuh, kalau hari biasa ada juga, tapi akan lebih penuh kalau midnight sale. Di kita pun begitu, ketika koreksi itu sumbernya dari tempat-tempat yang jauh, sifatnya sentimen, kita tahu negeri kita kuat, harusnya kita dobelin belinya. Jadi, misalnya tiap bulan kita rencanakan belinya berapa gitu ya, begitu ada koreksi, seperti kemarin tiba-tiba marketnya turun 5%, kita dobelin posisi kita di situ. Akhirnya kita selalu membeli di harga yang rata-rata secara keseluruhan, dan ketika misalnya capital market-nya sesuai dengan fundamental dari negara ini, dia akan lari,” tandas Ernawan.