Ajang AM IMF - WB 2018 Sebagai Momen Pembuktian Peran Sentral Indonesia di Kancah Dunia

Foto : Press Conference usai Rapat Koordinasi Panitia Nasional Annual Meetings IMF-World Bank 2018 (Istimewa)

Pasardana.id - Bulan Oktober 2018 akan menjadi salah satu bulan penting yang dinanti Indonesia, khususnya di Nusa Dua, Bali.

Mengapa? Karena pada tanggal 8 - 14 Oktober 2018 mendatang, akan terjadi pertemuan keuangan terbesar dunia yakni annual meetings Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dengan Bank Dunia (World Bank/WB).

Annual Meetings (AM) International Monetary Fund (IMF) - World Bank (WB) adalah sebuah pertemuan tahunan yang diselenggarakan rutin oleh Dewan Gubernur lembaga yang masuk ke dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.

Pertemuan akbar tersebut bertujuan untuk mendiskusikan perkembangan ekonomi dan keuangan global, serta isu-isu terkini, seperti pengurangan kemiskinan, pembangunan ekonomi internasional dan isu-isu global lainnya.

Kesempatan Langka

Menyandang status sebagai tuan rumah Annual Meetings IMF-World Bank 2018 tentu bukan suatu perkara yang mudah. Banyak prasyarat dan tahapan yang mesti dipenuhi untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tahunan tersebut, mulai dari pengajuan minat, penyerahan proposal, proses bidding, proses penilaian dari tim IMF dan Bank Dunia, hingga penetapan sebuah negara menjadi tuan rumah.

Setiap tiga tahun sekali, negara-negara dari berbagai belahan dunia belomba-lomba untuk dapat mendapatkan kehormatan tersebut. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat besarnya manfaat ekonomi bagi suatu negara yang terpilih menggelar “hajatan besar” tersebut.

Untuk kasus terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah, proses pengajuan sudah dilakukan sejak September 2014 lalu. Bersaing dengan Senegal dan Mesir kala itu, penetapan Indonesia sebagai tuan rumah baru bisa diputuskan pada Oktober 2015. Artinya, perlu waktu sekitar satu hingga dua tahun bagi lembaga keuangan dunia tersebut untuk melakukan serangkaian proses seleksi yang dilakukan secara ketat terhadap negara calon tuan rumah.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Indonesia mendapatkan suatu kehormatan dan kepercayaan besar untuk menyelenggarakan kesempatan langka ini.

Langkanya pertemuan tersebut juga dapat dilihat dari jumlah peserta yang hadir. Panitia Nasional mengklaim bahwa ajang AM IMF-WB 2018 akan dihadiri oleh 22 Kepala Negara, 189 Menteri Keuangan, 189 Gubernur Bank Sentral, lembaga internasional, CEO industri keuangan, investor, awak media, observer, dan pemangku kepentingan lain.

Terpilihnya Indonesia untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan AM IMF-WB 2018 menunjukkan adanya kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia karena mampu menyelenggarakan kegiatan internasional yang sangat besar dengan segala kompleksitas dan standar kualitas tinggi. Hal tersebut dapat mendorong persepsi positif Indonesia sebagai salah satu Meetings, Incentives, Conferences, and Events (MICE) Country utama.

Pertemuan Keuangan Terbesar di Indonesia

AM IMF-WB 2018 dapat dikatakan sebagai suatu pertemuan keuangan internasional terbesar yang pernah ditangani Indonesia. Dalam acara AM IMF-WB 2018 di Bali tersebut, jumlah negara yang terlibat mencapai 189 negara dengan total delegasi asing jauh lebih besar dari yang diperkirakan bisa mencapai 18.000 orang, termasuk:

  • Lebih dari 400 orang, seluruh Menteri Keuangan, Menteri Pembangunan dan Gubernur Bank Sentral
  • Sekitar 20 Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
  • Sekitar 5.000 pejabat tinggi dan delegasi resmi pemerintah dan bank sentral
  • orang senior manajemen, experts, dan staf IMF dan World Bank Group
  • 10.000 orang pengambil keputusan dan eksekutif senior dari organisasi internasional,lembaga keuangan internasional, sektor swasta, akademisi, lembaga think tank, dan NGO
  • 2.000 jurnalis dan awak media internasional

Dengan jumlah jurnalis yang begitu besar, dapat dipastikan bahwa dunia akan melihat Bali dan Indonesia selama satu minggu pada bulan Oktober mendatang. Hal inilah yang merupakan wujud dari besar dan prestiusnya pertemuan tersebut bagi Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Oleh sebab itu, wajar jika Indonesia terus berbenah untuk mempersiapkan acara bersejarah tersebut dengan mengalokasikan dana sekitar Rp810 miliar. Namun satu hal yang perlu diingat, berbagai anggaran untuk persiapan tersebut pada dasarnya akan kembali lagi ke dalam kas negara, sebab pemerintah hanya sekadar menanggung persiapan untuk para tamu yang hadir, dan bukan membayar keperluan tamu.

Di sisi lain, jika melihat manfaat yang akan diperoleh Indonesia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, total dana yang dianggarkan Pemerintah demi mensukseskan pertemuan tersebut merupakan sebuah investasi yang positif untuk Indonesia ke depannya.

Memaksimalkan Potensi Indonesia

Penyelenggaraan AM IMF-WB 2018 diharapkan tidak hanya menjadikan simbolis kesuksesan bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik, di samping itu, tentu diharapkan Indonesia dapat memperoleh manfaat lain dari pertemuan besar tersebut.

Keputusan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah AM IMF-WB 2018 merupakan sebuah hadiah spesial dari seluruh masyarakat dunia terhadap potensi yang dimiliki Indonesia. 15.000 peserta AM IMF-WB 2018 tentu menjadi tamu yang dapat menguntungkan ekonomi Bali dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Adapun dalam jangka pendek, dengan perkiraan tamu lebih dari 15.000 orang yang akan berkunjung, tentunya akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi Pulau Dewata karena tentunya mereka akan melakukan transaksi ekonomi di Bali, berupa meeting, makanan dan minuman, pariwisata, dan sebagainya.

Sementara dalam jangka panjang, Indonesia bisa menjadikan momentum pertemuan akbar tersebut untuk mempromosikan ke mata dunia bahwa Tanah Air memiliki berbagai destinasi wisata dan pusat penyelenggaraan event internasional yang indah. Selain itu, Indonesia juga dapat memperlihatkan perkembangan serta kemajuan dari berbagai bidang yang sudah dicapainya.

Dengan diselenggarakannya AM IMF-WB 2018, publik dunia otomatis akan tertuju pada Indonesia, khususnya Bali. Sehingga sektor pariwisata Bali bisa semakin bergairah. Gelaran acara kelas dunia ini bisa dijadikan sebagai ajang promosi investasi Indonesia, khususnya Bali di sektor pariwisata. Selain itu, dalam kesempatan ini juga bisa menjadi ajang bertukar pikiran mengenai isu-isu sosial terkini yang menjadi sorotan.

Oleh karena itu, baik pemerintah dan otoritas moneter tentu memiliki peran penting untuk mensukseskan AM IMF-WB 2018. Pemerintah dan otoritas moneter dapat menunjukkan berbagai pencapaian yang telah dicapainya baik dari segi keamanan, politik, hingga yang paling utama dalam bidang ekonomi.

Selain itu, ajang pertemuan ekonomi dan keuangan dunia terbesar tersebut juga menjadi momentum untuk menunjukkan kemajuan ekonomi Indonesia setelah krisis 20 tahun yang lalu. Baik dari sisi leadership maupun komitmen dalam penanganan isu-isu global.

Teranyar, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,27 persen year on year (yoy) pada kuartal kedua 2018 menjadi salah satu bukti solidnya ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang kurang kondusif.

Selain itu, peran masyarakat lokal juga penting untuk turut mensukseskan pertemuan akbar tersebut. Masyarakat Indonesia, Bali pada khususnya yang menjadi lokasi utama perhelatan acara tersebut dapat menunjukkan ciri khas budaya orang Indonesia yang terkenal akan keramah-tamahannya. Karena selama tanggal 8 - 14 Oktober 2018 mendatang, akan menjadi waktu yang sangat menentukan, apakah Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang akan selalu dikenang?

Penulis : Arief Budiman