Rupiah Terdepresiasi, Seperti Apa Solusi?

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika yang terjadi sejak beberapa pekan lalu, membuat galau sejumlah kalangan.

Dalam sebuah diskusi baru-baru ini di Jakarta, Head of Economics and Research Finance and Corporate Service UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja menilai, sebenarnya bukan masalah nilai rupiah bergerak ke kisaran Rp14 ribu, mengingat secara persentase depresiasi baru sebesar 3,3 persen, dimana hal tersebut lebih baik dibanding India dan Philipina.

Namun, penguatan mata uang US Dolar ini terjadi terhadap hampir semua mata uang utama dunia, seperti Euro, Australian Dolar, dan Singapura Dolar.

Menurut Enrico, beberapa hal yang membuat dolar menguat adalah kenaikkan suku bunga The Fed, serta tax cut dan perang dagang, yang membuat dolar Amerika diminati. 

Adapun secara internal, menurut Enrico, kondisi Indonesia masih cukup baik. Ia melihat, secara ketahanan dalam hal perekonomian, kondisi (Indonesia) saat ini jauh lebih solid dibanding 10 atau 20 tahun yang lalu. Hal ini dapat dilihat dari peringkat layak investasi yang diberikan oleh 3 rating agensi.

“Yang mungkin dikhawatirkan adalah pembayaran deviden dan utang luar negeri. Utang luar negeri sendiri terbagi dua, utang pemerintah dan utang swasta. Kekhawatiran yang mungkin terjadi di masyarakat adalah apakah dengan kondisi hutang seperti sekarang dan penguatan dolar Amerika, apakah kondisi fundamental akan terganggu?” demikian dituturkan Enrico.

Lebih jauh Enrico menjelaskan, bahwa pasar memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunganya 2 kali lagi pada tahun ini.

Ia menambahkan, bila membahas masalah The Fed maka akan sangat tergantung pada Presiden AS saat ini. Disisi lain, banyak yang memperkirakan Donald Trump hanya akan menjabat satu periode, sehingga pada tahun 2020 kemungkinan suku bunga The Fed akan kembali diturunkan.

Sementara dari sisi pasar modal, Enrico Tanuwidjaja menjelaskan masih banyak yang memandang Indonesia sebagai emerging market, jadi kalau pun ada net sell bukan berarti langsung ditukar ke dolar, tetapi ada kemungkinan dialihkan ke pasar obligasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono menjelaskan, bahwa pelemahan nilai tukar terhadap Dolar Amerika bukan hanya terjadi di Indonesia, namun dirinya mencatat level Rp14 ribu merupakan level psikologis yang membuat masyarakat tidak nyaman, karena mengingatkan pada krisis tahun 1998, sehingga harus dijaga jangan sampai terlampaui terlalu jauh.

Menurut Tony, Bank Indonesia (BI) sebaiknya jangan berpikir untuk menyelesaikan hal ini dengan intervensi, mengingat cadangan devisa merosot cukup signifikan.

“Menaikkan suku bunga merupakan opsi yang harus segera ditempuh. Negara lainpun juga sudah melakukan hal tersebut, mengingat hampir semua negara sudah meninggalkan suku bunga rendah dan inflasi rendah. Bila terlambat merespon maka akan menimbulkan biaya tambahan seperti terkurasnya cadangan devisa, yang nantinya malah akan membuat pasar semakin mengkhawatirkan,” terang dia.

Lebih lanjut, Tony juga mengakui bahwa kenaikkan suku bunga rupiah memang tidak serta merta akan membuat rupiah menguat, namun setidaknya dapat mengurangi beban cadangan devisa.

“Indonesia memang masih memiliki pertahanan berupa Chiangmai Innitiative. Namun permasalahannya, Indonesia belum pernah mengaktifkan opsi tersebut, sehingga belum terukur. Selain itu, belum tentu pasar akan bereaksi positif terhadap langkah tersebut. Sehingga, daripada menunggu sesuatu yang belum jelas, lebih baik menggunakan opsi yang ada saat ini, yaitu menaikkan suku bunga rupiah,” tandasnya.