Sektor dan Industri apa yang menarik di 2016?

foto : ilustrasi (ist)

By Ryan Filbert
@RyanFilbert

Tahun 2015 sudah kita lewati dan tentunya memberikan sebuah torehan sejarah baru bagi pasar modal Indonesia. Pergerakan harga saham sepanjang tahun 2015 berada dalam teritori negatif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada tahun 2015 diharga 5233 dan pada akhir tahun 2015 ditutup pada level 4593. Artinya mengalami penurunan sebesar 12% ditahun 2015.

Lalu, ketika tahun 2016 telah kita sambut, kira-kira dari 9 sektor saham yang ada di Indonesia yaitu sektor Agri, Minning, basic industry, miscellaneous industry, consumer goods, property and construction, infrastructure, finance dan trade service yang manakah yang baik untuk kita perhatikan dan pilih bagi komposisi portofolio investasi kita?

Dari grafik yang kita lihat bahwa selama 2 tahun pergerakan indeks sektoral diatas kita dapat mengetahui bahwa sektor yang masih mengalami penurunan terus menerus adalah sektor pertambangan.

Dan ada sektor yang memang terus bertahan dan dapat meredam penurunan pasar yang terjadi di tahun 2015 adalah sektor consumer dan finance, sehingga dapat kita artikan bahwa ketika konsumsi masih terjaga dan sektor keuangan masih bergairah kondisi perekonomian negara kita di tahun 2015 masih cukup baik dan kodusif.

Salah satu sektor yang pergerakannya mengalami penguatan cukup menarik dimana bergerak dari titik terendah dan mendaki adalah sektor basic industry. Sektor basic industry & chemicals berisi sub sektor Cement Ceramics, Glass and Porcelain ,Metal and Allied Products, Chemicals. Plastics & Packaging, Animal Feed, Wood Industries, dan Pulp and Paper.

Di tahun 2016 akan menjadi menarik pada beberapa sektor, dimana sektor finance atau keuangan akan mendapatkan sebuah hembusan positif dari penurunan suku bunga acuan, selain itu dengan mengalami penurunan suku bunga mak akan mendongkrak kinerja perusahaan untuk melakukan ekspansi termasuk sektor properti.

Yang perlu diperhatikan juga bahwa sektor yang terus menerus mengalami penurunan yaitu pertambangan atau minning juga akan semakin murah, meski memang masih beresiko untuk menjadi lebih murah kita juga perlu menyadari bahwa dari sekian banyak perusahaan dalam sektor pertambangan terdapat perusahaan yang masih bisa bertahan dari penurunannya selama ini.

Bagi sebagian orang yang merasa ingin mendapatkan potensi keuntungan besar maka dapat mulai mengalokasikan hingga 50% portfolionya pada sektor yang telah mengalami penurunan dalam seperti sektor pertambangan.

Sedangkan bagi sebagian orang yang merasa ingin mendapatkan kepastian dan menghindari diri dari resiko penurunan akan berinvestasi sedikit pada sektor pertambangan misalnya 10% namun dapat masuk kepada sektor yang cenderung mampu diatas kinerja indeksnya seperti sektor finance dan tetap memiliki sektor potensial lain yang ada ditengah-tengah seperti sektor infrastruktur maupun sektor property, building and building construction.

Namun selain fokus dalam memilih sektor yang berpotensi kita juga perlu memperhatikan bahwa tidak semua saham dalam sektor tersebut semuanya baik dan menarik untuk dimiliki.

Terkoreksinya saham di tahun 2015 membuat kita berkesempatan memiliki saham dengan harga yang murah namun berhati-hatilah salah memilih saham yang memang sudah murahan alias tidak bernilai.

Ryan Filbert merupakan praktisi dan inspirator investasi Indonesia. Ryan memulai petualangan dalam investasi dan keuangan semenjak usia 18 tahun. Aneka instrumen dan produk investasi dijalani dan dipraktikkan, mulai dari deposito, obligasi, reksa dana, saham, options, ETF, CFD, forex, bisnis, hingga properti. Semenjak 2012, Ryan mulai menuliskan perjalanan dan pengetahuan praktisnya. Buku-buku yang telah ditulis antara lain:Investasi Saham ala Swing Trader Dunia, Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana, Negative Investment: Kiat Menghindari Kejahatan dalam Dunia Investasi, dan Hidden Profit from The Stock Market, Bandarmology , dan Rich Investor from Growing Investment.
Di tahun 2015 Ryan Filbert menerbitkan 2 judul buku terbarunya berjudul Passive Income Strategy dan Gold Trading Revolution. Ryan Filbert juga sering memberikan edukasi dan seminar baik secara independen maupun bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).