Langkah Mudah Pensiun Muda (1)

Oleh Ryan Filbert
@RyanFilbert

 

Bagi sebagian orang pensiun adalah sebuah hal yang belum perlu dipikirkan bila belum mencapai usia 50 tahun. Entah darimana keyakinan itu berasal namun nampaknya hal itu terjadi akibat kisaran usia pensiun seseorang dalam bekerja antara usia 55 tahun hingga usia 65 tahun.

Terdapat beberapa hasil survei baik dari dalam dan luar negeri yang menarik mengenai pensiun, Manulife Investor Sentiment Index (MISI) membuat survei pada 500 orang dimana berdasarkan hasil survei ternyata mayoritas orang berharap bekerja lebih lama selama 12 tahun dari usia pensiun resmi, namun sayangnya hal itu tidak diiringi dengan kesiapan keuangan untuk membiaya masa pensiunnya.

Lah, lantas untuk apa bekerja lebih lama lagi dari masa pensiun resmi tapi tidak diiringi dengan kemampuan keuangan? Ya, inilah yang menjadi masalah, sehingga dari hasil survey MISI juga kita mendapati setidaknya 20% dari responden habis biayanya untuk membiayai kehidupan orang tuanya.

Sehingga bila sedikit lebih jeli kita akan mendapati bahwa memang perlu kita akui bahwa ketidaksiapan seseorang dalam mempersiapkan masa depannya akan berakibat bagi generasi selanjutnya dan juga hal tersebut sebenarnya diakibatkan karena menyepelekan atau tidak memahami bahwa pensiun adalah sebuah kondisi yang perlu sebuah persiapan dan pemahaman.

Lalu pensiun lebih awal adalah sebuah hal yang baik, mengapa demikian? Karena artinya memberikan kesempatan bagi generasi yang lebih muda untuk bisa berkarir lebih lanjut bukan?

Lagipula, menikmati kehidupan ketika pensiun dengan kemampuan keuangan apalagi dalam usia yang masih relatif lebih muda akan jelas lebih baik dibandingkan harus menunda-nunda.

Sebenarnya masa pensiun akan menjadi lebih baik bila dipersiapkan sedini mungkin, misalnya ketika saat baru masuk bekerja, bagaiamana caranya?

 

Langkah Pertama Kenalilah Biaya Hidup

Banyak orang dalam menjalani kehidupan dan berpenghasilan, sangat teliti dalam menerima uang yang menjadi pendapatan, namun tidak pernah mencatat segala jenis pengeluaran.

Dengan mencatat seberapa besar pengeluaran akan membuat kita menjadi orang yang lebih cermat dalam menggunakan uang, tidak bisa dipungkiri dengan kemajuan zaman membuat orang sering kehilangan kendali dalam pengeluarannya, jangankan sampai akhir bulan, baru minggu pertama setelah gajian pun uang sudah habis.

Catatlah secara rinci pengeluaran dan pemasukkan bulanan. Dan lakukan setiap saat hingga akhirnya kita bisa mendapati bagaimana kenaikan biaya hidup pun terasa padahal kita tidak menambah jumlah yang kita konsumsi.

Hal itu ada karena terdapat kenaikan harga barang-barang yang disebut inflasi.

 

Langkah Kedua Perbesarlah Jarak Pemasukkan dan Pengeluaran

Banyak orang yang setelah mencatat pengeluaran dan pemasukkannya menyadari bahwa pengeluarannya teramat besar, sehingga mulai berpikir mencari pendapatan tambahan.

Hal itu tidak salah, namun cara termudahnya sebenarnya adalah dengan mengurangi pengeluaran, dan memang biasanya diawal selalu dimulai dengan kata-kata ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Mau dikurangi yang mana lagi semuanya sudah terbaik.ââÅ¡¬

Dalam membelanjakan uang yang kita dapatkan setiap bulan, sebenarnya komponen yang harus diperhatikan terbagi menjadi beberapa bagian, konsumsi dan investasi serta tabungan.

Bagi sebagian orang dana yang didapatkan akan habis hanya konsumsi, bagi sebagian orang yang berhasil memperbesar jarak antar pengeluaran dan pemasukkan cenderung menggunakan tabungan sebagai tempat penyimpanan uang ââÅ¡¬ÃƒÆ’‹Å“sisanyaââÅ¡¬ÃƒÆ’¢Ã…¾¢.

Bagi golongan orang yang ingin memperjuangkan masa depannya seperti ingin memiliki dana pensiun maka seharusnya perlu memiliki alokasi pada investasi.

Dimana investasi dan tabungan seharusnya bukan menjadi ââÅ¡¬ÃƒÆ’‹Å“uang sisaââÅ¡¬ÃƒÆ’¢Ã…¾¢ melainkan harus dikedepankan lebih dahulu dari pengeluaran atas kebutuhan hidup.

 

Mari kita mulai mencatat segala pengeluaran dan pemasukkan kita mulai hari ini!

 

*Ryan Filbert merupakan praktisi dan inspirator investasi Indonesia. Ryan memulai petualangan dalam investasi dan keuangan semenjak usia 18 tahun. Aneka instrumen dan produk investasi dijalani dan dipraktikkan, mulai dari deposito, obligasi, reksadana, saham, options, ETF, CFD, forex, bisnis, hingga properti. Semenjak 2012, Ryan mulai menuliskan perjalanan dan pengetahuan praktisnya. Buku-buku yang telah ditulis antara lain: Investasi Saham ala Swing Trader Dunia, Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksadana, Negative Investment: Kiat Menghindari Kejahatan dalam Dunia Investasi, Hidden Profit from The Stock Market, Bandarmology , dan Rich Investor from Growing Investment.
Di tahun 2015 Ryan Filbert menerbitkan 2 judul buku terbarunya berjudul Passive Income Strategy dan Gold Trading Revolution. Ryan Filbert juga sering memberikan edukasi dan seminar baik secara independen maupun bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).