Seabad Panas Bumi Indonesia: PGE Luncurkan Buku ‘Menjaga Masa Depan Energi Bangsa: 100 Tahun Panas Bumi Indonesia’
Oleh: Corri

Foto: dok. PGEO
Pasardana.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) meluncurkan buku bertajuk “Menjaga Masa Depan Energi Bangsa: 100 Tahun Panas Bumi Indonesia” dalam rangkaian pembukaan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Peluncuran buku ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia dan diserahkan oleh Direktur Utama PGE, Ahmad Yani kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Perjalanan seabad panas bumi Indonesia bermula dari sumur KMJ-3 di Kamojang yang pada 1926 menyemburkan uap kering secara konsisten.
Peristiwa ini menjadi tonggak awal pengembangan panas bumi Indonesia.
Buku “Menjaga Masa Depan Energi Bangsa: 100 Tahun Panas Bumi Indonesia” menelusuri perjalanan tersebut, dari tonggak penting dan dinamika industri hingga peluang pengembangannya di masa depan.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani mengatakan, momentum satu abad panas bumi Indonesia menjadi bukti nyata bahwa energi ini memiliki peran strategis dalam mendukung kedaulatan energi nasional.
“Bagi PGE, perjalanan panjang ini menjadi fondasi untuk terus melanjutkan estafet pengembangan panas bumi sebagai sumber energi bersih yang andal, sekaligus memberikan manfaat yang semakin luas bagi Indonesia. Karena itu, buku ini hadir untuk merekam perjalanan tersebut serta mengabadikan berbagai tonggak dan pembelajaran yang telah membentuk perkembangan panas bumi Indonesia. Buku ini juga menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang perlu terus dilanjutkan,” ujar Ahmad Yani, seperti dilansir dalam siaran pers, Kamis (20/8).
Sementara itu, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan dukungan pemerintah untuk terus mendorong percepatan pengembangan panas bumi sebagai salah satu sumber energi strategis bagi Indonesia.
“Menurut pandangan saya, pengembangan potensi panas bumi tidak boleh terbatas pada peningkatan kapasitas kelistrikan semata. Lebih dari itu, pemanfaatannya harus diperluas agar mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya serta membuka lapangan kerja baru. Oleh karena itu, panas bumi tidak boleh dipandang sebatas untuk kebutuhan listrik saja, melainkan harus memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” ujar Bahlil.
Sebagai sumber energi lokal, panas bumi memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada energi nasional. Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), salah satu yang terbesar di dunia.
Dengan karakteristik yang mampu menyediakan listrik secara stabil dan tidak bergantung pada kondisi cuaca, panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung percepatan transisi energi Indonesia.
Tantangan ke depan adalah menjadikan pengalaman satu abad pengembangan panas bumi sebagai pijakan untuk membuka babak baru.
Upaya tersebut perlu didorong melalui inovasi, penguasaan teknologi, investasi, dan kolaborasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi panas bumi sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama panas bumi dunia.
Penulis buku “Menjaga Masa Depan Energi Bangsa: 100 Tahun Panas Bumi Indonesia”, Anif Punto Utomo mengatakan, bahwa buku ini lebih dari sekadar catatan sejarah.
“Menjaga Masa Depan Energi Bangsa: 100 Tahun Panas Bumi Indonesia adalah penghormatan kepada para perintis sekaligus ajakan untuk melanjutkan estafet perjuangan mereka. Tepat 100 tahun lalu, sebuah mata bor menembus tanah Kamojang, menandai babak awal perjalanan panas bumi Indonesia. Kini, target menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas terpasang panas bumi terbesar di dunia pada 2030 menjadi penanda memasuki babak baru sekaligus langkah awal perjalanan satu abad mendatang. Sebab, panas bumi bukan sekadar sumber daya alam yang perlu dimanfaatkan, melainkan juga amanah yang harus dijaga agar terus menerangi negeri hari ini, esok, dan bagi generasi mendatang,” ujar Anif Punto Utomo.
Sebagai world leading geothermal producer, PGE melanjutkan perjalanan tersebut melalui pengembangan portofolio panas bumi di Indonesia.
PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW).
Kapasitas tersebut terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Portofolio tersebut mencakup sekitar 70 persen kapasitas panas bumi terpasang nasional.
Dengan posisi tersebut, PGE memiliki peran strategis untuk menjaga warisan panas bumi Indonesia sekaligus mendorong pengembangannya secara disiplin dan berkelanjutan.




