See More

22 Mei 2026, 11:41

22 Mei 2026, 11:31

22 Mei 2026, 11:15

22 Mei 2026, 10:47

22 Mei 2026, 10:39

22 Mei 2026, 10:16
gejolak harga minyak dunia|konflik AS-Iran|geopolitik|Investor pasar modal|volatilitas market|aset safe haven
Oleh: Harry

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id - Lonjakan harga minyak global kembali memantik kekhawatiran pasar keuangan dunia.
Melansir Reuters, harga minyak Brent Crude Oil untuk pengiriman Juni melonjak sekitar 4,5% pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, menembus kisaran di atas US$90 per barel—level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang semakin sulit dikendalikan.
Ketegangan meningkat setelah muncul laporan bahwa United States Central Command (CENTCOM) tengah menyiapkan opsi serangan militer “singkat dan kuat” terhadap infrastruktur strategis Iran.
Langkah ini disebut sebagai respons atas mandeknya negosiasi terkait konflik Iran yang tak kunjung menemukan titik temu.
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz semakin mengkhawatirkan.
Jalur sempit namun vital ini selama ini menjadi arteri utama distribusi sekitar 20% pasokan minyak global.
Kini, aktivitas pelayaran dilaporkan terganggu berat akibat blokade de facto dan meningkatnya risiko keamanan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius akan terganggunya rantai pasok energi dunia.
Analis pasar modal menilai lonjakan harga ini bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan refleksi dari risiko geopolitik yang semakin nyata.
“Pasar saat ini sedang memasukkan premi risiko yang sangat tinggi. Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup atau terganggu dalam waktu lama, harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel dalam waktu dekat,” ujar Reza Priyambada, analis senior pasar modal, belum lama ini.
Senada, riset analis Pasardana.id, menyebut bahwa pasar sedang berada dalam fase “panic pricing”.
Ketidakpastian terkait langkah militer AS dan respons Iran menciptakan spekulasi ekstrem di pasar komoditas.
“Investor tidak hanya khawatir soal pasokan saat ini, tetapi juga skenario eskalasi lanjutan. Risiko konflik terbuka akan membuat supply shock jauh lebih besar dibandingkan krisis sebelumnya,” sebut riset analis Pasardana.id.
Reaksi pasar pun terlihat jelas.
Bursa saham di kawasan Asia dan Eropa cenderung melemah, sementara aset safe haven seperti emas mengalami penguatan.
Sektor energi menjadi satu-satunya yang mencatatkan kenaikan signifikan, didorong oleh ekspektasi lonjakan pendapatan dari harga minyak yang lebih tinggi.
Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Segala perkembangan terkait negosiasi maupun aksi militer berpotensi memicu pergerakan harga yang ekstrem dalam waktu singkat.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, pelaku pasar kini berada dalam posisi defensif, menanti kepastian arah konflik.
Satu hal yang jelas, selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda—khususnya di sekitar Selat Hormuz—harga minyak global akan tetap berada dalam tekanan naik, dengan risiko lonjakan lebih lanjut yang sulit dihindari.
Pandangan pribadi Penulis: Harry Tanoso, Editor in Chief Pasardana.id