BPH Migas Pastikan Stok Pasokan BBM Indonesia Aman

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik menyikapi gejolak perang di Timur Tengah.

Pemerintah Indonesia dinilai sudah memiliki solusi sebagai alternatif untuk menutupi kekurangan pasokan BBM impor dari Timur Tengah. 

Hal ini menjadi salah satu benang merah dari event Energy Iftar Forum 2026 yang diadakan Energy Hub di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

“Sekarang sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah), Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik,” kata anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3).

Fathul menilai, penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebenarnya bukan masalah besar yang harus ditakuti Indonesia.

Ia mengatakan, saat ini ada sekitar 81 persen impor minyak mentah Indonesia diambil dari negara yang tidak terdampak atau terlibat konflik di Timur Tengah.

Fathul menjelaskan, Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria sebanyak 34,07 juta barel sejak April 2025 sampai Maret 2026 atau 25 persen dari volume impor.

Kemudian dari Angola, sebanyak 28,50 juta barel (21%), dan dari negara lainnya 47,40 juta barel (35%).

Sedangkan dari Arab Saudi 28,50 juta barel atau 19 persen. 

“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman,” ujar Fathul. 

Lebih lanjut Fathul juga mengimbau masyarakat agar tidak salah persepsi terhadap informasi cadangan BBM di Indonesia hanya cukup untuk 20 hari ke depan.

Jumlah tersebut, menurut dia, karena kondisi daya tampung yang dimiliki Pertamina masih terbatas.

Akibatnya, ketersediaan BBM di storage Pertamina tidak berarti pasokan BBM Indonesia sedikit. 

Diketahui, saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional dari Pertamina hanya 6,10 juta KL atau 67 persen.

Sedangkan non Pertamina ada 3,06 juta KL atau 33 persen.

“Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman hingga setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026,” katanya.  

Diketahui, ajang Energy Iftar Forum 2026 merupakan ruang dialog strategis antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan praktisi untuk memperkuat koordinasi serta merumuskan rekomendasi kebijakan dalam menghadapi lonjakan kebutuhan energi menjelang Idul Fitri. 

Melalui kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan, sektor energi Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan ketahanan sistem energi, serta memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara optimal di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Forum ini menghadirkan berbagai tokoh dan praktisi di bidang energi.

Hadir sebagai pembicara, Ketua Umum ASPEBINDO, Dr Anggawira; Direktur Jenderal Minyak dan Gas ESDM, Laode Sulaeman; Direktur Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Prasetyo; Presiden Direktur PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo; Direktur Eksekutif ReforMiner, Komaidi Notonegoro; Direktur Perencanaan Pengelolaan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso; Sr Expert Project, CPM - Direktorat Infrastruktur dan Logistik PT Pertamina Persero, Putut Agung Nugroho;  dan Tommy Jamail sebagai praktisi energi.