Performa Keuangan Meningkat, Surge Pastikan Fundamental Terjaga
Pasardana.id - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (IDX: WIFI) atau Surge membukukan pendapatan usaha bersih meningkat 100,99% pada kuartal III-2025.
Angkanya menjadi Rp1,01 triliun, dari sebelumnya Rp504,95 miliar.
Merujuk data laporan keuangan yang disampaikan pada laman BEI, Jumat (12/12/2025), Surge juga berhasil mengontrol beban pokok pendapatan di angka Rp325,42 miliar.
Sehingga laba bruto per September 2025, naik hingga 124,16% jadi Rp689,48 miliar dari sebelumnya Rp307,58 miliar di periode sama tahun 2024.
Perseroan juga mengontrol beban umum dan administrasi di angka RpRp155,42 miliar.
Menariknya, perseroan membukukan pendapatan lain-lain sebesar Rp40,18 miliar.
Sehingga laba usaha emiten dengan kode WIFI itu naik 127,18% jadi Rp574,24 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp252,77 miliar.
Selain itu, perseroan membukukan penghasilan keuangan senilai Rp40,21 miliar, sedangkan pada tahun lalu pos ini hanya tercatat Rp446 juta.
Dengan biaya keuangan senilai Rp204,59 miliar.
Maka laba sebelum pajak penghasilan WIFI per 30 September 2025 adalah Rp409,85 miliar, tumbuh 127,77% dari Rp179,94 miliar di tahun lalu.
Dengan berbagai catatan ini, maka laba neto periode berjalan 30 September 2025, Surge mengalami lonjakan menjadi Rp330,18 miliar naik 108,13% dari periode sama tahun 2024 hanya Rp158,64 miliar.
Dari laba itu bisa di lihat bahwa Laba neto periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 71,03% ke Rp260,09 miliar dari hanya Rp152,07 miliar.
Untuk laba neto periode berjalan yang diatribusikan kepada non pengendali juga naik jadi Rp70,09 miliar dari hanya Rp6,56 miliar.
Dengan demikian, maka laba per saham dasar WIFI periode ini mencapai Rp105,54 per lembar naik jauh jika dibandingkan periode Tahun lalu yang hanya Rp64,54 per saham dasar.
Adapun total aset WIFI melonjak sebesar 331,32% menjadi Rp12,54 triliun pada 30 September 2025, naik signifikan dari periode 31 Desember 2024 yang hanya Rp2,91 triliun.
Sementara ekuitas Grup mengalami kenaikan signifikan sebesar 749,90% dari Rp969,84 miliar menjadi Rp8,18 triliun, dengan liabilitas juga meningkat sebesar 124,69% menjadi Rp4,35 triliun.
Penurunan Harga Saham Bukan soal Fundamental
Di sisi lain, penurunan harga WIFI telah menjadi sorotan.
Namun, Direksi Surge, Shannedy Ong menekankan, bahwa koreksi ini tidak boleh disalahartikan sebagai penurunan fundamental bisnis, melainkan sebagai penyesuaian pasar sementara akibat perubahan struktur modal yang mendukung fase ekspansi perusahaan yang sangat agresif.
Berikut adalah pandangan strategis dari manajemen yang menjelaskan fenomena jangka pendek ini.
Lonjakan Beban Bunga: Investasi di Depan (Capex) Kunci penjelasannya terletak pada utang obligasi WIFI yang melonjak signifikan dari Rp600 miliar menjadi Rp2,5 triliun.
Dana segar ini didapatkan sepenuhnya untuk membiayai ekspansi, membuat total aset perusahaan meroket hingga Rp12,5 triliun.
"Meningkatnya beban bunga yang tercermin dalam Laporan Laba Rugi Kuartal III-2025 memang menekan laba bersih kami dalam jangka pendek. Namun, perlu ditekankan bahwa ini adalah 'Biaya Pertumbuhan' (Cost of Growth), bukan kerugian," kata Shannedy Ong.
Dia juga menjelaskan, dana Rp2,5 triliun ini adalah modal kerja produktif yang kami tanamkan di depan untuk mematangkan infrastruktur jaringan baru.
Pasar bereaksi terhadap tekanan laba sesaat ini, tetapi kami yakin investasi ini adalah pondasi untuk 'panen raya' pendapatan di kuartal-kuartal mendatang.
Validasi Global Belum "Priced-In".
Kekuatan fundamental WIFI semakin teruji dengan masuknya raksasa telekomunikasi Jepang, NTT East, sebagai pemegang saham di anak usaha (IJE) pada Juli 2025.
"Kemitraan strategis dengan NTT East adalah validasi jangka panjang terhadap potensi dan kualitas aset WIFI," lanjut Shannedy.
Dia juga menjelaskan, masuknya NTT baru terjadi di awal Q3. Sinergi operasional, transfer teknologi, dan efisiensi jaringan tidak terjadi dalam semalam.
Pasar belum sepenuhnya menghargai valuasi dari kemitraan ini karena dampaknya ke bottom line membutuhkan waktu inkubasi 6 hingga 12 bulan.
"Ini adalah katalisator pertumbuhan masa depan, bukan sekadar suntikan dana sesaat," tuturnya
Shannedy Ong pun mengajak investor untuk melihat gambaran besar.
Koreksi harga saat ini mencerminkan sikap wait-and-see investor yang menunggu bukti bahwa beban bunga besar dari obligasi dapat dikonversi menjadi kenaikan pendapatan dan ROE (Return on Equity) yang sepadan.
"Koreksi saham WIFI saat ini adalah fenomena yang wajar dan jangka pendek, karena kami sedang berada di 'fase menanam' yang sangat agresif. Kami telah mengamankan pendanaan besar, aset kami tumbuh 4x lipat, dan kami didukung mitra global sekelas NTT East," ucap dia.
Dia pun menegaskan, jika profitabilitas sedikit tertekan beban bunga sebelum 'panen raya' dari kapasitas jaringan baru ini dimulai, Surge meminta investor untuk fokus pada fundamental yang semakin kuat dan prospek jangka panjang perusahaan.

