See More

17 Mei 2026, 12:43

17 Mei 2026, 12:24

16 Mei 2026, 20:29

16 Mei 2026, 11:30
16 Mei 2026, 10:59

15 Mei 2026, 12:47
GIAA|garuda indonesia|Merger|erick thohir|pelita air|dirut pertamina|Simon Aloysius Mantiri
Oleh: Ronal

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id Kabar baru datang dari rencana merger atau penggabungan dua maskapai penerbangan pelat merah, yakni Pelita Air dan Garuda Indonesia (IDX: GIAA).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan kabar bahwa proses konsilidasi antar kedua belah pihak masih tetap berjalan.
Menurutnya, seluruh proses dari merger ini akan dilaporkan kepada BPI Danantara untuk mendapatkan penilaian dan keputusan final.
"Semua proses masih berjalan terus, kita laporkan ke Danantara juga untuk bisa ada penilaian sekaligus keputusan," ujar Simon di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11).
Dirinya menambahkan, bahwa Pertamina sebagai pemegang saham Pelita Air saat ini terus menjalin komunikasi dengan pihak Garuda Indonesia agar aksi korporasi ini berjalan sesuai ketentuan berlaku.
"Ya, pembicaraan sudah kita rintis, tapi tentunya mengikuti langkah-langkah yang sudah ada saat ini, termasuk penilaian-penilaian dari internal kita, penilaian dari internal Pelita Air, begitu juga ke Danantara untuk kemudian nanti finalisasinya," imbuhnya.
Sebelumnya, rencana merger Pelita Air dan Garuda Indonesia ini pertama kali dibeberkan Simon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (11/9/2025).
Simon menyebut, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga reputasi perusahaan dan memperkuat kepercayaan stakeholder melalui advokasi yang kuat dan komunikasi yang efektif.
Jauh sebelumnya, kabar akan bergabungnya Pelita Air dengan Garuda Indonesia memang sudah mencuat sejak 2023 lalu.
Kala itu, Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, konsolidasi maskapai pelat merah dilakukan untuk efisiensi, sebagai upaya menurunkan biaya logistik sehingga semakin meringankan dunia bisnis di Indonesia.
Erick mendorong agar efisiensi terus menjadi agenda utama pada perusahaan- perusahaan pelat merah.
Maka, setelah merger dilakukan pada Pelindo di tahun 2021, akan dilanjutkan ke BUMN klaster lainnya, yakni maskapai penerbangan.
"BUMN terus menekan logistic cost. Pelindo dari empat (perusahaan) menjadi satu. Sebelumnya, logistic cost mencapai 23 persen, sekarang jadi 11 persen. Kita juga upayakan Pelita Air, Citilink, dan Garuda merger untuk menekan cost ," ungkap Erick dalam keterangannya, Selasa (22/8/2023).