Investor Terbiasa Transaksi Daring, BNI Sekuritas Mulai Kurangi Gerai Fisik

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – PT BNI Sekuritas telah meninjau ulang perjanjian kerja sama di sejumlah jaringan kemitraan dan sepakat untuk tidak meneruskan kerjasama operasional dengan sebagian jaringan kemitraan, seiring berakhirnya perjanjian kerjasama.

Namun, BNI Sekuritas tetap mempertahankan aktivitas operasional di sejumlah gerai yang tersebar di seluruh Indonesia dengan tujuan untuk memberikan pilihan layanan secara non digital untuk nasabah.

Direktur Utama BNI Sekuritas, Agung Prabowo mengatakan, strategi hybrid diambil perusahaan untuk menyikapi bergesernya preferensi sebagian besar nasabah ke pilihan transaksi secara daring.

Di sisi lain, sebagian nasabah masih tetap dibantu oleh tenaga Wakil Perantara Pedagang Efek BNI Sekuritas yang berpengalaman dalam bertransaksi.

“Digitalisasi saat ini menjadi salah satu kunci kemajuan bisnis perusahaan efek yang dapat membantu perusahaan efek dalam menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Melalui digitalisasi, BNI Sekuritas juga mampu melahirkan berbagai peluang baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah nasabah,” jelas dia kepada media, Senin (01/8/2022).

Ia menambahkan, BNI Sekuritas berupaya untuk memperkuat bisnisnya di bidang Perantara Pedagang Efek seiring dengan kebutuhan nasabah yang kini mulai beralih melakukan transaksi saham secara digital.

Ia pun mengakui, perkembangan teknologi telah mengubah preferensi nasabah dalam melakukan transaksi saham, yang mana mayoritas nasabah yang merupakan investor / stock trader lebih menyukai trading dengan menggunakan aplikasi online trading.

Hal ini ditunjukkan oleh data kuartal pertama di tahun 2022, yang mana lebih dari 80 persen transaksi di jaringan BNI Sekuritas seperti Cabang maupun Galeri Investasi dilakukan secara online oleh nasabah.

“Secara rinci, tercatat sekitar 70 persen nasabah BNI Sekuritas didominasi oleh generasi milenial, yang juga sudah mulai bertransaksi secara online. Hal ini didorong oleh kemudahan dan kecepatan dalam mengakses informasi melalui platform online trading, disamping biaya trading yang relatif lebih murah,” papar dia.

Berdasarkan data Kustodian SentralEfek Indonesia (KSEI), hingga Juni 2022, jumlah nasabah di pasar modal mencapai 9,112,677, atau mengalami kenaikan 21,68 persen dibandingkan tahun 2021 yang tercatat sejumlah 7,489,337 investor/nasabah.

Jumlah ini didominasi oleh nasabah milenial yang mencapai 59,72 persen dengan aset senilai total Rp49,94 triliun.