ANALIS MARKET (15/9/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Selasa, 14/09/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 40 poin atau +0.67% menjadi 6.129. Sektor energi, infrastruktur, teknologi, property, industrials, transportasi, konsumer siklikal, konsumer non siklikal, kesehatan, keuangan bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp404 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 6.094 – 6.171. Apabila ternyata data ekonomi hari ini tidak mampu memberikan kekuatan bagi pasar, koreksi akan sangat mungkin terjadi,” ungkap analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (15/9/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.SEBUAH SIKAP

Ditengah gegap gempita akan kehadiran musim Taper Tantrum, ternyata tidak membuat Bank Sentral Australia terlena seperti lagu Ikke Nurjanah. Pasalnya, kepala Bank Sentral Australia, Philip Lowe mengatakan bahwa tingkat suku bunga Bank Sentral Australia tidak akan dinaikkan dalam waktu yang lebih cepat karena perekonomian Australia masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulihkan perekonomian, ketenagakerjaan, dan Lowe sendiri mengamini bahwa tidak akan ada kenaikkan tingkat suku bunga sebelum 2024 mendatang. Lowe mengatakan bahwa dirinya masih bingung, kenapa pelaku pasar dan investor mengatakan bahwa tingkat suku bunga Bank Sentral Australia akan naik lebih cepat, baik itu tahun 2022 atau 2023 mendatang. Sejauh ini meskipun musim Taper Tantrum mulai dirasakan, namun data ketenagakerjaan dan inflasi masih berbeda beda. Tidak bisa disamakan dengan semua negara. Sejauh ini pelaku pasar dan investor mulai terlihat berspekulasi terhadap kenaikkan tingkat suku bunga Australia, karena adanya gap kesenjangan yang kian lebar terhadap pasar swap. Saat ini memang Bank Sentral Korea Selatan sudah menaikkan tingkat suku bunga dimana Selandia Baru akan mengikuti. Namun hal ini juga bukanlah alasan bahwa Bank Sentral Australia akan melakukan hal yang serupa. Tingkat bunga saat ini pun dianggap cukup oleh Lowe untuk menjaga pasar tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan, yang dimana kedua hal tersebut tampaknya tidak mudah karena penyebaran Covid 19 yang membuat mobilitas masyarakat di Australia mengalami lockdown. Sejauh ini, ditengah lockdown yang terjadi di Australia, tampaknya angka pengangguran akan kembali mengalami kenaikkan dari sebelumnya 4.6% pada bulan July, diperkirakan akan mengalami kenaikkan hingga 5% pada bulan August. Meskipun situasi dan kondisi tengah sulit, namun Bank Sentral Australia tetap akan melakukan Taper Tantrum seperti yang disampikan pada pertemuan Bank Sentral Australia kemarin. Mereka mulai mengurangi pembelian obligasi di pasar dari sebelumnya A$ 5 miliar menjadi A$ 4 miliar dan mendorong durasi lebih panjang hingga pertengahan bulan February tahun depan. Pemulihan bukanlah tidak terjadi, namun hanya sedikit tertunda dan semakin lebih lambat. Bank Sentral Australia sendiri mengatakan bahwa inflasi diperkirakan akan kembali ke kisaran 2% - 3%, yang dimana hal tersebut sebagai signal awal bagi Bank Sentral Australia untuk menaikkan tingkat suku bunga. Tidak hanya Australia yang merasakan hal yang sama pemirsa, namun China, German, hingga Amerika pun mulai mengalami perlambatan akibat penyebaran Covid 19 yang mulai meningkat yang dimana akan menyebabkan supply chain menjadi terganggu. Perekonomian Amerika diperkirakan akan berada di atas 5.8% pada kuartal 3, namun angka ini diperkirakan akan mengalami penurunan dari Q2 2021. Di China sendiri diperkirakan akan mengalami penurunan secara YoY dari sebelumnya 7.9% pada Q2 2021 menjadi 6.1%. Kami melihat sejauh ini khusus perekonomian China, mereka tidak hanya harus berjibaku terhadap Covid 19 tapi juga berjibaku terhadap tekanan keras dari pemerintah China yang mulai mengekang sebagaian industry mereka saat ini. Kami cukup khawatir perlambatan ekonomi akan jauh lebih cepat dari yang kami perkirakan karena variable Covid 19 merupakan sesuatu yang tidak pasti dan sesuatu yang tidak bisa terukur. Pemulihan terjadi, namun mungkin tidak akan secepat kemarin. Akan jauh lebih lambat, namun pemulihan akan terus berjalan. Sejauh ini inflasi diperkirakan masih akan terkendali, namun terganggungnya pasokan akan membuat harga mengalami kenaikkan yang akan mendorong inflasi menjadi tidak terkendali. Meskipun kami percaya kebijakan Bank Sentral selalu punya alat sakti untuk mengendalikan inflasi. Pemulihan perekonomian yang dimana kehilangan momentum namun inflasi mengalami kenaikkan akan membuat situasi dan kondisi kian pelik. Mengapa demikian? Pemulihan yang lemah akibat kehilangan momentum membuat para pembuat kebijakan memberikan stimulus, namun inflasi yang mengalami kenaikkan membuat pembuat kebijakan harus mengendalikannya. Tidak mudah, tapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sejauh ini nantinya semua akan kembali kepada prioritas pembuat kebijakan pemirsa, sejauh mana mereka memilih, sejauh itu pula mereka akan berkorban terhadap pilihan yang mereka buat. Sebelum kita akhiri, yuk kita membahas inflasi Amerika yang sudah keluar kemarin, memang dibawah proyeksi kami, namun tetap berada di atas ekspektasi. Data inflasi Amerika yang keluar memberikan sebuah gambaran bahwa pembatasan aktivitas masih akan mempengaruhi pergerakan perekonomian di Amerika, namun penurunan inflasi ini juga didorong oleh penurunan tarif penerbangan dan hotel yang dimana keduanya mengalami penurunan dibandingkan bulan August sebelumnya. Tidak hanya itu saja, harga mobil dan truck bekas juga mengalami penurunan sejak mengalami kenaikkan pada bulan February silam, hal ini yang memberikan dampak terhadap inflasi secara keseluruhan. Well, namun hal ini tidak menyurutkan kekuatan dari pemulihan ekonomi yang terjadi di Amerika.

2.DUDUK MANIS

Menjelang rilis data neraca perdagangan pergerakan IHSG cenderung di dominasi oleh penguatan, hal ini menjadi sedikit gambaran terkait optimisme terhadap rilis data tersebut. Tren dari surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus 2021 diproyeksikan lebih rendah dari surplus pada periode sebelumya. Namun secara garis besar, angka ekspor masih diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan angka impor. Perlambatan dari kinerja ekonomi di bulan Agustus dinilai sebagai dampak dari pengetatan aktivitas dan juga kegiatan masyarakat di sepanjang bulan Agustus. Di tengah kenaikan kasus dari varian delta, permintaan global masih terlihat cukup kuat. Berdasarkan konsensus yang dihimpun oleh Trading Economics pada bulan Agustus 2021, Ekspor diperkirakan tumbuh 37.15% YoY sedangkan impor diproyeksikan tumbuh 45.05% YoY. Naiknya harga komoditas yang diiringi dari naiknya permintaan dinilai menjadi penopang pertumbuhan ekspor di bulan Agustus 2021. Hal ini mengacu pada pertumbuhan industry di China yang terus bergerak positif, sehingga mendorong naiknya permintaan ekspor batu bara ke negara tersebut. Selain itu, kenaikan dari impor masih akan menjadikan perhatian dari pelaku pasar. Hal ini seiringan dengan melambatnya aktivitas produksi dan juga ekspansi dari industry manufaktur. Pengetatan aktivitas dari berlangsungnya PPKM level 3 – 4 memberikan dampak pada ketidakpastian aktivitas investasi dan juga produksi. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2021 di satu sisi juga masih berada di zona kontraksi yaitu 43,7, meskipun sedikit membaik dari posisi 40,1 pada Juli 2021. Untuk itu, kami memperkirakan tren surplus neraca dagang akan semakin mengecil menuju akhir 2021, seiring dengan pulihnya permintaan domestik akibat pelonggaran PPKM secara bertahap.