Dampak Kabut Asap, Menhub Sebut Ada Kerugian Maskapai Penerbangan

Foto : istimewa

Pasardana.id -  Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memonitor perkembangan yang terjadi akibat dampak asap di Wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa ada kerugian yang dialami oleh maskapai penerbangan.

Hal ini seiring dengan pembatalan penerbangan akibat kabut asap pada beberapa wilayah di Indonesia.

"Dampak dari kabut asap itu. Pasti ada kerugian karena ada delay kan. Delay itu bagi penerbangan itu kerugian. Kalau delay-nya lebih dari 2 jam itu kan mereka harus membatalkan ya. Ada kerugian tapi belum tahu berapa jumlahnya," ujarnya di Jakarta, Senin (16/9). 

Menhub juga mengatakan, masalah kabut asap berada di luar kendali stakeholder perhubungan. 

“Sehingga yang bisa kami lakukan adalah mengantisipasi penerbangan yang terdampak karena persoalan jarak pandang,” ujarnya.

Disampaikan Menhub, pihaknya mempunyai pengalaman bahwa kabut asap ini tidak lama. Namun jangka panjang tak ada satu instrumen yang bisa menyelamatkan satu kepekatan atau feasibility yang signifikan.

"Jadi harapannya kita memang ingin cara penyelesaian tidak adanya pembakaran hutan itu," ujar Menhub Budi.

Dia menambahkan bahwa paling terdampak kabut asap itu di daerah Pontianak, Kalimantan Barat. Pada daerah itu, sebabkan pesawat terbang harus extand atau tetap tinggal di bandara.

"Sedangkan untuk di bandara Samarinda kabut asap tidak setebal yang ada di Pontianak. Kami sedang melakukan evaluasi yang di Kalbar itu pada titik yang membuat operasional itu stagnasinya banyak. Kalau stagnasinya banyak sekali mungkin lebih baik kita tidak operasi ya. Tapi kalau Samarinda belum separah itu. Ada, tapi tidak separah itu," katanya.

Sementara itu, regulator penerbangan nasional sebelumnya telah mengimbau seluruh stakeholder penerbangan mengutamakan keselamatan pengguna jasa transportasi udara akibat sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di wilayah kalimantan dan sumatera.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti mengatakan, pihaknya selalu melakukan pemantauan dan terus berkoordinasi melalui Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) terutama yang memiliki wilayah kerja di Kalimantan dan Sumatera dengan operator bandara, AirNav Indonesia, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak-pihak sehingga segera menindaklanjuti apabila sebaran asap menggangu operasional penerbangan.

“Kami meminta operator penerbangan terutama yang menutup pelayanan penerbangan ataupun terdampak delay akibat karhutla, untuk sigap membantu mengkomunikasikannya kepada para penumpang dan memberikan pelayanan sesuai aturan yang berlaku. Menutup layanan penerbangan demi keselamatan pengguna jasa transportasi udara,” tutur Polana.

Sebelumnya, maskapai Garuda Indonesia membatalkan 12 penerbangan dari Jakarta ke beberapa wilayah di Kalimantan ataupun sebaliknya. Pembatalan dilakukan akibat kabut asap, Minggu (15/9).

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan mengungkapkan, keputusan tersebut mempertimbangkan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan khususnya dengan jarak pandang penerbangan yang terbatas yang berisiko terhadap keberlangsungan operasional penerbangan.

Keputusan itu, kata Ikhsan, juga berdampak terhadap sejumlah penerbangan Garuda Indonesia yang mengalami keterlambatan maupun pengalihan penerbangan.

"Berbagai antisipasi tersebut turut berdampak terhadap sejumlah rotasi penerbangan, untuk itu kami mengimbau penumpang untuk melakukan pengecekan secara berkala jadwal penerbangan mereka," kata Ikhsan.