S&P Turunkan Peringkat, Qatar Makin Terpuruk

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Krisis Timur Tengah yang berakhir dengan blokade beberapa negara Arab terhadap Qatar, menyebabkan negara minyak yang merupakan salah satu negara terkaya per kapita di dunia, dengan total aset sebesar 335 miliar dollar AS tersebut, kehilangan kepercayaan lembaga-lembaga internasional, khususnya yang terkait ekonomi dan finansial.

Lembaga Pemeringkat Internasional Standard & Poor's misalnya, pada Rabu (7/6/2017) lalu menurunkan peringkat utang Qatar, setelah mata uang Riyal jatuh ke level terendah dalam 11 tahun terakhir.

S&P menurunkan peringkat utang Qatar dari AA- menjadi AA dan menempatkan peringkat Qatar pada status CreditWatch dengan implikasi negatif. Artinya, ada kemungkinan penurunan peringkat yang lebih besar.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat lainnya, seperti Moody's Investors Service, menempatkan Qatar di level Aa3. Peringkat itu setara dengan peringkat S&P. Kemudian lembaga Fitch Ratings menempatkan Qatar pada peringkat AA.

Di pasar luar negeri, Riyal jatuh hingga premium 550 poin terhadap dollar AS. Penurunan ini merupakan yang terendah sejak Desember 2015, atau saat harga minyak dan gas turun.

Rendahnya prospek pasar Qatar menyiratkan Riyal akan terdepresiasi sekitar 1,5 persen selama 12 bulan ke depan. Hal itu juga menunjukkan kemungkinan arus keluar uang yang besar dari Qatar.

Dalam tiga hari terakhir, indeks saham Qatar jatuh 9,7 persen. Dengan perdagangan yang tinggi, menunjukan beberapa investor negara Teluk dan internasional berhasil mengeluarkan uang mereka.

Sebelum krisis yang berlangsung pekan ini, investor negara Teluk dan internasional hanya menguasai sekitar 9 persen dari pasar saham yang memiliki kapitalisasi sekitar 150 miliar dollar AS.

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Qatar akan melambat, tak hanya melalui penurunan perdagangan regional. Tapi karena profitabilitas perusahaan yang terganggu karena permintaan terputus, investasi terhambat, dan berkurangnya kepercayaan investasi," kata S&P, dikutip Reuters, kemarin.