Resmi Melantai di BEI! PRDL Siap Tancap Gas Kuasai Pasar Alat Kesehatan Nasional
Oleh: Harry

foto: YouTube IDX
Pasardana.id - PT Prodia Diagnostic Line Tbk yang merupakan bagian dari Prodia Group, yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro yang menyediakan solusi sistem diagnostik terintegrasi, resmi mencatatkan saham perdana (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham PRDL, Kamis (09/7).
Dalam sambutannya, Dr. Cristina Sandjaja, Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk menjelaskan, Perusahaan yang didirikan pada tanggal 16 April 2010 ini hadir sebagai mitra strategis bagi laboratorium klinik, rumah sakit, puskesmas, dan institusi kesehatan di seluruh Indonesia.
Produk diagnostik perseroan terdiri dari berbagai produk kimia klinik, hematologi, imunologi, diagnostik molekuler, point-of-care testing (POCT), sementara layanan purna jual komprehensif meliputi instalasi, pemeliharaan, dan kalibrasi instrumen.
“Perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia melalui berbagai produk diagnostik berkualitas unggul,” ujar Dr. Cristina Sandjaja, M.Kes., MM.
Selanjutnya disampaikan, perusahaan merupakan pionir produsen reagen kimia dengan pengalaman produksi selama 14 tahun sejak Agustus 2012.
Saat ini, perseroan memiliki lebih dari 1.083 SKU produk aktif, menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota, serta telah digunakan oleh lebih dari 7.600 pelanggan di Indonesia.
Jaringan tersebut mencakup sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta puluhan institusi kesehatan lainnya.
Lini produk utama PRDL juga memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70% sehingga memperkuat daya saing produk perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan alat kesehatan nasional dan dominasi produk asing.
Melihat fundamental bisnis yang terus bertumbuh serta prospek industri yang masih terbuka lebar, PRDL optimistis dapat memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, dan memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional, dengan menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga final Rp120 per saham.
Prospek industri alat kesehatan juga dinilai masih sangat menjanjikan.
Diketahui, Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada 2026 serta menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau 140 juta penduduk.
Didukung lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit, industri diagnostik in vitro diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan.
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," papar Dr. Cristina Sandjaja, M.Kes., MM.
Dari sisi kinerja, PRDL juga menunjukkan pemulihan yang solid menjelang IPO.
Sepanjang 2025, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp74,4 miliar, meningkat 27% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih tumbuh 70,7% menjadi Rp16,9 miliar, sementara EBITDA meningkat 66,9% menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan penguatan profitabilitas dan efisiensi operasional.
Di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Dari sisi valuasi, pada prospektus yang disampaikan mengacu pada laporan keuangan 2025 yang telah diaudit, dengan harga final tersebut PRDL menawarkan price to earnings ratio FY2025 pada 8,61x, yang dinilai sangat kompetitif dibandingkan emiten lainnya di sektor kesehatan, terutama dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja Perseroan yang terus menunjukkan tren positif.
Sebagai bagian dari ekosistem Prodia, Perseroan berkomitmen untuk menghadirkan solusi diagnostik yang mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih baik, serta berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia, dengan mengedepankan kualitas, inovasi, dan pelayanan prima.
Berdasarkan prospectus awal yang diterbitkan pada 18 Juni 2026 lalu, Perusahaan menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru dalam Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dengan kisaran harga Rp100-Rp120 per saham.
Jumlah saham yang ditawarkan setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan demikian, nilai emisi IPO PRDL mencapai maksimal Rp62,748 miliar.
Perseroan juga mengalokasikan program Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak maksimal 36,603 juta saham atau 7% dari saham yang ditawarkan kepada karyawan yang memenuhi persyaratan.
Adapun seluruh dana dari penawaran saham PRDL kepada publik ini adalah untuk kegiatan operasional perusahaan, yakni:
-Sebesar Rp35 milyar untuk pelunasan pokok fasilitas kredit pada Bank BCA dan Bank Panin,
-Sekitar 28,92% untuk belanja modal termasuk pada pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, system software, relayout area produksi, dan penambahan AHU Lab Biomolekuler,
-Sisanya sekitar 8,51% untuk modal kerja termasuk pada pembelian bahan baku, biaya product & development, dan selling & marketing.




