See More

02 Juli 2026, 20:20

02 Juli 2026, 17:22

02 Juli 2026, 16:43

02 Juli 2026, 16:42

02 Juli 2026, 16:16

02 Juli 2026, 16:03
ERAA|ERAL|PT Erajaya Swasembada Tbk|PT Sinar Eka Selaras Tbk|Bagi Dividen|aksi korporasi|kinerja perusahaan
Oleh: Dadag

Foto: Istimewa
Pasardana.id - Emiten ritel dan distribusi perangkat elektronik, PT Erajaya Swasembada Tbk (IDX: ERAA), bersama anak usahanya, PT Sinar Eka Selaras Tbk (IDX: ERAL), sama-sama membagikan dividen tunai dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang digelar berdekatan.
ERAL lebih dulu menggelar RUPS pada Selasa (23/6/2026) dan menyetujui dividen Rp41,5 miliar atau Rp8 per saham.
Enam hari berselang, pada Senin (29/6/2026), perusahaan induknya, ERAA menyetujui dividen Rp389,62 miliar atau Rp25 per saham.
Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id menilai, momentum RUPS Grup Erajaya tahun ini memberikan pesan menarik bagi pasar.
Menurut Hendra, ketika induk dan anak usaha sama-sama membagikan dividen dalam waktu berdekatan, sinyal pertama yang muncul adalah grup masih mampu menghasilkan arus kas operasional yang solid.
"Dividen pada dasarnya distribusi atas laba yang telah dihasilkan. Keberanian membagikan dividen menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap kesehatan keuangan perusahaan," ujar Hendra.
Meski begitu, Hendra mengingatkan investor kini tidak lagi sekadar melihat besar kecilnya dividen, melainkan apakah perusahaan tetap punya ruang cukup untuk membiayai ekspansi.
Selama kas kuat, ekspansi terdanai tanpa menambah tekanan utang berlebih, dan imbal hasil tetap mengalir ke pemegang saham, dividen justru menjadi sinyal kualitas arus kas yang terjaga.
"Yang dihargai pasar bukan hanya royal membagi dividen, melainkan kemampuan menciptakan kas yang berulang dan berkelanjutan," ucapnya.
Pembagian dividen ERAA ditopang penjualan bersih konsolidasi yang menembus Rp76,6 triliun sepanjang 2025, angka yang sudah mencakup kinerja seluruh anak usaha termasuk ERAL.
Dari penjualan tersebut, laba kotor tercatat Rp8,35 triliun dengan margin laba kotor 10,9%.
Pada Kuartal I 2026, penjualan bersih ERAA naik 41,1% YoY menjadi Rp22,4 triliun.
Di sisi anak usaha, ERAL membukukan penjualan Rp6,49 triliun sepanjang 2025, tumbuh 34,1% YoY, dengan Same Store Sales Growth (SSSG) 20,1%.
Hendra menilai, SSSG di level itu menunjukkan toko yang sudah beroperasi pun masih mampu meningkatkan penjualan, indikator yang lebih berkualitas dibanding pertumbuhan dari pembukaan gerai baru.
"Artinya, permintaan konsumen terhadap produk active lifestyle masih kuat dan daya beli di segmen itu relatif terjaga," katanya.
Langkah ERAA menghadirkan XPENG di bisnis kendaraan listrik dan CHAGEE di sektor food and beverage, menurut Hendra, memperlihatkan upaya membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih beragam.
Ia menyebut, Erajaya tengah bertransformasi dari sekadar distributor produk teknologi menjadi perusahaan yang membangun ekosistem gaya hidup.
"Diversifikasi ini dinilai dapat memperpanjang siklus pertumbuhan sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis yang sangat dipengaruhi siklus pergantian produk. Sentimen positif lain dapat datang dari ekspansi ke luar Pulau Jawa, seiring meningkatnya daya beli dan adopsi teknologi di kota lapis kedua dan ketiga," lanjut Hendra.
Memasuki usia ke-30, Hendra justru melihat tantangan Erajaya kian kompleks.
Dengan penjualan yang telah mencapai Rp76,6 triliun, perusahaan menghadapi apa yang ia sebut tantangan skala, dimana fokus bergeser dari sekadar mengejar omzet menjadi memastikan pertumbuhan itu menghasilkan laba berkualitas.
"Manajemen harus mampu membuktikan merek baru berkontribusi terhadap laba bukan sekadar menambah portofolio bisnis," ucap Hendra.
Pada akhirnya, Hendra menilai, keberhasilan Erajaya pada dekade berikutnya bukan lagi soal besarnya penjualan, melainkan seberapa efisien perusahaan mengubahnya menjadi laba dan arus kas.