Mirae Asset Sekuritas|investment grade|Standard and Poor’s (S&P) Global Ratings|Standard and Poors (S&P)|Kredit Rating Indonesia|pertumbuhan ekonomi|Fitch Ratings|moody's

Rating Indonesia Tetap Investment Grade, Tapi Investor Diminta Waspada 'Badai' Baru

Oleh: Harry

15 Juli 2026, 10:45
Rating Indonesia Tetap Investment Grade, Tapi Investor Diminta Waspada 'Badai' Baru

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi sinyal positif bagi pasar.

Namun demikian, investor dinilai tetap perlu mencermati berbagai tantangan makroekonomi yang masih membayangi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2026.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan keputusan S&P menunjukkan fundamental fiskal Indonesia masih relatif terjaga, terutama dengan tetap dipertahankannya batas defisit APBN sebesar 3% terhadap PDB sebagai jangkar kebijakan fiskal.

"Penegasan peringkat investment grade oleh S&P memberikan keyakinan bahwa kondisi fundamental Indonesia masih cukup kuat. Namun, investor juga perlu melihat bahwa tantangan ke depan tidak hanya berasal dari kondisi fiskal, tetapi juga dari tekanan eksternal dan perlambatan permintaan domestik," ujar Rully, dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7).

Menurut Rully, berbeda dengan S&P yang mempertahankan outlook stabil, Fitch Ratings dan Moody's masih memberikan outlook negatif terhadap Indonesia karena menilai ketidakpastian kebijakan serta risiko terhadap fiskal dan sektor eksternal masih tinggi.

Namun, Mirae Asset melihat risiko utama saat ini bukan penurunan peringkat kredit, melainkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang masih berlanjut.

"Kami melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi S&P yang meningkat hingga di atas 6% dalam beberapa tahun ke depan masih cukup optimistis. Kenaikan suku bunga yang agresif, pelemahan Rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta mulai melambatnya permintaan domestik berpotensi membatasi laju pertumbuhan ekonomi," jelas Rully.

Lebih lanjut Rully menambahkan, ruang pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal diperkirakan tetap terbatas karena komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3% dari PDB.

Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset tetap mengedepankan strategi investasi defensif dengan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas sehat, dan mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar.

"Kami masih melihat BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai pilihan utama karena memiliki fundamental yang relatif kuat untuk menghadapi ketidakpastian pasar," ujar Rully.

Sementara itu, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa mengatakan tekanan terhadap pasar keuangan global juga masih dipengaruhi meningkatnya kembali risiko geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Jessica, kenaikan harga minyak Brent hingga sekitar USD83 per barel berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan mempertahankan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

"Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko inflasi global sehingga memperkuat ekspektasi suku bunga higher for longer. Kondisi tersebut berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan," ujar Jessica.

Meski demikian, Jessica menilai penegasan kembali status investment grade Indonesia oleh S&P tetap menjadi faktor positif yang dapat mendukung minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN), khususnya tenor pendek hingga menengah, selama kondisi geopolitik tidak kembali memburuk secara signifikan.

Berita Terkini

See More