See More

17 Mei 2026, 12:43

17 Mei 2026, 12:24

16 Mei 2026, 20:29

16 Mei 2026, 11:30
16 Mei 2026, 10:59

15 Mei 2026, 12:47
harga Emas Batangan|World Gold Council (WGC)|ETF emas
Oleh: Corri

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id - Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 dari World Gold Council (WGC) mengungkapkan, bahwa total permintaan emas global (termasuk OTC) mencapai 1.231 ton pada kuartal pertama, meningkat 2% secara tahunan (y/y).
Meski volume tumbuh moderat, nilai permintaan melonjak ke angka rekor US$193 miliar, naik 74% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di seluruh dunia, investor ritel terpikat oleh momentum harga dan daya tarik emas sebagai aset aman (safe-haven), mendorong permintaan emas batangan dan koin naik 42% (y/y) menjadi 474 ton.
Permintaan di Tiongkok melonjak 67% (y/y) ke rekor 207 ton, jauh melampaui rekor kuartalan sebelumnya sebesar 155 ton pada Q2 2013.
Pasar Asia lainnya, termasuk India, Korea Selatan, dan Jepang, juga mencatatkan peningkatan pembelian emas batangan dan koin, yang turut berkontribusi pada pergeseran struktural yang sedang berlangsung dalam permintaan emas global.
Tren ini juga didukung oleh pertumbuhan kuat di AS dan Eropa, yang masing-masing naik 14% dan 50%.
Di Indonesia, permintaan emas batangan dan koin tumbuh pesat sebesar 47% secara tahunan (y/y).
Peningkatan ini mencerminkan tren global di mana status emas sebagai safe-haven menarik minat investor yang khawatir terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi.
Secara historis, emas telah terbukti sebagai salah satu instrumen lindung nilai krisis (crisis hedge) paling andal bagi masyarakat Indonesia.
Selama Krisis Finansial Asia 1997–1998, emas membantu mempertahankan daya beli masyarakat saat Rupiah terdepresiasi tajam, pola yang terus berulang setiap terjadi pelemahan mata uang dan pasar tertekan.
Pada tahun 2025, performa emas mengungguli mayoritas saham, baik saham domestik maupun global, serta obligasi dalam denominasi Rupiah.
Sementara pada Q1 2026, emas naik 14% dalam Rupiah, di saat pasar saham domestik terkoreksi hingga 13%.
Di luar periode krisis, emas juga berperan sebagai sumber imbal hasil jangka panjang yang stabil dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 15% per tahun dalam Rupiah selama 20 tahun terakhir.
Analisis WGC menyimpulkan, bahwa alokasi emas sebesar 2,5% saja dapat meningkatkan kualitas portofolio investor Indonesia dengan mengurangi risiko konsentrasi dan memperkuat diversifikasi.
Membangun Fondasi: Indonesia Bersiap Sambut Pertumbuhan ETF Emas Fisik
Permintaan ETF emas yang didukung fisik tetap positif pada Q1 dengan peningkatan kepemilikan global sebesar 62 ton.
Peningkatan ini terutama didorong oleh berlanjutnya kinerja kuat yang tercatat di bursa-bursa Asia, yang menambah 84 ton pada kuartal ini.
Arus keluar dana yang cukup besar di bulan Maret, terutama dari ETF yang tercatat di AS, sehingga meredam momentum awal tahun yang semula sangat kuat.
Seiring meningkatnya permintaan global terhadap ETF emas fisik, tren serupa mulai terbentuk di Indonesia.
Meski masih berada di tahap awal, perkembangan regulasi terbaru menunjukkan momentum yang kuat.
Pertumbuhan pasar emas digital, peluncuran Bullion Ecosystem Development Roadmap 2026–2031, serta regulasi ETF emas fisik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas akses investasi emas bagi masyarakat luas.
Dalam media briefing di Jakarta, Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, menyampaikan, “Situasi geopolitik global terus mendorong investor menjadikan emas sebagai safe-haven. Di Indonesia, kepercayaan ini tidak hanya tercermin pada permintaan fisik, tetapi juga pada evolusi pasarnya. Pertumbuhan platform digital dan inisiatif bullion banking adalah langkah krusial dalam menghapus hambatan akses dan memperkuat kepercayaan pasar.”
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia telah lama menunjukkan minat terhadap produk keuangan yang sesuai prinsip syariah.
Emas, dengan sifatnya yang berwujud (tangible) dan tidak berbasis bunga, dinilai sangat selaras dengan prinsip keuangan syariah.
“ETF yang didukung dengan emas fisik ketika dirancang sesuai prinsip Syariah akan selaras dengan preferensi investasi di Indonesia. Hal ini membuka peluang besar untuk menjangkau basis investor Muslim yang signifikan. Ekosistem emas berbasis Syariah yang terus berkembang akan memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen pelindung kekayaan jangka panjang,” tambah Shaokai, seperti dilansir dalam siaran pers, Rabu (13/5).
Kenaikan Harga Mengubah Pola Permintaan Emas Seiring Meningkatnya Pembelian oleh Bank Sentral dan Produksi Tambang di Indonesia
Di sisi lain, volume permintaan perhiasan turun tajam 23% (y/y) menjadi 300 ton sebagai respons terhadap tingginya harga.
Penurunan terjadi di seluruh pasar utama, seperti Tiongkok (-32%), India (-19%), Timur Tengah (-23%), dan Indonesia (-20%).
Namun, secara nilai, pengeluaran untuk perhiasan justru meningkat, menandakan konsumen tetap bersedia berinvestasi pada emas meski harga berada di level rekor.
Analisis pasar menunjukkan, bahwa sebagian permintaan perhiasan telah beralih ke permintaan emas batangan dan koin, terutama di pasar seperti Tiongkok dan India, ketika perhiasan dapat berfungsi sebagai instrumen investasi alternatif.
Bank sentral terus mendukung permintaan dengan menambah 244 ton ke cadangan global pada Q1.
Bank Indonesia berkontribusi dengan menambah 2 ton emas ke dalam cadangan devisanya, sejalan dengan pola pembelian bank sentral di kawasan yang lebih luas.
Volume pembelian melampaui angka pada kuartal sebelumnya maupun rata-rata lima tahun terakhir.
Padahal, terjadi peningkatan penjualan oleh beberapa lembaga sektor publik, termasuk Bank Sentral Republik Turki, Bank Sentral Federasi Rusia, dan Dana Minyak Negara Republik Azerbaijan (SOFAZ).
Aktivitas pembelian ini menegaskan peran unik emas sebagai aset cadangan utama yang sangat penting di tengah turbulensi pasar yang ekstrem.
Total pasokan emas naik 2% (y/y) menjadi 1.231 ton.
Produksi tambang mencetak rekor kuartal pertama baru, didorong oleh peningkatan signifikan di Indonesia (+19%) menyusul pemulihan produksi di tambang Batu Hijau pasca ekspansi fasilitas pengolahan (mill expansion).
Sementara itu, aktivitas daur ulang hanya tumbuh moderat sebesar 5% meskipun harga tinggi, menunjukkan respons pasokan yang terbatas.
“Volatilitas emas meningkat pada 2026, dengan harga sempat menembus di atas US$5.400/troy ons pada Januari. Momentum harga dan risiko geopolitik terus mendorong permintaan investasi khususnya di Asia, sementara pembelian oleh bank sentral mengimbangi penjualan. Ke depan, ketidakpastian geopolitik diperkirakan akan tetap menjadi pilar pendukung permintaan emas. Permintaan perhiasan diperkirakan tetap tangguh meskipun harga tinggi, sementara pasokan dari tambang diperkirakan akan tumbuh secara moderat, meskipun mungkin menghadapi kendala pasokan energi,” komentar Louise Street, Senior Markets Analyst World Gold Council.