energi|amerika serikat|impor|rusia|bahlil lahadalia|Crude Oil|Minyak Mentah
Oleh: Ronal

Ilustrasi
Pasardana.id Pemerintah Indonesia telah menjajaki rencana pembelian minyak mentah (crude) serta LPG dari Rusia.
Meski begitu, kerja sama RI dengan Amerika Serikat (AS) di sektor energi tak terdampak dan tetap berjalan normal.
Saat menyampaikan penjelasannya di pelataran Istana Merdeka, Kamis (16/4) kemarin, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, bahwa kebutuhan minyak mentah dalam negeri mencapai sekitar 300 juta barel per tahun.
Karena itu, pasokan harus dipenuhi dari berbagai negara termasuk dari AS dan Kremlin (Rusia), demi menjaga ketahanan energi nasional.
Bahlil menekankan, bahwa keputusan impor didasarkan pada pertimbangan keuntungan bagi negara.
"Pertanyaan kemudian, apakah dengan kita membeli crude dari Rusia. Kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain, termasuk dengan Amerika? Saya katakan, bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi, semuanya kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan," ucap Bahlil.
Lebih lanjut Bahlil juga telah melaporkan hasil pertemuan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin di bidang energi serta Menteri Energi Rusia kepada Presiden Prabowo.
Menurut dia, hasil pembahasan dengan pihak Rusia berjalan positif dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas di sektor energi.
"Kita akan mendapat pasokan crude(minyak mentah) dari Rusia, dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita," katanya.
Dirinya kembali mengungkapkan, bahwa RI membuka peluang kerja sama impor LPG dari Rusia.
Meski hal tersebut masih memerlukan beberapa tahap pertemuan lanjutan.
"Insya Allah kita juga akan mendapat support (dukungan), tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua-tiga tahap, tetapi kalau crude-nya saya pikir sudah, sudah hampir final," pungkasnya.