Pemerintah Sudah Amankan Pasokan Energi dari Luar Timur Tengah
Pasardana.id - Sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran, Pemerintah Indonesia telah mengamankan pasokan energi dari berbagai sumber di luar Timur Tengah.
Hal tersebut diungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang mengatakan, bahwa sejumlah alternatif pasokan energi berasal dari kerja sama perdagangan dengan AS serta akses pasokan yang dimiliki oleh PT Pertamina dari Venezuela.
"Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, (5/3).
Airlangga bilang, pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi global yang sulit diprediksi.
Ia mengaku pemerintah Indonesia saat ini lebih siap menghadapi ketidakpastian dengan belajar dari lonjakan harga energi akibat konflik Rusia dan Ukraina.
Menurut Airlangga, kondisi tersebut dapat dilihat dari dua sisi.
Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga subsidi energi agar tidak memberatkan masyarakat.
Namun di sisi lain, kenaikan harga komoditas juga dapat meningkatkan penerimaan negara.
"Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik," tuturnya.
Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak penuh dari dinamika konflik Timur Tengah terhadap ekonomi.
“Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan dokumen kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan AS, Indonesia berkomitmen melakukan pembelian komoditas energi dari AS senilai sekitar 15 miliar dolar AS.
Nilai tersebut mencakup impor liquefied petroleum gas (LPG) sebesar 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah sebesar 4,5 miliar dolar AS, serta bensin hasil kilang sebesar 7 miliar dolar AS.

