Ketua DEN Ungkap Skenario Pemerintah Hadapi Efek Konflik Timur Tengah

Foto : istimewa

Pasardana.id – Ketuan Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan membayangkan jika konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dalam waktu dekat ini semakin besar, maka diproyeksikan harga minyak mentah global bisa melonjak tajam hingga 150 dollar AS per barrel.

Untuk itu, pemerintah harus sudah menyiapkan berbagai kemungkinan yang terjadi terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3) lalu, Luhut bilang, pemerintah menyusun tiga skenario utama yang menggambarkan kemungkinan arah harga minyak dunia, bergantung pada perkembangan konflik di kawasan tersebut dalam satu hingga dua minggu ke depan.

"Kami datang dengan berbagai skenario, dan kita lihat perkembangan dalam 1-2 minggu ke depan. Jadi saya kira selama Lebaran, semua akan baik-baik," ujarnya.

Menurut Luhut, setiap skenario menggambarkan tingkat eskalasi konflik yang berbeda, mulai dari perang yang membesar, konflik berkepanjangan, hingga meredanya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Dalam skenario paling berat, perang diperkirakan meningkat dalam satu hingga dua pekan mendatang sehingga harga minyak berpotensi melonjak ke kisaran 110 dollar AS hingga 150 dollar AS per barrel, atau sekitar Rp 1.815.000 sampai Rp 2.475.000 per barrel.

Dimana dalam skanario berat tersebut, perang digambarkan akan melibatkan langsung Iran terhadap aset Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.

Selain itu, kondisi di Selat Hormuz berpotensi ditutup lebih dari tujuh hari yang dapat memicu lonjakan biaya asuransi kapal dan gangguan distribusi energi global.

Situasi juga dapat diperparah oleh serangan besar kelompok proksi serta kegagalan proses transisi politik yang diharapkan terjadi di Iran.

"Kemudian juga kalau kita lihat, eskalasi ini ke gagal total Dewan Transisi, karena mereka berharap akan terjadi transisi di Iran. Tapi kalau itu sampai gagal terus Pak, ya itu juga tidak mudah untuk mengatasinya. Tapi saya tanya daripada mereka, mereka optimis itu akan terjadi, perlu kita cermati saja," bebernya.

Selain skenario tersebut, pemerintah juga memproyeksikan kemungkinan konflik berlangsung lebih lama tanpa eskalasi besar.

Dalam kondisi ini harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran 80 dollar AS hingga 110 dollar AS per barrel, atau sekitar Rp 1.320.000 sampai Rp 1.815.000 per barrel.

Dalam situasi konflik berkepanjangan itu, ketegangan diperkirakan memicu pembatasan akses di Selat Hormuz, serangan presisi terbatas yang terus berlangsung, negosiasi yang berjalan lambat, serta sanksi yang diperketat terhadap Iran.

Pada saat yang sama, Iran diperkirakan akan memulihkan sebagian kapasitas rudal dan drone mereka.

Sementara itu, skenario ketiga adalah deeskalasi konflik.

Jika ketegangan militer menurun atau tercapai gencatan senjata, produksi dan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah diperkirakan kembali normal.

Dalam kondisi tersebut, harga minyak dunia diproyeksikan turun ke kisaran 65 dollar AS hingga 80 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.072.500 hingga Rp 1.320.000 per barrel.

"Harga minyak Brent kalau kita lihat juga akan menurun di sini. Dan tadi Menko Perekonomian sudah jelaskan bahwa kita punya keuntungan harga CPO dan semua juga naik," ungkap Luhut.

Meski menyiapkan berbagai skenario, DEN menilai kondisi ekonomi nasional saat ini masih relatif terkendali.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan geopolitik global sambil menjaga stabilitas kebijakan fiskal.

"Kondisi semua tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Kita tetap waspada, kita memantau terus perkembangan di luar. Tapi tadi juga mengenai APBN juga saya pikir kami koordinasi dengan Kementerian Keuangan," kata Luhut.

Pemerintah juga, sambung Luhut, masih memiliki ruang kebijakan untukmengantisipasi dampak ekonomi dari gejolak geopolitik tersebut, termasuk kemungkinan penyesuaian defisit anggaran secara hati-hati jika situasi memburuk.

"Saya kira fiskal juga masih sangat prudent untuk kita menaikkan juga budget defisit, juga saya kira perlu kita pertimbangkan hati-hati tentu kita siapkan. Tapi kapan dilakukan, saya kira kita lihat perkembangan situasi," tuturnya.